Ketika Jago Tempur Digusur


Pergantian Panglima AS di Afghanistan

Mulutmu harimaumu, pepatah itu kiranya tepat diwejangkan kepada Jenderal Stanley Mc Chrystal. Panglima pasukan Amerika di Afghanistan itu tersandung oleh omongannya sendiri dan harus rela dilengserkan dari jabatan. Ironisnya, ucapan itu dimuat dalam sebuah majalah musik, The Rolling Stones.

Dalam liputan panjang selama beberapa bulan, wartawan Rolling Stones Michael Hasting mengikuti jenderal apes itu selama beberapa bulan. Dari percakapan di hotel mewah di Paris, naik bus bareng di Eropa ketika semua penerbangan distop karena meletusnya Gunung Eyjafallajoekull di Islandia, hingga liputan menyertai sang panglima berpatroli ke garis depan di Afghan.

Dalam wawancara itu, beberapa kali Mc Chrystal kelepasan omong saat rem di otaknya mulai blong akibat menenggak bir Bud Light Lime. Ia mencemooh beberapa pejabat tinggi Washington, antara lain Wapres Joe Bidden, dan Dubes AS di Afghan, Karl Eikenberry. Mereka dianggapnya sebagai politisi Washington yang mengacaukan operasi militer di Afghan.

Setelah laporan itu dimuat The Rolling Stones, Presiden Obama pun murka. Mc Chrystal segera dipanggil dan dicopot dari jabatannya. Ia digantikan oleh atasannya, Jenderal David Petraeus. Beberapa waktu sebelumnya Petraeus sempat menjadi sorotan media karena pingsan saat memberikan keterangan resmi di depan Senat.

Inilah gambaran kekuatan Amerika Serikat dalam mengendalikan Afghanistan saat ini. Intrik internal di kalangan petinggi sipil dan militernya menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka berpecah-belah meskipun dari luar mereka nampak bersatu.Hal ini semakin menunjukkan tak berhasilnya misi militer Amerika.

Beban Amerika dan negara-negara sekutunya semakin berat saja di Afghanistan. Bulan Juni kemarin menjadi bulan paling mematikan bagi pasukan mereka di negeri jajahan. Angka tewasnya personel mereka mencapai 100 orang lebih. Kata “kemenangan” dan “pemulihan keamanan” pun menjadi omong kosong yang tak terbukti.

Sebelumnya, akhir Agustus tahun kemarin, McChrystal memperingatkan Presiden Barack Obama. Dalam sebuah laporan rahasia ia menyatakan bahwa AS akan kalah melawan Taliban dalam setahun ini jika tidak ada penambahan pasukan.

“Kegagalan mendapatkan solusi dan bangkitnya kembali pemberontakan dalam 12 bulan mendatang – sementara kapasitas keamanan Afghanistan belum matang – beresiko satu hal. Mengalahkan pemberontak menjadi tak mungkin,” tulisnya.

Laporan tersebut disampaikan kepada Menteri Pertahanan Robert Gates pada tanggal 30 Agustus 2009. McChrystal juga membuat permintaan formal bagi peningkatan 62.000 kekuatan pasukan AS yang sudah ada di sana.

Dokumen setebal 66 halaman itu kemudian dibocorkan oleh Washington Post. Padahal isinya menunjukkan pesimisme McChrystal memenangkan perang dan menyebutkan semakin kuat dan cerdiknya perlawanan Taliban.

McChrystal memberikan kritik keras pada pemerintah Afghanistan yang korup dan ketidak-efektifan strategi yang dilakukan pasukan internasional yang sejauh ini gagal menang atas warga Afghanistan.

“Lemahnya institusi negara, aksi-aksi fitnah para calo kekuasaan, menyebar-luasnya korupsi dan penyimpangan kekuasaan yang dilakukan oleh berbagai pejabat, dan juga kesalahan kami (Pasukan Bantuan Keamanan Internasional/ISAF), telah memberikan kepada rakyat Afghanistan sedikit alasan untuk mendukung pemerintahan,” tulisnya.

Pasukan internasional menjalankan tugas dengan cara yang membuat jarak – baik secara fisik maupun psikologi- dari masyarakat. Meskipun kaum pemberontak tak bisa mengalahkan kita secara militer, namun ulah kita sendiri yang bisa mengalahkan diri kita.”

Laporan jujur itu menunjukkan bahwa dukungan warga Afghan terhadap pemerintahan boneka Hamid Karzai sangat lemah. Akibatnya, rencana Obama menarik mundur pasukan AS pada tahun ini menjadi tak masuk akal bagi McChrystal.

Bocoran laporan, yang dikonfirmasikan sebagai asli oleh Gedung Putih, Pentagon dan juru bicara McChrystal di Kabul, terjadi sehari setelah Obama memutuskan menunda keputusannya yang lama ditunggu mengenai penambahan pasukan.

Menhan Robert Gates pun mengatakan, Obama perlu waktu untuk mengatur strategi AS dan tak harus terburu-buru dalam memutuskan keputusan yang demikian penting. “Kami perlu waktu dan membuat semua ini baik,” katanya kepada konferensi pers Kamis.

Gayung pun bersambut, Obama akhirnya menunda penarikan mundur pasukan AS. Tadinya penarikan dilakukan bulan Juli tahun ini. Kejelian McChrystal melihat perkembangan situasi di Afghanistan yang tak menguntungkan rupanya bisa diterima oleh Obama.

Sebelumnya, Obama terlihat sangat berambisi untuk segera menarik pasukannya. Ini juga yang dijanjikannya sejak masa kampanye presiden. Namun pertimbangan pragmatis di lapangan rupanya membuat ia berubah pikiran.

Kini kejelian McChrystal menuai masalah. Kritiknya terhadap para bawahan Obama di Washington dan Kabul rupanya tak bisa diterima oleh Obama. Ia dianggap mencederai supremasi sipil atas militer yang menjadi pilar utama demokrasi di Amerika. Ejekan dan kritik tajam seorang jenderal terhadap pejabat sipil tak bisa ia tolerir.

McChrystal digantikan oleh Petraeus yang dikenal sebagai jenderal kantoran. Alumni Universitas Princetown yang bergengsi ini dipandang cerdas, pandai berpolitik di Washington, namun bukan tipe jenderal lapangan seperti pendahulunya.

McChrystal yang berlatar belakang pasukan khusus dikenal sebagai jenderal lapangan tulen. Namun, meski kenyang pengalaman tempur, ia justru mempromosikan strategi COIN (Contrainsurgency) yang berbasis pada “merangkul penduduk lokal untuk menjauhkan mereka dari Taliban.”

Agaknya kekalahan Amerika di Afghan kian jelas saja. Kendati kondisi ekonominya sudah parah, dari setiap satu dolar AS ternyata 50 sennya adalah hutang dari Cina dan Jepang, AS tetap memilih bertempur di negeri mujahidin itu.

Pergantian kepemimpinan dari jenderal lapangan yang “jujur” terhadap situasi riil di Afghan kepada jenderal kantoran jagoan politik memperkuat indikasi itu. Obama dan pasukannya akan menghadapi dua tantangan berat, perlawanan mujahidin Taliban yang terus meningkat dan kemungkinan distorsi fakta lapangan oleh panglima yang kurang kompeten.

Inilah makar Allah atas musuh-musuh Islam. Mereka cerdik membuat makar tetapi makar Allah lebih dahsyat.