Ketika Orang Tua Sibuk Gadget

Sibuk Gadget
Sibuk Gadget

An-Najah.net – Dekat di mata, jauh di hati. Begitu ungkapan yang sering muncul saat ini. Beberapa orang berkumpul, namun masing-masing sibuk dengan gadgetnya.

Tak jarang, di antara mereka bersenda gurau, tersenyum dan bahkan tertawa. Tetapi bukan karena merespon orang yang ada disekitarnya.

Melainkan karena membaca konten lucu di gadget yang dipegangnya. Berjam-jam tidak merasa bosan. Tak heran, ungkapan tersebut menggambarkan kronisnya interaksi sesama masyarakat hari ini.

Ungkapan tersebut membalik ungkapan sebelumnya yang cukup masyhur, jauh di mata dekat di hati.

Jika Orang Tua Sibuk Gadget

Bagaimana jika kondisi di atas terjadi dalam keluarga kita. Orang tua sibuk bermain gadget, sementara anaknya juga dengan kesibukannya masing-masin; smartphone, TV, games.

Tak jarang komunikasi sekedar basa basi, bahkan kadang tidak nyambung. Di depan anak-anak, orang tua enjoy bermain gadget di saat orang tua lain sibuk dengan pekerjaannya.

Jangankan untuk mengontrol ibadah shalat anak, menanyakan kondisi anak seakan tidak sempat. Hubungan keluarga terkesan formalitas dan jauh dari interaksi hati antara orang tua dan anak.

Kondisi orang tua hanya mengantarkan anak menjadi generasi yang merugi. Di antara ciri generasi yang merugi tersebut adalah orang tua tidak menjaga anak-anaknya untuk menunaikan ibadah kepada Allah seperti shalat.

Baik mengajari, membimbing, mengingatkan dan bahkan mengontrolnya. Allah menjelaskan, di antara ciri generasi yang merugi adalah generasi yang meremehkan shalat dan mengikuti hawa nafsu.

Mereka tidak meninggalkan shalat, tetap shalat hanyalah sebagai gugurnya sebuah kewajiban. Bahkan mereka menyia-nyiakan dengan menunda-nunda waktu shalat.

Inilah yang diingatkan Allah dengan firman-Nya; “Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka akan menemui kerugian.” (QS. Maryam: 59).

Dalam haditsnya, Rasulullah n bersabda, “Jagalah anakmu agar selalu melaksanakan shalat, dan biasakanlah mereka berbuat baik, karena berbuat baik itu adalah kebiasaan.” (HR. Tabrani).

Ciri generasi yang merugi lainnya adalah ittibaul hawa (mengikuti hawa nafsu). Generasi yang memburu kesenangan duniawi. Tidak memperhatikan halal-haram, baik buruk.

Mendatangkan keridhaan Allah atau justru kemurkaan-Nya. Dalam benak dan pikirannya adalah bagaimana memenuhi nafsu dan syahwat dunia.

Berbagai kesenangan dan kenikmatan dengan melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah. Mengapa terjadi. Salah satu sebabnya adalah kurang perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.

Orang tua sibuk di kantor dengan pekerjaannya, sementara di rumah sibuk dengan gadgetnya. Anak-anak akan mencari kesenangan dan kesibukan sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.

Jika ini terjadi, maka orang tua hanya akan menunggu penyesalan. Anak tidak menjadi anak yang saleh dan salehah, namun justru menuntut ke dalam jurang api neraka.

Pilar Pendidikan Generasi Rabbani

Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaidi dalam Manhajut Tarbiyah An Nabawiyah lithifli (Pendidikan Rasulullah terhadap Anak) menyebutkan ada tiga pilar utama untuk pendidikan anak-anak agar menjadi generasi yang tanggung dalam menghadapi berbagai goncangan dan godaan setan.

Pertama, shalat. Shalat menjadi pondasi dasar seorang anak dari hal-hal yang negatif. Interaksi langsung dengan Allah menjadikan anak dekat dengan penciptanya.

Ini pula yang diperintahkan Rasulullah terhadap orang tua untuk senantiasa menjaga anak-anaknya dengan shalat sebagaimana hadits di atas.

Menjaga shalat anak menjadi penting di tengah generasi yang serba hedonisme dan terkikisnya rasa takut kepada Allah. Shalat akan membimbing anak untuk senantiasa di awasi Allah dan tumbuhnya rasa takut terhadap Allah.

Kedua; masjid. Masjid menjadi simbul ibadah dan kesalehan seseorang. Jika anak tumbuh dan besar serta hatinya terikat dengan masjid, mereka akan menjadi generasi yang terselamatkan dari berbagai kerusakan, baik kerusakan moral, akhlak maupun berbagai pengaruh buruk lainnya. Masjid juga menjadikan anak terikat hatinya untuk senantiasa beribadah kepada Allah.

Ketiga; puasa. Baik puasa wajib di bulan Ramadhan maupun puasa sunah akan menjadikan anak kokoh dalam menghadapi godaan hidup.

Ia merasakan kenikmatan beribadah. Bersyukur terhadap pemberian Allah dan tumbuhnya sikap simpati dan empati terhadap sesama. Puasa juga menjadi benteng dari berbagai hawa nafsu yang merusak.

Jangan Biarkan Anak Sendiri

Hari ini, hal yang sangat penting adalah mendampingi anak setiap saat. Jangan biarkan anak sendiri, baik dalam bermain maupun bergaul.

Orang tua harus memastikan dengan siapa anak bergaul. Apa yang dikerjakan seorang anak dan memastikan anak rajin beribadah kepada Allah. Orang tua tidak bisa dengan alasan sibuk menyerahkan urusan anak kepada pembantu, orang tuanya bahkan orang lain.

Sesibuk apapun, anak adalah investasi masa depan. Seperti apa pengasuhan orang tua terhadap anaknya, sangat berpengaruh terhadap masa depan anak.

Sudah banyak kisah anak menjadi korban egoisme orang tua. Baik kesibukan pekerjaan maupun yang lain. Tak jarang pula anak menjadi korban padatnya jadwal orang tua jika orang tuanya seorang aktivis dakwah. Alasan tidak ada waktu dengan berbagai kesibukannya.

Di Rumah, sibukkan dengan Anak

Jika sudah di rumah, orang tua harus menyibukkan dengan anak. Perhatian terhadap mereka. Menemani ketika belajar. Bermain dan bergurau dengan anak-anaknya dan berbagai perhatian lainnya.

Jangan sampai hilangnya perhatian orang tua terhadap anak menjadikan anak mencari perhatian orang lain. Hari ini, banyak orang tua sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Jadwal pengajian di masyarakat.

Pertemuan-pertemuan di berbagai forum. Tetapi ketika di rumah, ia juga sibuk dengan gadget dan berbagai urusan yang lain. Jika ini terjadi, anak tidak merasakan kehadiran orang tua dalam hidupnya dengan sempurna.

Anak akan mencari pelarian yang lain. Meskipun awalnya TV, handphone, games, tidak menutup kemungkinan ia akan mencari pelarian yang lain. Semakin jauh, bukan semakin baik, namun justru semakin berdampak negatif.

Jika ini berlangsung terus dan tidak segera di sadari orang tua, kelak orang tua akan menyesal jika ternyata anak tidak sesuai dengan harapannya. Wallahu‘alam bish showab.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 137 Rubrik Usrotuna

Penulis : Mulyanto

Editor : Helmi Alfian