Ketika Hati Siap Menerima Panggilan Haji

Ibadah Haji ke Makah Al Mukarramah
Ibadah Haji ke Makah Al Mukarramah

An-Najah.net – Seluruh umat Islam sepakat haji adalah kewajiban dan rukun Islam. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup dan punya bekal. Dan barangsiapa yang kufur (mengingkarinya), sesungguhnya Allah Maha Kaya dari alam semesta (dan seisinya).” (QS. Ali Imran: 97)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah ayat wajibnya haji menurut jumhur ulama. Dan Imam Ibnul Mundzir dalam kitabnya al-Ijma’ (hlm: 28-29) berkata, “Dan berdasarkan ijma’ mereka, wajib bagi seseorang satu kali haji dalam hidupnya. Kecuali jika bernadzar, maka wajib untuk dipenuhi.”

Dan Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berangkat hajilah.” (HR. Muslim, sanad dan matan shahih).

Baca Juga : Dakwah Kalimat Tauhid Kunci Kejayaan Umat Islam

Hukum Meremehkan Kewajiban Haji

Ketika mewajibkan haji bagi yang sudah mampu, sesudahnya Allah mengatakan, “Dan barangsiapa yang kufur (mengingkarinya), sesungguhnya Allah Maha Kaya dari alam semesta (dan seisinya).”

Sahabat Ibnu Abbas menafsirkan kalimat kufur dengan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa haji itu tidak diwajibkan atas dirinya.” Dan Imam Mujahid berkata, “Yaitu orang yang ketika berhaji tidak merasa itu sebagai satu kebaikan, dan jika meninggalkannya dia merasa tidak berdosa.

Imam Hasan Bashri berkata, “Barangsiapa yang mengingkarinya, dan tidak menganggap itu wajib atas dirinya, maka itu adalah kufur.”

Imam asy-Syaukani dalam tafsirnya mengatakan, “Firman-Nya “Barangsiapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari alam semesta (dan seisinya).” Dikatakan, “Bahwasanya Allah menyebut perbuatan meninggalkan haji dengan lafaz kufur adalah sebagai penekanan atas kewajiban melaksanakannya dan peringatan keras bagi yang meninggalkannya. Dikatakan juga maknanya, “Dan barangsiapa yang kufur terhadap kewajiban haji dan tidak menilainya sebagai satu kewajiban.” Dan juga dikatakan, “Sesungguhnya siapa yang meninggalkan haji sedang ia mampu mengerjakannya, maka hukumnya adalah kafir.” (Lihat, Tafsir ath-Thabari, 6/47; Fathul Qadir, 1/416).

Imam Muhammad Amin asy-Syanqithi berkata, “Firman tersebut menunjukkan bahwa siapa yang tidak menunaikan haji, maka dia kafir, dan Allah Maha Kaya dari hamba-Nya yang kafir tersebut.” (Lihat, Adhwa’ al-Bayan, 1/203).

Imam Mardaweh meriwayatkan dan isnadnya shahih dari Abdurrahman ibnu Ghanam, bahwasanya dia mendengar Umar ibnul Khatthab berkata, “Barangsiapa yang mampu haji tapi tidak haji, maka matinya adalah Yahudi atau Nashrani.”

Dalam riwayat lainnya dari Imam Sa’id ibnu Manshur, Umar ibnul Khatthab juga mengatakan, “Sungguh aku sudah punya niatan untuk mengutus beberapa orang ke penjuru negeri dan untuk melihat setiap orang yang punya kemampuan untuk haji tapi tidak berhaji lalu aku wajibkan kepada mereka membayar upeti. Mereka itu bukanlah golongan Muslim, bukanlah golongan Muslim.”

Dan Sa’id ibnu Jubair berkata, “Kalau ada tetanggaku yang mati dan belum pergi haji padahal dia punya kemudahan untuk berangkat haji, maka aku tidak akan menyalati jenazahnya.”

Dan tidak ada permohonan yang diminta oleh orang yang sakaratul maut kecuali minta dikembalikan ke dunia untuk menunaikan zakat dan haji. (Lihat, Tafsir al-Qurthubi, 4/153).

