Ketika Fitnah dan Syahwat Menjebak Khawarij

khawarij-rumi (1)vvvv

An-Najah.net_ Apa yang terbenak dalam pikiran anda ketika Rasulullah SAW menggambarkan ironisme kelompok Khawarij. Di satu sisi beliau mensifati mereka sebagai kaum yang shalat, puasa, tilawah Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya melebihi kaum muslimin pada umumnya. Namun di sisi lain beliau menyebut mereka sebagai anjing neraka.

Mungkin akan ada yang mencoba menjawab, “letak kesalahan mereka ada pada cara memahami dalil, yang menggiring mereka untuk berlebih-lebihan dalam beribadah, yang akhirnya mencelakakan mereka sendiri. Atau dengan kata lain mereka tergelincir dalam fitnah syubhat.”

Jika demikianjawabannya; menganggap penyebab kesesatan khawarij hanya karena terkena fitnah syubhat, berarti salah memahami hakikat Khawarij dan tidak mengetahui sejarahnya. Sebab siapa saja yang mempelajari sejarah Khawarij, akan mendapati sebuah kenyataan, bahwa sekte Khawarijberkubang dalam dua fitnah; fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

Fitnah syubhat dan fitnah syahwat

Fitnah syubhat adalah fitnah yang menimpa keyakinan dan  pemahaman seseorang. Penyebabnya sangat banyak. Antara lain minim ilmu, logika yang salah, bashirah yang lemah, dan lain sebagainya. Akibatnya seorang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Adapun fitnah syahwat adalah fitnah yang menjangkiti selera, nafsu, keinginan dan minat seseorang. Penyebabnya hanya satu; kesalahan motif. Akibatnya seseorang tidak akan pernah puas dalam gelimang kemaksiatan. Segala nasihat dan kritikan tidak akan berpengaruh baginya.

Terkadang seseorang terjerat satu saja dari dua fitnah tersebut. Namun tidak jarang dua-duanyaterkumpul dalam diri seseorang. Sehingga kerusakan yang ditimbulkan semakin parah, baik bagi dirinya maupun orang lain. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah:

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” (QS. An-Najm: 23).

Itulah yang terjadi pada Khawarij,fitnah syubhat dan syahwat bersatu dalam dirinya. Sejarah mencatat bagaimana kesesatan Khawarij bermula dari fitnah syahwat yang terselubung dalam fitnah syubhat.

Tentang fitnah syahwat, Khawarij adalah orang yang paling berambisi dalam harta, wanita, tahta, kedudukan, kekuasaan dan kepemimpinan. (Dr. Mudhahhir al-Wais, al-‘Alāmat al-Fāriqah fī Dīn al-Māriqah, 182).

Bersadarpengamatannya, Hasan al-Bashri menyebut Khawarij sebagai pengikut ashhābu dunya(pemburu dunia). Tidaklahmereka memerangi pemimimpin Islam kecuali karena sebagian besar pemimpin tersebut menahan dunia dari mereka. (Abu Hayyān, al-Bashā’ir wa adz- Dzakhā’ir, I/156).

Syahwat dunia Khawarij

Adalah Dzul Khuwaishirah, biangKhawarij di zaman Rasulullah SAW, karena ketamakannya terhadap kepingan dunia, ia berani menegur pembagian ghanimah yang dilakukkah oleh Rasulullah SAW, tak tanggung-tanggung kalimat yang keluar dari mulutnya adalah, “Ya Muhammad berbuat adillah!”

Hal ini diperkuat dengan Hadits Ibnu Mas’ud bahwa, “Tatkala Rasulullah SAW membagi harta ghanimah yang diperoleh dari perang Hunain, tiba-tiba seorang laki-laki bernama Dzul Khuwaishirah berkata, ‘Sungguh ini merupakan pembagian yang tidak mengharapkan keridhaan Allah.’ Maka turunlah ayat:

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah: 58).

