Kenapa Hati Terbalik?

malam pertama suami isteri 1Pernahkah Anda merasa malas menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah? Terasa lebih berat daripada saat berangkat menuju tempat olahraga. Pernah Anda merasa berat melaksanakan ketaatan lainnya, namun merasa fun melaksanakan aktifitas dunia? Jika pernah merasa demikian maka waspadalah! bisa jadi hati Anda seperti hatinya orang-orang munafik.

Allah SWT menjelaskan fenomena ini dalam firman-Nya:

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah SWT kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisa: 142)

Itulah contoh fenomena hati yang telah kotor, penuh noda, atau dikunci mati dari hidayah, atau telah dibalik oleh Allah SWT. Sehingga tidak memiliki kepekaan terhadap perkara yang baik atau yang buruk. Bagi pemilik hati ini, semua masalah sama saja, yang baik adalah apa yang dipandang baik oleh nafsunya. Di sinilah kebenaran akan ditimbang sesuai selera.

Kenapa Hati Terbalik?

Banyakperkara yang menjadikanhatiseseorangditutupdarihidayah, sehinggaiatidakmampumemahamihidayahdenganbaik. Atauhatinyadikuncimati, bahkandibalik (ditelungkupkan) oleh Allah SWT sehinggailmu, iman, danhikmah yang pernahada di dalamnyatumpah.Kemudian, tidaklagimampumewadahihidayah.

Ada tiga sebab utama yang menjadikan hati terbalik atau tertutup dari hidayah, yaitu;

Pertama: Cinta Dunia.

Mencintai dunia, dan selalu berambisi untuk menumpuknya sebab utama terjadinya kerusakan hati. Semakin tinggi volume cinta seseorang kepada dunia, maka hatinya semakin mengeras. Pada suatu saat hatinya seperti lebih keras daripada batu. Atau hatinya dibalik oleh Allah SWT.

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.” (Qs. An-Nahl: 107-109)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT membalikkan hati manusia disebabkan kecintaannya terhadap dunia melebihi kecintaannya terhadap akherat. Syarat kebaikan hati adalah mencintai Allah SWT, sementara cinta kepada Allah SWT tidak akan berkumpul dengan cinta kepada dunia dalam satu hati di waktu yang sama.

Dalam sebuah atsardisebutkan, “Tidak akan berkumpul cinta dunia dan cinta kepada Allah dalam satu hati.”  Hati manusia hanya satu, jika ia telah dikuasai cinta dunia, tidak mungkin cinta kepada akherat itu ada. Allah SWT berfirman,

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya” (Qs. Al-Ahzab: 4)

Kedua: Terus menerus dalam kemaksiatan.

Ibarat api yang membakar sebuah bangunan besar, selalu berasal dari percikan api, awalnya kecil, namun jika dibiarkan lama-kelamaan akan membesar, sehingga sulit dipadamkan, akhirnya membakar seluruh bangunan. Demikian juga kekufuran, kenifakan yang menjadikan hati terbalik, ia berasal dari dosa yang kecil. Namun jika dibiarkan, tidak segera berhenti dan bertaubat, ia akan mendorong pelakunya ke dalam jurang dosa yang lebih besar. Pada titik nadir ia bisa saja terjerembab dalam kekufuran.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda

“Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar (memohon ampun) serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi. Jika ia melakukan kesalahan lagi, dan menambahnya maka hatinya lama-kelamaan akan menjadi hitam pekat. Inilah maksud dari “ar-Raan” (penutup hati) yang disebut Allah dalam firman-Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.(Qs.al- Muthoffifin: 14). (Hadits Hasan riwayat Tirmidzi no: 3334 dan Imam Ahmad dalam Musnadnya: 2/ 297)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Jika dosa telah menumpuk, hati pelakunya akan dibalik oleh Allah SWT. Ia pun menjadi manusia yang lalai. Para ulama salaf menafsirkan firman Allah SWT, – Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.(Qs.al- Muthoffifin: 14)-. Yaitu, ‘Dosa yang menumpuk’.”

Beliau melanjutkan,“Al-Hasan al-Bashri berkata, ‘Yaitu dosa yang menumpuk sehingga dosa tersebut membutakan hati.’ Hal ini karena hati berkarat oleh dosa. Jika dosa semakin menumpuk, maka karat tersebut menutupi hati. Jika terus menumpuk lagi, maka hati akan terbalik (thoba’), terkunci dan tertutup (dari hidayah). Akhirnya hati itu tertutup dan mengeras. Maka saat itu, yang atas berubah ke bawah, yang bawah berubah ke atas. Ia dikuasai oleh musuhnya (yaitu setan dan nafsu), lalu dikendalikan oleh musuhnya sesuai selera musuh.” (al-Jawab al-Kaafiy, hlm. 139).

Ketiga: Berkawan dengan orang-orang yang buruk.

Teman dan lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik, sebaliknya teman yang buruk. Kerusakan perilaku, akhlak dan jiwa seseorang juga sangat dipengaruhi oleh teman atau lingkungan.

Sebab manusia cenderung mengikuti perilaku orang yang dekat dengannya. Pun manusia, biasanya kesulitan menolak ajakan orang dekatnya. Dan sahabat adalah diantara manusia yang dekat  secara psikologis. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk menjaga pergaulan, memerintahkan mereka agar bersahabat dengan orang-orang yang baik. Beliau SAW bersabda;

“Seseorang tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah kalian teliti dalam mencari teman.” (HR. Baihaqi).

Teman yang buruk akan mempengaruhi temannya. Dan lama-kelamaan temannya pun akan menjadi buruk, bahkan lebih buruk dari yang pertama. Pergaulan seperti ini, jika diteruskan, akan menjadi petaka baginya. Dosa dan keburukannya akan bertambah, mata hatinya pun menjadi  buta. Tidak lagi mampu mengikuti kebenaran. Demikian kondisi mereka hingga mau menjelang.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlahbagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku.” (Qs. Al-Furqan: 28-29)

Sungguh menyedihkan! Semoga Allah mengaruniakan hati dan jiwa yang bersih kepada kita semua!Aamiin Ya Robb.* (Akrom Syahid)

Diambil dari majalah An-Najah edisi 119, rubrik Oase Imani.

Editor: Sahlan Ahmad