Kemerdekaan Yang Semu

Merdeka, Semu
An-Najah.net – Tauhid, merupakan kemerdekaan yang hakiki. Kemerdekaan yang disuarakan ‎manusia itu baru sebatas kemerdekaan dalam konteks antar bangsa. Mengapa demikian? Karena ‎Bangsa Indonesia tidak sudi tunduk kepada bangsa Belanda. Bangsa Korea tidak mau tunduk ‎kepada bangsa Jepang. Demikianlah, fakta yang terjadi. ‎

Bila direnungkan dengan seksama, kemerdekaan ini masih semu, belum hakiki. Sebab penjajahan ‎itu tak hanya antar bangsa, bisa juga sesama internal bangsa. Antara yang kaya terhadap yang ‎miskin. Antara yang kuat terhadap yang lemah. Antara penguasa terhadap rakyat jelata. Semua ‎dalam lingkup satu bangsa. ‎

Baca juga: Kaki Tangan Penguasa Dzalim

Kemudian datanglah Islam yang menghapus segala macam penghambaan sesama manusia, baik ‎internal bangsa maupun antar bangsa. Sehingga kemerdekaan yang hakiki itu adalah at-Tauhid.‎

Merdeka dari Belitan Hamba

Kemerdekaan hakiki adalah ketika setiap individu manusia merdeka dari orang lain, tak ada yang ‎terkebiri haknya dan terpasung kehendaknya oleh kekuatan atau kekuasaan orang lain. Dia hanya ‎terikat oleh hubungan timbal balik dalam sebuah transaksi sejajar antar manusia, bukan hubungan ‎yang tak berimbang oleh sebab keterpaksaan yang sunyi.‎
Ketika ada orang yang menikmati kemerdekaan berlebihan, pasti ada orang lain yang terpasung ‎kemerdekaannya sebagai akibat tidak meratanya kemerdekaan pada setiap orang. Kemerdekaan ‎antar manusia itu ibarat aliran air bercabang, jika lebih banyak mengalir ke satu arah pasti ‎terkurangi pada arah lain. ‎

Ketika ada yang membunuh orang lain, namun hukumannya bukan balas bunuh, tapi hanya ‎penjara 10 tahun, maka si pembunuh mendapatkan kemerdekaan overdosis karena ia masih bisa ‎hidup meski telah menghentikan kehidupan orang lain, sementara korban terkebiri ‎kemerdekaannya karena kematian yang tak berbalas. ‎

Karenanya, hukum ciptaan manusia niscaya akan merampas kemerdekaan; satu pihak menjajah ‎kemerdekaan orang lain, dan itu dianggap legal konstitusional berdasarkan hukum buatan ‎manusia tersebut. ‎

Hakikat Kemerdekaan

Berbeda dengan hukum Islam. Siapa yang membunuh, ia harus dibalas bunuh oleh pengadilan. Ia ‎merampas kehidupan orang lain, maka kehidupan dirinya harus pula dirampas. Impas dan ‎Sepadan. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman: ‎
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang ‎yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita ‎dengan wanita…(QS. Al-Baqoroh: 178)‎
Masing-masing mendapat porsi kemerdekaan yang sama. Maka, hukum penjara untuk pembunuh ‎adalah penjajahan dan penghambaan antar manusia, dan hukum qishas adalah kemerdekaan. ‎Itulah mengapa hukum jahiliyah disebut dengan hukum Thaghut ‎

Dakwah tauhid mengajak semua manusia berdiri sejajar di hadapan Allah Ta’ala laksana prajurit ‎yang siap menerima titah (perintah) apapun dari komandan. Sesama manusia hubungannya hanya ‎saling mengisi dan berbagi peran dalam rangka mencapai misi bersama secara organisatoris, bukan ‎saling merenggut kemerdekaan. ‎

Memang ada yang menjabat ketua, sekretaris dan seterusnya, tapi itu hanya seperti jamaah shalat. ‎Imam tak bisa keluar dari aturan baku gerakan shalat. Jika ia melakukannya, justru ia yang akan ‎diganti dengan imam lain. Imam shalat tidak merampas kemerdekaan makmum, tapi hanya ‎memimpin mereka untuk rapi dalam menghamba kepada Allah Ta’ala. ‎
Kemerdekaan manusia paling banyak dirampas oleh para raja dan penguasa. Baik cara ‎merampasnya dengan kasar pakai tangan besi, maupun dengan konstitusi legal nan halus melalui ‎pembahasan para wakil rakyat. ‎

Saudaraku, ingatlah, selagi yang merumuskan konstitusi (aturan ketatanegaraan) adalah manusia, pasti akan ‎melahirkan perampasan kemerdekaan meski terbungkus argumen indah. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber ‎: Majalah An-Najah, edisi 129, hal. 48, 49‎
Penulis ‎: Abdullah‎
Editor  ‎: Ibnu Alatas‎