Ibnu Katsir menuturkan sebuah kisah tragistentang terbunuhnya Utsman bin Affan.Tatkala orang-orang Khawarijmenerobos rumah Utsman bin Affan,saat itu beliau sedang membaca Al-Qur’an. Salah seorang perusuh langsungmenendang Utsman bin Affan lalu menebaskan pedang. Setelah khalifah ketiga itu meninggal sang pembunuh berkata, “Aku belum pernah melihat wajah orang kafir yang lebih tanpan seperti hari ini, dan tempat tidur orang kafir yang lebih dimuliakan.”Tak hanya membunuh Utsman, mereka juga menjarah semua isi rumahnya tanpa meninggalkan satu benda sekalipun.Sampai mangkok makanan sekalipun.

Tidak puas membunuh dan menjarah isi rumah Utsman bin Affan, mereka menuju gudang Baitul Mal. Mengambil semua yang ada di dalamnya. Mereka berteriak, “apakah mungkin harta ini tidak halal untuk kita sedangkan darahnya (Utsman bin Affan) halal bagi kita?” Melihat kejadian tersebut, penjaga Baitul Mal berteriak meminta tolong. Namun orang-orang tidak tidak mempercainya, sebab menurut mereka bagaimana mungkin orang-orang Khawarij mencuri harta Baitul Mal, padahal slogan yang selalu mereka ucapkan adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Namun mereka baru tersadar setelah semua terjadi. (al-Bidāyah wa an-Nihāyah, X/316).

Adapun mengenai syahwat mereka terhadap tahta dan kepemimpinan, sejarah telah membuktikan hal tersebut. Tidaklah satu Daulah Islam berdiri, atau khalifah berganti, melainkan mereka pernah disibukkan dengan pemberontakan Khawarij. Hal itu disebabkan karena keyakinan mereka; tidak ada yang lebih layak mengatur urusan kaum muslimin kecuali mereka. Mereka susupkan hasrat kekuasaan mereka di dalam berbagai macam syubhat, hingga jadilah mereka sebagai orang-orang paling berani mengorbankan nyawa mereka. Maka di dunia ini, tidak akan kita temui satu sekte yang paling berani dalam menghadapi musuh dan tabah dalam peperangan melebihi Khawarij.

Khawarij juga terkenal dengan syahwatnya terhadap wanita. Untuk menutupi iradah mereka yang buruk tersebut, orang-orang Khawarij mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil. Mereka mengkafirkan setiap orang yang tidak sehaluan dengan akidah mereka. Anehnya fatwa tersebut hanya berlaku untuk laki-laki dan tidak untuk wanita. Orang-orang Khawarij menyeru para wanita untuk meninggalkan keluarga dan suami mereka, sebab wanita muslimah tidak halal menikah dengan orang-orang murtad. Padalah seandainya mereka konsisten dengan pendapat mereka, tentu tidak ada pengecualian antara laki-laki dan perempuan, karena mereka sama-sama tidak sehaluan dengan pendapat orang-orang Khawarij.

Dan yang mencengankanternyata faktor pertama yang memicu membelotnya orang-orang Khawarij dari Ali bin Abi Thalib adalah wanita. Sebagaiamana pengakuan Abrurrahman bin Muljam kepada Ali bin Abi Thalib, “hal pertama yang membuat kami membenci dirimu adalah pada saat perang Jamal kami berada di barisanmu, tatkala perang berkecamuk engkau membolehkan kami mengambil harta pasukan mereka, namun melarang memperbudak anak dan istri mereka.” (al-Farqu Baina al-Firaq, 78).

Demikianlah yang terjadi dengan Khawarij, mereka terjerembab dalam dua kubangan fitnah; fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Seandainya mereka hanya tertimpa syahwat, tentu membimbing dan menasehati mereka menjadi sesuatu yang mudah. Namun karena fitnah syahwat telah menguasai diri mereka, jadilah tabir syubhat sebagai sesuatu yang sulit untuk disingkap. (Ahsan Timur).

Diambil dari majalah An-Najah, Edisi 120, Nopember 2015, halaman 18-19.

Editor: Sahlan Ahmad.