Kepemimpinan Jihad pada Awal perang Salib (1)


Pada awal abad ke-11 Masehi Paus Leo X di Vatikan mengeluarkan seruan kepada raja-raja Eropa tentang pentingnya membebaskan Yerusalem (Baitul Maqdis) dan Salib tempat Yesus disalib dari tangan Saracen (maksudnya kaum Muslimin). Dengan cepat raja-raja di berbagai belahan Eropa—terutama Inggris, Prancis, dan Jerman—merespon seruan ini.

Kaisar Byzantium (Romawi Timur) di Konstantinopel tak ketinggalan dalam memberikan dukungan. Ia memberikan suplai logistik kepada para Crusader (Pasukan Salib) yang melalui wilayahnya di Eropa Timur dan Asia Kecil. Juga, mengawal armada laut mereka di perairan Mediterania.

Ahli sejarah mencatat paling tidak ada tujuh gelombang serangan besar yang dilakukan oleh Pasukan Salib dalam kurun waktu dua ratus tahun. Yang paling terkenal adalah serangan di wilayah pesisir pantai Syam, barat daya Anatolia, dan terakhir di Mesir.

Dalam kurun waktu tersebut orang-orang Kristen berhasil menjajah Baitul Maqdis dan mendirikan pusat pemerintahan di sana. Mereka juga berhasil mendirikan sejumlah kerajaan Kristen yang berdiri sendiri-sendiri, namun menjalin hubungan dengan raja-raja Eropa.

Beberapa kerajaan Islam yang berbatasan dengan kerajaan-kerajaan Kristen tersebut terbilang lemah. Mereka terpecah-pecah dan saling menjegal satu sama lain, seperti pemerintahan Aleppo, Humat, Damaskus, Homs, dan Mosul. Itu pun masih diwarnai dengan aksi-aksi pemberontakan internal. Tak hanya itu, para amir dan sultan juga membebankan pajak-pajak yang berat serta melakukan banyak kezaliman.

Khilafah Abbasiyah yang lemah di Baghdad tak mampu berbuat banyak. Sementara itu Khalifah Syiah Fathimiyah (Daulah Ubaidiyah) di Mesir justru menorehkan noda sejarah, mereka bekerja sama dengan Pasukan Salib. Sejarah juga mencatat pengkhianatan kaum Nushairiyah di Syam yang berperang di barisan Pasukan Salib.

Peran Ulama

Dunia Islam, terutama wilayah Timur Tengah, mengalami suasana yang luar biasa lemah dan tak stabil saat itu. Meski kepemimpinan politik kaum Muslimin sedang tidak ideal, era ini mencatat perkembangan pesat di bidang ilmiah. Saat itu bermunculan banyak ulama besar, imam, dan khatib. Masjid-masjid menjadi sentral kepemimpinan agama dan pusat pengaturan kehidupan sosial masyarakat, yang jauh dari kerusakan kalangan istana dan pertikaian penguasa.

Demikianlah, ketika itu umat mengembalikan urusan kepada tokoh panutan dari kalangan ulama dan pemimpin kabilah. Seiring dengan kedatangan Pasukan Salib, merekalah yang bergerak untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad. Para ulama dan khatib juga mengetuk pintu para penguasa agar mendukung jihad, sejak khalifah di Baghdad hingga para amir di Syam.

Mereka juga berhasil menggalang dana untuk membiayai pembentukan pasukan jihad. Setelah itu mereka mendatangi para penguasa untuk mencari orang yang layak memimpin jihad. Sayangnya, tak ada satu pun dari penguasa itu yang menyambut seruan mereka.

Suatu ketika mereka mendengar ada pemimpin yang diperkirakan memiliki kebaikan dan sifat ksatria. Mereka pun pergi menemuinya. Setelah orang itu berjanji kepada mereka untuk memimpin jihad, mereka pun menyerahkan dana tersebut kepadanya. Namun, setelah beberapa lama menunggu, para ulama kembali menemuinya, akan tetapi mereka tidak menemukan batang hidungnya.

Mereka pun mencarinya selama sebulan di salah satu lembah Syam. Ternyata ia sedang berburu di sana. Alih-alih menyiapkan diri memimpin jihad, ia malah asyik bersenang-senang. Bahkan, dana jihad yang diamanatkan tersebut ia gunakan untuk membangun istana peristirahatan di lembah tersebut. Istana itu menjadi tempat persinggahan sang pemimpin bersama para pelayan dan teman-temannya di malam hari, setelah seharian berburu dan menembak.

Sejarah juga mencatat bahwa mayoritas umat Islam ketika itu lebih cenderung kepada dunia dan kemewahannya. Para khatib dan ahli nasihat mengobarkan semangat manusia di masjid-masjid, hingga masjid-masjid itu penuh dengan suara isak tangis, namun begitu keluar dari masjid masing-masing kembali kepada urusan duniawinya dan tak peduli dengan apapun. Sungguh, sejarah seolah-olah terulang hari ini!

Keluarga Zanki

Alhamdulillah, kesadaran masih tersisa di tengah-tengah umat. Kegigihan para dai dan ulama mulai berbuah. Dengan izin Allah seruan mereka disambut oleh pemimpin politik umat Islam yang mendapatkan hidayah. Ketika seruan-seruan jihad para ulama—yang menjadi poros kepemimpinan agama—berkumandang, bangkitlah semangat ksatria di sebagian kepala kabilah dan keluarga besar—yang menjadi pemimpin politik masyarakat—di Syam dan sekitarnya.

Bangkitlah salah seorang gubernur di Syam Selatan, yaitu Al-Amir Al-Mujahid Imaduddin Zanki, yang terjun langsung menghadapi serangan Pasukan Salib di barat daya Syam. Ia merupakan “buah segar” dari perhatian Menteri Nizhamul Mulk As-Saljuqi terhadap ilmu dan pendidikan serta gagasan kaderisasi pemimpin masa depan. Dialah yang memulai fase jihad yang kelak menuai hasil pada masa Nuruddin Mahmud Az-Zanki dan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Keduanya adalah termasuk potret pemimpin terbaik, baik dari segi agama, keberanian, maupun komitmennya terhadap Islam.

Imaduddin Zanki berhasil menjatuhkan Kesultanan Raha yang menginduk kepada kaum salibis. Kemudian ia memerintah dengan bijak dan tegas, dibantu Al-Qadhi Baha’uddin As-Sahrazuri. Namanya semakin bersinar dan menginspirasi mujahidin dan beberapa sultan untuk bergabung dalam barisannya. Sejak saat itu mulai terbentuk embrio yang kelak melahirkan Daulah Zankiyah dengan ibu kota pertamanya di Mosul, barat daya Iraq.

Hanya saja Zanki belum bisa merampungkan tugas suci jihad pada fasenya. Ia keburu menemui syahid—Insya Allah—ketika memblokade Benteng Ja’bar yang terletak di semenanjung Sungai Eufrat di wilayah Jazirah. Ia meninggal karena tikaman dari dalam yang dilakukan oleh orang-orang Bathiniyah. Dunia Islam pun kehilangan sosok yang oleh Ibnu Katsir disifati sebagai “sebaik-baika raja, memiliki citra paling baik, dan orang yang pemberani, cerdas, dan tegas.”

Bergerak ke Mesir

Setelah itu Nuruddin Mahmud bin Zanki naik ke tampuk kekuasaan sebagai raja pengganti ayahnya. Pada masanya pusat pemerintahan Daulah Zankiyah berada di Aleppo (barat daya Suriah). Kesultanannya meluas hingga meliputi Iraq, Suriah, dan Yordania. Negara yang dikuasai keluarga Zanki dan Sultan Mahmud bin Zanki-lah yang mengambil peran penting dalam membangun fondasi utama jihad melawan Pasukan Salib di wilayah timur. Bahkan, menurut para ahli sejarah, segenap keberhasilan yang terjadi melalui tangan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi kemudian tidak lepas dari peran Nuruddin.

Sebagai raja yang zuhud, Nuruddin Mahmud menghabiskan hidupnya berjihad melawan tentara salib di Syam. Ia berhasil meraih kemenangan demi kemenangan. Kekuasaan keluarga Zanki pun terus meluas hingga Damaskus. Kota ini menjadi pusat kegiatan jihad setelah Aleppo.

Sementara itu Pasukan Salib mulai menyadari pentingnya menduduki Mesir. Jika berhasil menguasainya, secara strategis akan memiliki efek kuat bagi mereka jika melancarkan serangan ke Syam. Penguasa Daulah Fathimiyah yang lemah justru mengundang Pasukan Salib untuk datang ke Mesir. Para pejabat mereka menawarkan iming-iming kerja sama kepada kaum salibis di Baitul Maqdis. Harapannya, Pasukan Salib menunda usaha mereka untuk menguasai Mesir.

Demikian pula Sultan Nuruddin Mahmud. Ia juga mengerti betapa pentingnya bersegera menuju Mesir. Ia mengirim pasukannya ke sana di bawah pimpinan Asaduddin Syirkuh, seorang panglima berdarah Kurdi, dalam rangka membantu tentara Fathimiyah melawan Pasukan Salib yang sudah mengincar Mesir.

Asaduddin mengajak salah seorang keponakannya yang baru diangkat menjadi panglima perang, yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi, meskipun sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Syam. Namun
, takdir kemuliaan telah menunggunya di Mesir. (Bersambung)