Bca Juga : Tiga Alasan Mengapa Kami Membela Kalimat Tauhid

Memahami Kalimat Mampu

Betul, haji adalah ibadah yang membutuhkan syarat wajib untuk dilaksanakan, yaitu muslim/muslimah yang berakal, baligh, merdeka (bukan hamba sahaya) dan mampu baik secara fisik, harta ataupun keamanan perjalanan. Dan telah disepakati oleh para ulama. Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (5/6) mengatakan, “Sepengetahuan kami tidak ada selisih pendapat terhadap kelima syarat ini.” Dan khusus bagi wanita, ada suami/mahram yang menemaninya dalam perjalanan.

Jika ditanya kepada orang yang belum haji, mengapa tidak segera mendaftar haji atau mencari travel yang memberikan fasilitas dalam berhaji. Selalu alasannya adalah belum mampu atau antriannya terlalu lama. Padahal orang tersebut rumahnya ratusan juta rupiah bahkan lebih, begitu juga mobilnya, punya saham sana-sini, omzet bisnis yang melejit, rekening yang nganggur minimal nominalnya 40-50 juta rupiah lebih, dan punya tanah disana sini. Andai kata dijual, bisa lebih dari cukup untuk ongkos haji dan beaya haji yang kini menebus harga 35 juta rupiah. Belum lagi kemudahan cicilan beaya haji. Bisa dibandingkan dengan beaya renovasi rumahnya, pendaftaran sekolah anaknya perkepala yang bisa mencapai lebih dari 15 juta rupiah, dan kepentingan-kepentingan lainnya yang tidak primer semuanya bisa diusahakan. Namun untuk urusan haji, tidak ada niatan untuk mengusahakannya semaksimal mungkin.

Imam Malik berkata, “Seseorang yang fisiknya kuat wajib untuk berangkat haji walaupun belum punya bekal dan ongkos, selama dia mampu untuk bekerja.”

Sahabat Abdullah ibnu Zubair, Imam asy-Sya’bi dan Ikrimah juga berpendapat demikian. Dan Imam adh-Dhahhak mengatakan, “Jika dia masih muda, sehat dan kuat tapi tidak punya harta. Wajib atasnya untuk bekerja keras sampai ditunaikannya haji.” (Lihat, Tafsir asy-Syaukani, 1/416).

Imam Ibnu Qudamah berkata, “Jika dia memiliki rumah yang luas dan melebihi dari kebutuhannya lalu mungkin untuk dijualnya dan diganti dengan rumah dibawah itu sesuai kebutuhannya saja, lalu sisa penjualannya bisa gunakan sebagai ongkos haji, maka rumah tersebut wajib dijual.” (Lihat, al-Mughni, 5/12).

Dan begitu juga seandanya dia memiliki rumah yang mewah dan sangat mahal lalu bisa dijual dan diganti dengan rumah yang harganya di bawah itu dan sisanya bisa digunakan ongkos haji, maka rumah yang mewah tersebut wajib untuk dijual. Demikian menurut madzhab Syafi’i dan Hambali.

Baca Juga : Memurnikan tauhid Memenangkan islam

Niat dan Tekad Yang Kurang Kuat

Akan tetapi pertanyaan kita adalah setinggi apakah niat dan tekad kita untuk menggapai rukun Islam yang kelima ini? Sehingga selalu bertameng dengan kalimat tidak mampu, atau merasa cukup hanya dengan sudah umrah sekali kemudian merasa lepas dari kewajiban haji sampai mati. Padahal secara finansial harta dia mampu dan bukan golongan yang fakir atau miskin. Dan mampu untuk bekerja, berusaha dan menabung untuk kebutuhan haji.

Tapi sayang jiwa ini masih selalu merasa miskin harta dalam urusan seperti zakat, shadaqah dan haji, padahal disana ada simpanan harta dan asset yang cukup untuk haji. Ataukah jiwa dan semangat ini yang miskin untuk bertaruh dan berkorban memperebutkan kuota menuju wukuf di Arafah. Sekali lagi, hanya niat dan tekad ini yang lemah yang telah menghalangi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan rukun Islam ibadah haji. Ataukah hati ini yang belum mampu untuk persiapan berangkat haji padahal mulut selalu berucap menginginkannya?

