Ketaatan Terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Dalam Politik #1

Ketaatan Terhadap Rasulullah dalam politik

An-Najah.net – Mengurus keluarga yang lingkupnya sangat terbatas harus dan wajib mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apalagi dalam mengurus negara yang cakupannya lebih luas.

Lagi-lagi sang menteri yang berinisial MMD membuat ulah. Sebelumnya, dalam cuitan di twitternya, mengejek para ulama yang mewajibkan jilbab.

Walaupun pada akhirnya cuitan ini dihapus. Namun jejak digital itu sangat susah dihilangkan. Toh, banyak juga netizen yang sempat men-screenshot cuitan tidak bertanggung jawab ini.

Baca juga: Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Tiga Nasari Provokasi #1

Pernyataan terbarunya, “Haram dirikan Negara Seperti di Zaman Nabi”. Tidak ada tafsir dibalik ini, selain kesombongan seorang manusia. Ia merasa, pikiran manusia dan sistem produk pikiran-syahwat manusia lebih baik dari wahyu ilahi.

Tentu ini pernyataan ngawur. Apalagi keluar dari lisan professor, dan pejabat tinggi. Seharusnya, ia lebih bisa memilih kalimat bijak untuk mengungkapkannya.

Baca juga: Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Misi Ideologi Sebelum Misi Sosial #2

Bagi seorang muslim, ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah mutlak. Dalam perkara apapun. Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merupakan tanda iman. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imron: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (al-Ibanah al-Kubro -Hasan Shahih-)

Mengikuti beliau bukan sekedar dalam ibadah mahdoh. Seperti shalat, zakat, haji, umroh dan sejenisnya. Tetapi diantara yang terpenting adalah dalam mengatur dan mengurus sebuah negara.

Baca juga: Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Fokus Pada Akar Masalah #3

Mengurus keluarga yang lingkupnya sangat terbatas harus dan wajib mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apalagi dalam mengurus negara yang cakupannya lebih luas.

Dari sinilah para ulama menemukan kajian siyasi syar’iyyah (politik Islam), nidzom siyasi, daulah Islamiyah, imamah udzma, dan sejenisnya.

Ini semuanya lahir dari kajian bahwa sejarah membuktikan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menanamkan prinsip-prinsip politik dan bernegara yang wajib ditaati.

Baca juga: Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Loyalitas Uang vs Loyalitas Iman #4

Yang lucu, adalah mereka kaum munafik kontemporer, menolak diatur oleh syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semasa hidup. Terutama dalam hukum dan tata negara. Tetapi sangat menginginkan kelak ketika mati, diprosesi seperti syariat Islam.

Parahnya lagi, mereka inging mendapatkan syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kelak di hari kiamat. Tetapi menolak tunduk-patuh kepada syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Alasan penolakan mereka, syariat sudah kadaluarsa. Bukan zamannya lagi diikuti.* Wallahu Ta’ala ‘Alam

Baca juga: Pelajaran Politik Musa vs Firaun, Menghadang Iman dengan Teror, Kriminalisasi dan Tuduhan Konspirasi #5

Penulis   : Mas’ud Izzul Mujahid

Editor     : Ibnu Alatas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.