Kerajaan Demak Bintara dan Walisanga

Masjid Demak Peninggalan Para Walisongo
Masjid Demak Peninggalan Para Walisongo

An-najah.net – Sejarah mencatat bahwa misi dakwah Islam secara khusus pernah dikirim ke Tanah Jawa atas perintah Sultan Muhammad I yang saat itu menjadi penguasa Turki Utsmani (1394-1421 M). Sultan Muhammad I dilahirkan pada 781 H/1379 M dan wafat pada 824H/1421 M. Sultan Muhammad I dikenal juga dengan nama Muhammad Jalabi. Ia diangkat menjadi penguasa Daulah Utsmaniyah sepeninggal ayahnya, Bazayid I. Pada saat memerintah, ia telah ikut terjun dalam 24 pertempuran dan di tubuhnya ada 40 bekas luka[1].

Pada saat Majapahit telah mengalami keruntuhan setelah jaya akibat perang saudara, yang terkenal dengan sebutan Perang Paregreg, para saudagar Gujarat menyampaikan perkembangan keadaan di Nusantara, khususnya Jawa, kepada Sultan Muhammad I. Kemudian dikirimlah tim dakwah berjumlah sembilan tokoh dari berbagai negeri di wilayah Kesultanan Turki Utsmani.

Tidak ada seorang pun di antara sembilan tokoh ini yang berasal dari pribumi Jawa. Sultan Muhammad I memberangkatkan tim dakwah ke Tanah Jawa yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Tim dakwah yang berjumlah 9 tokoh inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Walisanga angkatan pertama. Secara lengkap anggotanya sebagai berikut:

  1. Maulana Malik Ibrahim dari Turki, ahli irigasi dan tata negara. Tinggal di Gresik dan wafat tahun 1419 M.
  2. Maulana Ishaq dari Samarkand (Uzbekistan), ahli pengobatan. Maulana Ishaq berdakwah di Jawa Timur. Ketika menjelang wafat, ia hijrah ke Pasai dan akhirnya meninggal di sana.
  3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir.
  4. Maulana Muhammad Al-Maghribi dari Maroko.
  5. Maulana Malik Isra’il dari Turki, ahli mengatur negara.
  6. Maulana Muhammad Ali Akbar dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
  7. Maulana Hasanuddin dari Palestina.
  8. Maulana Aliyyuddin dari Palestina.
  9. Syekh Subakir dari Iran, ahli mengatasi daerah angker yang dihuni jin jahat[2].

Ketika tim dakwah ini sampai ke Tanah Jawa, dengan segera Islam mengalami perkembangan yang sangat cepat. Kemudian mereka memberikan dukungan kepada Raden Fattah, salah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Majapahit yang sudah masuk Islam, untuk mendirikan Kerajaan Demak Bintara. Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa pun berdiri dengan Raden Fattah sebagai sultannya. Sejak saat itu penyebaran dakwah Islam sedemikian gencarnya dan diiringi penaklukan wilayah lain ke dalam kekuasaan Islam.

Kerajaan Demak Bintara pun muncul sebagai kerajaan Islam pertama dan terbesar di seantero Jawa. Daulah Islamiyah ini, meskipun berusia tidak sampai seabad, namun memiliki pengaruh besar bagi perkembangan umat Islam Indonesia.

Masa pemerintahan Kerajaan Islam Demak Bintara berlangsung selama sekitar 68 tahun, yaitu antara tahun 1478-1549 M[3]. Dalam masa puncak kejayaannya itu, dipimpin oleh empat penguasa Islam, yaitu Raden Fattah (1478-1518) selama 30 tahun, Patih Yunus atau Pati Unus (1518-1521) hanya selama 3 tahun, Sultan Trenggono (1521-1546) selama 25 tahun, dan Sunan Prawoto (1546-1549) selama 42 tahun[4]. Di sini hanya akan diuraikan era Raden Fattah karena dialah yang membangun fondasi penerapan syariat Islam Kerajaan Demak Bintara.

Raden Fattah lahir pada tahun 1448[5] M. Nama kecilnya menggunakan nama Cina, yaitu Jim-bun, ada juga yang menyebutnya Raden Hasan[6]. Ia termasuk putra mahkota Raja Majapahit yang bernama Kertabumi )bergelar Brawijaya V) (1468-1478M)[7]. Raden Fattah putra dari seorang ibu keturunan Cina. Setelah melahirkan Raden Fattah (Raden Hasan), putri Cina tersebut diberikan kepada Haryo Damar atau Joko Dillah, Adipati Palembang. Dari sinilah kemudian lahir Raden Timbal atau Raden Husain[8].

Setelah dewasa, kedua pemuda bersaudara itu diperintahkan Haryo Damar ke Majapahit untuk berbakti kepada Prabu Brawijaya V. Dalam perjalanannya dikawal 22 prajurit. Sebelum sampai ke Majapahit, Raden Fattah (Hasan) dan adiknya Raden Timbal (Husain) singgah di Cirebon untuk minta doa restu kepada Sunan Gunung Jati. Namun, Sunan Gunungjati memerintahkan Raden Fattah ke Ampeldenta untuk belajar agama Islam kepada Sunan Ampel, sedangkan Raden Timbal disuruh langsung menuju Majapahit[9].

Dalam masa belajar agama Islam dengan Sunan Ampel di Ampeldenta (Surabaya), Raden Fattah lalu menikah dengan putri Sunan Ampel yang bernama Nyai Ageng Malaka[10] atau dikenal juga sebagai Nyai Ageng Manila. Setelah keilmuannya tentang Islam dirasa cukup matang, Sunan Ampel memerintahkannya untuk menyebarkan dakwah Islam di Glagah Wangi[11], yang saat itu termasuk wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Di Demak Bintara, Raden Fattah bersama istrinya mengepalai suatu masyarakat kecil kaum Muslimin yang sudah ada sebelumnya. Pengirimannya ke Glagah Wangi adalah sebagai pelaksanaan perintah Walisanga yang hendak membuat Demak sebagai pusat kegiatan Islam. Daerah ini terletak di pantai utara di pertengahan Tanah Jawa, dan dari sana kelak mudah masuk ke pedalaman dan jauh letaknya dari Majapahit[12].

Pendirian pondok pesantren merupakan salah satu strategi dakwah yang sangat efektif. Pada tahun 1475 M[13] Raden Fattah pun mendirikan madrasah atau pondok pesantren sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Atas kehendak Allah dan karunia-Nya, kemudian karena pengaruh Raden Fattah, mayoritas penduduk Demak menganut agama Islam.

Masjid Agung Demak yang kelak menjadi pusat pemerintahan Islam, dibangun pada hari Kamis malam Jumat, bertepatan dengan 1 Dzulqa’dah tahun Jawa 1428[14]. Kemudian pada tahun 1479 M, Raden Fattah menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahannya. Selain itu, ia memperkenalkan kitab Salokantara sebagai bagian hukum syariat Islam yang menjadi undang-undang kerajaan di wilayah kekuasaannya[15].

Dalam waktu yang singkat, Demak Bintara menjadi semakin ramai. Selain menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama, pelabuhan sebagai pusat lalu lintas bagi para nelayan, juga menjadi pusat perdagangan. Lebih dari itu, akhirnya menjadi pusat Islam pertama di Jawa sekaligus ibukota negara. (ANwar/Harakah Majalah Annajah edisi 93)

[1] Lihat: Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, hlm. 77.

[2] Lihat: Misteri Syekh Siti Jenar, Hasanu Simon, hlm. 52.

[3] Lihat: Ensiklopedi Raja-raja Jawa, hlm. 86.

[4] Ibid, hlm. 86.

[5] Lihat: Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak, Drs. H. Imron Abu Amar, hlm. 16.

[6] Ibid, Drs. H. Imron Abu Amar, hlm. 16.

[7] Sekitar Walisanga, Solichin Salam, hlm. 13.

[8] Op cit, Hasanu Simon, hlm. 46.

[9] Ibid, Hasanu Simon, hlm. 46.

[10] Lihat Misteri Syekh Siti Jenar, Hasanu Simon. hlm. 45.

[11] Ibid, Solichin Salam, hlm. 14.

[12] Lihat: Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak, Drs. H. Imron Abu Amar. hlm. 16.

[13] Sekitar Walisongo, Solichin Salam, hlm. 14.

[14] Op cit, Solichin Salam. hlm. 16.

[15] Lihat tentang hal ini dalam Ensiklopedi Raja-Raja Jawa, dari Kalingga hingga Kasultanan Yogyakarta, Krisna Bayu Adji, hlm. 88.