Bisa jadi niat dan tekad ini yang kurang membaja dan terus menghalangi keinginan haji. Kerinduan kepada haji seharusnya membikin semangat untuk bangkit dan berusaha, bekerja keras menggapai sebuah impian dan cita-cita. Apalagi negara ini telah memberikan kemudahan dalam urusan haji, seyogyanya bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menunaikan rukun Islam yang kelima walaupun dengan pengorbanan dan penantian yang cukup atau bahkan sangat lama dengan berbagai dilema dan masalah. Anggap saja antrian yang lama dan panjang adalah bagian dari sabar, menunggu amal ibadah yang mulia. Lebih baik ketimbang pesimis dan tidak ada tekad dan usaha semaksimal mungkin hanya karena menengok antrian yang panjang puluhan tahun.

Padahal berapa banyak manusia yang mengaku Muslim ketika urusan dunia mereka rela antri dan menunggu lama walaupun dengan beaya yang tidak sedikit. Namun dalam urusan haji, pada nomer berapakah kita urutkan dalam hajat kebutuhan hidup di dunia ini. Bukankah travel-travel haji mulai berjamuran yang menawarkan ONH Plus, memberikan kemudahan waktu dan fasilitas walaupun harus mengorek tabungan di atas standar jika alasannya adalah sangat antri?

Ada sebuah kisah menarik terhadap tekad dan niatan yang sangat kuat untuk menunaikan haji. Dalam Surat Kabar Harian Waspada Medan yang terbit hari Senin 17 Oktober 2011/19 Dzulqa’dah 1432 dikisahkan. Ada seorang ibu bernama Nur Ainun, 75, warga Tapanuli sejak kecil membantu orang tuanya mencangkul hingga disunting lelaki yang juga seorang petani.

Baca Juga : Tauhid Kemerdekaan Hakiki

Tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, sekolahnya hanya tingkat SD di Tapanuli Selatan. Tidak pula mengenal mall atau tempat rekreasi. Baginya belanja seperlunya di warung untuk kebutuhan sehari-hari dan bersama keluarga di meja makan dengan makan ubi rebus dari kebun sendiri sudah mampu melepas penat.

Menjadi petani sejak kecil hingga di hari tua tidak membuat perempuan lembut itu memaksa 6 anak-anaknya menjadi sepertinya. Malah dari hasil bertani, dia menyekolahkan anaknya ke universitas di Medan. Tapi tidak lupa menyisihkan hasil kerja kerasnya untuk menabung haji di hari tua.

Kini usianya telah 75 tahun. Dua anaknya juga sudah sarjana. Tak ingin menunda lagi, dia menyegerakan diri untuk berangkat haji, selagi Allah memberikannya usia panjang dan kesehatan yang baik. “Alhamdulillah empat anak saya sudah menikah dan dua lagi sudah sarjana, maka tanggung jawab untuk mereka sudah lepas”, sebutnya mengatakan, mendaftar haji tahun lalu.

Dia menceritakan, impiannya menunaikan haji bukan sekedar angan-angan. Niat hajilah yang memotivasinya turut serta mencangkul mengolah perkebunan orang. Subuh menyiapkan sarapan dan makan siang anak, lalu mengantar sekolah. Siang kembali berpanas-panasan mencangkul di kebun orang, sore hari pulang ke rumah, membersihkan rumah dan kembali lagi mencangkul hingga malam beradu dengan jangkrik.

“Mencangkul membuat tubuh saya bugar walau usia sudah tua renta. Mencangkul membuat saya menjadi wanita tangguh dan pekerja keras. Mencangkul membuat saya bisa naik haji dan punya kebun sendiri. Walau saya dan suami tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi dengan bersawah kami bisa gapai cita-cita tinggi kami untuk pergi haji”, sebutnya mengungkapkan. Lebih dari 20 tahun dia menabung untuk bisa mencium Ka’bah.

Pertanyaan kita, maka sudah berapa tahunkah kita menabung untuk kepentingan haji jika kita ini adalah pribadi mukmin sejati yang belum menggenapkan rukun Islam kita? Semoga perjuangan ibu Nur Ainun mendongrak motivasi dan tekad kita untuk kerja lebih keras untuk pergi haji.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 153 Rubrik Makalah

Penulis : Abu Muslim Zarkasyi

Editor : Anwar