Kezaliman Fir’aun Terhadap Bani Israil

Fir'aun
Fir’aun

An-Najah.net – Kisah Fir’aun dan kekejamannya terhadap bani Israil meninggalkan hikmah yang besar bagi umat Islam. Akibat kesombongan Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, dia pun dilaknat Allah Swt. Ia tewas yang cukup mengenaskan, bala tentaranya yang banyak tidak dapat menyelamatkan. Ketika ia dan pasukkannya ditenggelamkan di laut merah.

Ibnu Katsir, dalam kitab Qashash al anbiya’ menceritakan Allah Swt berfirman

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ

“Sesungguhnya, fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah…”(Qs. Al Qashash : 4)

maksudnya Fir’aun bertindak diluar batas, zalim, dan sewenang-wenang demi memenuhi nafsu duniawi. Ia berpaling dari ajaran tuhan yang Mahatinggi dan tidak memenuhinya. Ia menjadikan penduduk negerinya terpecah belah. Rakyatnya sengaja dibeda-bedakan berdasarkan strata sosial dan kelompok tertentu.

Ia terus menindas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kelompok masyarakat yang tidak disukainya, yaitu golongan bani Israil yang berasal dari garis keturunan nabi Ya’qub ibnu Ishaq ibn Ibrahim Khalilullah.

Fir’aun Raja Diktator

Saat itu bani Israil merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang terbaik, tetapi kemudian mereka dipimpin oleh seorang raja yang zalim, durhaka, melampui batas dan kafir. Raja yang zalim itu memerintahkan rakyatnya untuk selalu patuh dan menyembah kepadanya.

Sungguh hal tersebut merupakan perilaku dan pilihan hidup dari penguasa yang terburuk dalam sejarah manusia. Ia seorang raja yang sangat kafir dan durhaka. Ia memerintahkan para prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang ada di wilayah kekuasaannya.

Sebagaimana firman Allah Swt :

يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Menyembelih anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya, fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al Qashash : 4)

Raja Fir’aun melakukan tindakan sangat keji itu karena dilatarbelakangi oleh realita yang terjadi pada bani Israil yang aktif mempelajari al Kitab yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim as. Di dalam kitab itu dinyatakan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari keturunan Ibrahim yang akan menghancurkan raja Mesir yang sedang berkuasa.

Berita gembira akan lahirnya seorang laki-laki yang menjadi pemimpin di kalangan bani Israil itu sudah menyebar luas di kalangan masyarakat Mesir saat itu. Informasi itu terus menyebar turun temurun di kalangan mereka hingga diketahui oleh Fir’aun.

Hal ini mempengaruhi kebijakan dan keputusan yang diambil oleh Fir’aun dan terus berlangsung dalam pemerintahnnya. Hingga akhirnya dibuatlah suatu keputusan radikal oleh Fir’aun sebagai bentuk antisipasi dan sikap waspada dari bahaya laten anak-anak lelaki bani Israil. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh fir’aun itu tidak akan mampu mencegas kehendak taqdir.

Fir’aun benar-benar melakukan segala upaya agar jangan sampai muncul laki-laki itu sebagaimana yang dikabarkan oleh ahli kitab. Oleh sebab itu, Fir’aun membentuk tim khusus yang ditugaskan untuk mendapat setiap wanita hamil dan hendak melahirkan. Jika wanita itu melahirkan anak-anak laki-laki, anak laki—laki itu langsung dibunuh saat itu juga.

Makar Fir’aun Vs Makar Allah Swt

Fir’aun telah berbuat makar, namun Allah Swt adalah sebaik-baik pembuat  makar. Meskipun Fir’aun memiliki bala tentara yang banyak dan kuat serta kekuasaannya sanga luas. Akan tetapi, Allah Swt Mahaagung tidak dapat dikalahkan dan ketetapannya tidak dapat dihindari oleh siapa pun.

Allah telah menentukan suatu ketetapan dan kepastian bahwa anak laki-laki itu (Musa) tidak dapat dihindarinya. Disebabkan oleh anak laki-laki itu pula, Fir’aun telah membunuh banyak nyawa yang tidak terkira jumlahnya.

Allah Swt memang sebaik-baik pembuat makar. Ternyata anak laki-laki itu ada di istana Fir’aun. Ia makan dan minum dari makanan serta minuman yang ada ditempat Fir’aun. Fir’aun malah mengangkat anak laki-laki itu sebagai anak angkat.

Bahkan ia mendidik dan membesarkannya. Hingga akhirnya ditangan anak angkat itu terletak kebinasaan di dunia dan akhirat. Karena fir’aun menentang kebenaran yang dibawanya dan ia telah mendustakan apa yang diwahyukan kepadanya.

Hal itu terjadi agar ummat ini mengetahui bahwa Allah Swt pencipta langit dan bumi akan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dialah Allah yang maha kuasa lagi mahaperkasa. Tidak ada daya dan upaya, kecuali hanya miliknya semata. Apa yang dihendakinya pasti terjadi dan tidak ada kekuatan dari mana pun yang dapat menolak takdir-Nya.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Sumber : Kitab Qashash Al Anbiya (Kisah Para Nabi), Ibnu Katsir

Editor : Abu Khalid