Ketika Pemberantasan Terorisme Meresahkan

Denanjing(An-Najah.net) – Syafrudin (55) tak punya firasat apa-apa pada siang hari 20 Desember tahun lalu. Ia menjalani separuh hari itu dengan mengajar di SMPN I Kalora di Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso. Sebelum pulang ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah, Syafrudin seperti biasanya mampir dulu menunaikan shalat berjamaah di masjid utama Desa Kalora, Nurul Iman.

Sampai di rumah, Syafrudin mengistirahatkan diri. Belum lama rehat, ia mendengar ketukan keras di pintu rumahnya. Begitu pintu dibuka, beberapa anggota Brimob dari Polda Sulawesi Tengah menodongkan moncong senjata ke wajah Syafrudin.

Para Petugas itu meminta Syafrudin ikut untuk diperiksa di pos polisi Desa Kolara. Karena masih mengenakan kaus gantung, ia meminta izin untuk mengenakan pakaian.

Keluar rumah, Syafrudin langsung diangkut dengan truk milik kepolisian menuju pos polisi. Di pos polisi, para petugas menanyai Syafrudin sejumlah pertanyaan. Tapi, bukan itu saja, pertanyaan juga disertai bogem mentah yang mendarat di wajah Syafrudin.

Kepada Syafrudin, para polisi menerangkan, pencidukan terhadap dirinya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Kalora,  pagi hari itu sekitar pukul 10.00 WITA. Saat itu, sebanyak enam orang anggota Brimob ditembaki oleh kelompok sipil bersenjata. Tiga diantaranya gugur di tempat, satu meninggal di rumah sakit, dan dua terluka.

Syafrudin mengatakan, tak paham soal kejadian tersebut pada petugas polisi. namun, polisi bersikeras menanyakan keberadaan seorang warga Desa Kalora bernama Guntur yang menurut mereka terlibat penembakan. Syafrudin menjawab sekenanya. Guntur sedang berada di pusat Kota Poso.

Densus88-demo_umat_islam_solo_protes-densus-88-jpeg.imge_1Alih-alih puas dengan jawaban Syafrudin, petugas polisi melayangkan satu pukulan lagi yang akhirnya membuat Syafrudin taksadarkan diri.Ketika terbangun dari pingsan,  Syafrudin diberitahu telah berada di Mapolresta Poso. ” Saya sudah tidak rasa lagi dsudah diapakan semua saya selama dalam perjalanan,” ungkap Ari Fahri (20 tahun) kepada Republika mengutip pernyataan ayahnya, Syafrudin.

Hari ketujuh setelah penahanan, kepolisian menyatakan, Syafrudin tak bersalah. Ketika dilepaskan Ari nyaris tak mengenali Syafrudin. ” Muka babak belur. Bersamanya, masih ada orang lain yang juga mengalami hal serupa,” papar Ari.

Ia menambahkan, jumlah orang yang mengalami nasib sama dengan Syafrudin sebanyak 14 orang. Para korban salah tangkap itu berasal dari Desa Kalora dan Desa Tambarana. Sebanyak sembilan orang bekerja senagai penambang  dan lima merupakan warga kampung. Menurut Ari, ayahnya juga mengalami sejumlah luka di organ dalam. Secara psikologis, Syafrudin juga terguncang.

Ari mengatakan, belum sekalipun pihak kepolisian menyampaikan permintaan maaf kepada Syafrudin maupun pihak keluarga. Tak ada juga pemberian bantuan untuk pengobatan di rumah sakit.

Mabes Polri mengatakan, empat belas anggota Brimob yang diduga  melakukan tindak kekerasan pada sejumlah warga di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kini terus diperiksa. Kabiro Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, Polda Sulteng sudah membentuk tim untuk menelusuri dugaan pelanggaran kode etik itu.

Meskipun begitu, belum ada tersangka dari penyelidikan internal. Selain itu, keempat belas anggota Brimob ini pun masih diizinkan aktif bertugas di posnya masing-masing. “Tapi, komitmen kami jelas. Laporan ini terus diusut,” kata dia.

 

Senjata makan tuan

spanduk_kapoldasuKomisioner Komnas HAM subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan Siane Indriani menduga, tindakan Densus 88 dan kepolisian yang menurutnya represif  bakal berbalik. Jika Densus 88 tak menggunakan cara yang lebih halus dalam pemberantasan terorisme, keselamatan aparat lokal akan terus terancam.

Siane menerangkan, Densus 88 barangkali hanya bertugas di Poso hanya dalam hitungan bulan. “Jangan sampai sikap represif mereka mengakibatkan kemarahan warga yang mana akan ditumpahkan ke aparat organik yang kesehariannya bertugas di Poso,” ujar Siane.

Siane meminta Densus 88 bersikap terbuka dalam menjalankan operasinya. Menurutnya, kepolisian bisa mengumumkan target operasi terorisme di Poso, sehingga masyarakat bisa lebih berantisipasi, tapi tak ketakutan.

Senada, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siradj mendesak Densus 88 bertindak lebih profesional. “Penanganan terorisme tidak bisa denga cara -cara represif saja,” ujar Said.

Said mengisahkan, PBNU juga sudah didatangi empat warga Poso. Para warga ini menceritakan munculnya perasaan was-was masyarakat di Poso akibat tindakan represif Densus 88 dalam penanganan terorisme belakangan ini.

Menurut Said, ia akan meneruskan laporan warga tersebut ke presiden. “Jangan sampai cara-caranya justru menimbulkan trauma bagi masyarakat yang tidak bersalah,” kata Said. [Rubrik Podium, Republika 11 Januari 2013, hal 17]