Ketidakadilan Dalam Memberikan Cap Teroris

Islam itu indah
Islam itu indah

An-Najah.net – Islam itu indah tidak pernah mengajarkan teror. Teroris adalah alat paling ampuh yang digunakan untuk mengelabui masyarakat yang tidak paham dengan ‎makna teroris sesungguhnya. Menurut mereka, Islam itu harus lembut dan sabar dalam menerima ‎perlakuan kasar dan tidak boleh memberikan perlawanan. Jika keluar vonis kafir yang sah, itu teroris. Jika ‎keluar vonis bidah yang sah, itu teroris. Jika Islam melawan, itu teroris.

Baca juga: Menyapa Kebobrokan Umat Islam Di Era Modern ‎

Salah Persepsi

Para pejuangnya adalah teroris, ‎radikal, extrimis dan barbar. Kalimat-kalimat yang tidak hanya terlontar dari mulut orang-orang kafir, tapi ‎juga dari orang-orang yang mengaku paham Islam. Teroris adalah alat yang paling disukai musuh untuk ‎dalih menyerang suatu wilayah Islam.‎

Akan tetapi ketika Amerika membantai umat Islam di Afghanistan dan Irak. Tidak ada media yang ‎menilainya teroris. Ketika Basar Asad dan aliansinya Iran dan Lebanon membunuh setengah juta umat ‎Islam di Suriah, tidak ada satu negara pun yang mengatakannya teroris.

Myanmar yang telah membantai, ‎membakar dan memutilasi umat Islam Rohingya tidak ada satu pun yang menganggapnya teroris. Saat ‎agresor Rusia yang berbuat terorisme di Afghanistan, Chechnya dan Suriah, tidak pernah ada yang bilang ‎teroris. Dan ketika Yahudi menyerang umat Islam di Palestina, semuanya diam dan tidak pernah berkata ‎teroris.‎

Apa pernah penduduk Rohingya, Myanmar, Cheshnya ataupun Suriah, mengebom penduduk Amerika dan sekutunya atau membunuh, memenjarakan, memperkosa, menganiaya, menodai wanita-wanita mereka?

Islam Itu Indah

Seakan kata teroris hanya disematkan kepada para pejuang Islam yang membela agama, harga diri dan ‎wilayahnya. Dan kamus teroris hanya milik orang-orang kafir dan musyrik. Makanya ketika para mujahidin ‎di Suriah melawan rezim Basar Asad, medsos memberitakannya sebagai teroris dan pemberontak.

Dan ‎ketika umat Islam Rohingya mulai melawan tentara Myanmar, barulah keluar kata teroris dari mulut-mulut ‎mereka. Akan tetapi mereka dibantai, dunia diam seribu bahasa. Dan ketika ada orang Rusia dibunuh, ‎dunia langsung mengutuk dan mengatakan itu tindakan teroris. Itu semua terjadi, karena “al-kufru ‎millatun wahidah”, kekafiran adalah satu agama.‎

Bahkan untuk meredam perlawanan umat, dibuatlah pamflet yang berisikan ciri-ciri teroris. Dengan ‎contoh, “Ciri-ciri teroris sekarang adalah berniat dirikan khilafah, mengujar kebencian etnis, agama, dan ‎aliran, serta gemar mengkafir-kafirkan orang, anti PBB dan Amerika, dan marah bila para mujahid dan ‎pejuang Islam disebut teroris.”

Baca juga: Islam Itu Indah, Cinta Kebersihan‎

Slogan-slogan mereka sangat persis dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka berkehendak ‎memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan ‎cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.” (Qs. At-Taubah: 32)‎

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang kafir sejak dahulu memerangi Islam, dan menyebutnya ‎dengan sebutan yang paling jelek agar manusia lari dari Islam. Salah satu bentuknya adalah menyebut ‎Islam itu teroris dan biadab. Dan orang-orang kafir itu yang lupa, sesungguhnya yang teroris, biadab, ‎membunuh rakyat, dan berbuat sewenang-wenang atas manusia tanpa dalih yang benar, dan semua sifat ‎yang tercela hanya ada pada ajaran kafir, dan termasuk sifat orang-orang kafir.” (Shalih al-Fauzan, Al-Muntaqa min ‎Fatawa al-Fauzan, jilid I, hal.416).‎ Wallahu Ta’ala ‘Alam

sumber             : Majalah An-Najah edisi 143, hal. 51, 52

Penulis             : Abu Muslim Zarkasyi

Editor               : Ibnu Alatas