Ketika Para Pemimpin dan Pengikut Saling Melaknat

Ketika para pemimpin dan pengikut saling melaknat
Ketika para pemimpin dan pengikut saling melaknat

An-Najah.net – Ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan kemutlakkan. Sedangkan ketaatan kepada pemimpin, ulil amri, ulama’ serta ketaatan lainnya sifatnya bersyarat. Yaitu selama mereka taat pada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Selama perintah mereka tidak melanggar aturan Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw. Karena memang tidak ada yang ma’sum dari kesalahan kecuali Nabi Muhammad Saw

Rasulullah Saw pernah bersabda;

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. Bukhari: 7257)

Baca juga: Syariat Ilahi Harga Mati

Berbagai fitnah syubhat menyebar di masyarakat. Salah satunya tentang kewajiban taat kepada pemimpin secara mutlak, tanpa melihat siapa yang ditaati. Apakah ia memberikan kecintaannya kepada umat Islam, menyejahterakan rakyat, melindungi para ulama’, atau sebaliknya. Dekat dengan musuh-musuh Islam. Berbuat zalim terhadap Allah dengan membuang syari’at Islam. Berbuat zalim pada rakyat serta menindas mereka, dan mengkriminalisasi para ulama’.

Jika akidah wala’ dan bara’ ini telah rusak dalam diri seseorang, rusaklah akidahnya. Jika akidah sudah rusak, di akhirat Allah Ta’ala akan membalas dosa ketaatan yang membabi buta ini dengan neraka. Balasan yang sebanding dengan kesesatan yang mereka lakukan.

Bersaudara Di Dunia, Bermusuhan Di Akhirat

Allah Ta’ala menjelaskan keadaan para pemimpin yang menyesatkan pengikutnya sehingga mereka semua saling menyesal saat di akhirat. Bahkan mereka saling melaknat satu sama lain. Sang anak melaknat bapaknya. Sang pengikut melaknat para pemimpinnya. Saat di dunia mereka saling mencintai, tetapi di akhirat saling melaknat. Bahkan para pengikut memohon kepada Allah Ta’ala agar para pemimpin mereka yang menyesatkan tersebut diberikan azab yang berlipat ganda. Sebagaimana firman-Nya:

“Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk ke dalam semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami. mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkan­lah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 38).

Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya: Dan berkatalah orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian. ” Kalian tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al A’raf: 39)

Baca juga: Kaki Tangan Penguasa Dzalim

Imam Ibnu Katsir berkata; Allah Ta’ala berfirman memberitakan perihal apa yang dikatakan-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah membuat-buat dusta terhadap-Nya dan mendustakan ayat-ayat-Nya: “Masuklah kamu sekalian bersama umat-umat lain” beserta orang-orang yang semisal dengan kalian serta memiliki sifat-sifat kalian “yang telah terdahulu sebelum kalian.” (QS. Al-A’raf: 38).

Yakni dari kalangan umat-umat kafir yang terdahulu. Dari kalangan makhluk jin dan manusia ke dalam neraka. (QS. Al-A’raf: 38). Firman ini dapat diartikan sebagai badal dari firman-Nya, “Fi umamin” dapat pula diartikan bahwa makna fi umamin adalah ma’a umamin (yakni bersama-sama dengan umat-umat).

Sedangkan Firman Allah Ta’ala:Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka) mengutuk kawannya” (yang telah menyesatkannya). Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Nabi Ibrahim yang disitir oleh firman-Nya: “kemudian di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain)”. (Al-Ankabut: 25), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Ta’ala: “sehingga apabila mereka masuk ke dalam semuanya.” Maksudnya, semuanya telah berkumpul di dalam neraka. “berkatalah orang-orang yang masuk kemudian kepada orang-orang yang masuk terdahulu.” Maksudnya, orang-orang yang masuk belakangan, yaitu mereka yang menjadi pengikut.

Mereka masuk ke dalam neraka lebih dahulu karena kejahatan mereka lebih parah daripada para pengikutnya yang masuk kemudian.

Maka orang-orang yang menjadi pengikut mengadukan perihalnya kepada Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti. Karena orang yang masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang menyesatkan kaum mukminin dan orang awam.

Keluhan Yang Tak Berarti

Mereka (para pengikut) mengeluh;

رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Sebab itu, datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” (QS. Al-A’raf: 38)

Baca juga: Saat Penguasa Harus Diluruskan

Mereka bermaksud meminta hukuman dan siksaan yang berlipat ganda untuk oknum-oknum yang menyesatkan mereka (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, cet II, Jilid 3, Hal. 410, versi syamila).

Sedangkan firman Allah Ta’ala: Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.” Sayyid Qutub dalam Tafisr Fii Dhilalil Quran: Kamu dan mereka akan mendapatkan siksa yang berlipat ganda sesuai dengan permintaanmu. Seakan akan orang-orang yang didoakan itu hendak mengecewakan hati orang-orang yang mendoakan, ketika mereka mendengar jawaban doa tersebut. Lalu mereka mengarahkan kegembiraanya atas bencana yang menimpa orang orang yang berdoa itu pula seraya mengatakan “ Kita semua sama” di dalam menerima pembalasan ini. (Sayyid Qutub, Tafisr Fii Dhilalil Quran, cet XVII, jilid 3, hal. 1290, versi syamila)

Imam As Sa’di mengatakan bahwa sudah maklum bahwa azab untuk para pemimpin kesesatan lebih berat dibandingkan para pengikutnya. Sebagaimana kenikmatan para penunjuk kebenaran lebih besar dibandingkan yang mengikutinya.

Maka wajib bagi seseorang untuk menaati pemimpinnya jika ketaatan itu sama dengan taat pada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Jika arahan pemimpin tidak sesuai tuntunan Islam dan tidak mau mengatur bawahannya dengan syari’at Islam, berbuat zalim dan tidak mau menegakkan keadilan, tidak mau untuk melindungi para da’i dan berusaha menyebarkan Islam maka tidak wajib mematuhinya. Atau bahkan wajib menolak perintahnya.

Saat itu terjadi, seseorang wajib menjelaskan kebenaran kepada umat. Agar umat tidak terbelit dalam syubhat ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan pada umat ini para pemimpin yang adil, supaya umat benar-benar merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Aamiin ya rabbal alamin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah, edisi 152, hal. 14-15

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas