Keteladanan Salaf Shalih Sambut Ramadhan

Ramadhan, Bulan Mubarrak
Ramadhan, Bulan Mubarrak

An-Najah.net – Tiap Ramadhan tiba, terbuncah harapan agar Ramadhan kali ini lebih baik dari tahun kemarin. Lebih banyak amal shalih, sedekah, tilawah Al-Quran hingga shalat sunnah yang bisa dikerjakan. Bagi aktivis muslim, momen ini memang tidak boleh terlewat begitu saja. Harus ada peningkatan ketakwaan dibandingkan hari-hari biasa.

Ada banyak teladan dari para sahabat nabi yang bisa diikuti. Mereka adalah generasi spesial, sebuah komunitas manusia berkualitas yang terkumpul dalam satu tempat dan satu waktu. Kecemerlangan mereka tak lepas dari didikan keras Rasulullah SAW.

Bisa dibilang jika para sahabat adalah contoh ideal bagi siapa saja yang ingin memaksimalkan momen Ramadhan. Karena itu pula, Imam Malik meminta izin rekan-rekannya setelah kegiatan mengajar selesai. Beliau lalu bermajelis dengan para shahabat, meski cuma sebentar. Tiap petuah dan cerita yang mereka sampaikan memupuk semangat beliau untuk meneladani keutamaan mereka.

Menyambut Ramadhan

Kerinduan terhadap Ramadhan telah menumpuk jauh sebelum bulan ini tiba. Mualli bin Al-Fadhal mengatakan, “Para shahabat, enam bulan sebelum Ramadhan berdoa agar umurnya dipanjang agar bisa bertemu Ramadhan. Lalu enam bulan setelahnya, mereka terus berdoa agar amal di bulan mulia tersebut diterima.”

Setelah bulan ini tiba, mereka akan menyambutnya sebagai bulan penyuci dosa. Sebagaimana Umar bin Khattab di awal Ramadhan mengatakan, “Selamat datang bulan yang membersihkan kita dari dosa-dosa.”

Bahkan, untuk menyambut bulan yang mulia ini, para khulafaur Rasyidin terbiasa menyampaikan khotbah agar umat tahu tentang keutamaan Ramadhan dan hukum-hukum shaum.

Imam As-Sya’bi meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib brceramah setelah shalat ashar dan subuh untuk menyambut bulan Ramadhan. Di antara isi khutbahnya yaitu:

“Ini adalah bulan penuh berkah. Allah mewajibkan shaum di bulan ini, tapi tidak mewajibkan qiyamul lail. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengatakan. ‘Aku akan shaum jika si fulan shaum. Aku juga akan berbuka jika si fulan berbuka’. Ketahuilah, sesungguhnya shaum itu bukan menahan diri dari makan dan minum. Tapi dari berbohong, berbuat bathil dan hal-hal tak bermanfaat. Jangan mendahului shaum. Jika sudah melihat hilal, berpuasalah. Jika sudah melihatnya berbukalah. Jika hilal tertutup awan, genapkan bulan Sya’ban 30 hari.” (Fadhail Awqat, Al-Baihaqi)

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 104 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar