Browse By

Khilafah Di Tanah Jawa, Cita-Cita Perjuangan Diponegoro

Diponegoro Pejuang Khilafah

Diponegoro Pejuang Khilafah

An-Najah.net – Tegaknya kekhilafahan di tanah Jawa merupakan cita-cita pangeran Diponegoro. Untuk menggapai cita-cita ini tidaklah mudah. Halangan dan rintangan senantiasa datang menghadang. Pengorbanan harta, tenaga, dan pikiran dikerahkan, bahkan ribuan nyawa menemui kesyahidan di medan perjuangan.

Diponegoro potret seorang pemimpin muslim yang luas ilmunya dan kuat fisiknya (basthatan fil ‘ilmu wal jismi). Ia mampu mengabungkan seluruh potensi umat dalam perjuangan ini. Ia memiliki hubungan yang baik dengan para Bangsawan, Demang, Bekel, Kyai dan Ulama.

Diponegoro mendapatkan dukungan dari dua basis utama, yaitu kalangan komunitas santri dan pendukung berbasis kedaerahan. Dalam tradisi pesantren, seorang santri yang tamat belajar wajib menjalankan semacam ‘inisiasi’, yaitu menggembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain (dakwah). Pangeran Diponegoro memanfaatkan anggota komunitas religius untuk menjaga dan memelihara kontak-kontak hubungan dengan para pendukungnya. Selain komunitas santri, pendukung Diponegoro berasal dari lintas daerah, dengan tingkatan mutu tempur pasukan yang bertingkat.

Dalam perjuangan pangeran Diponegoro mengikuti model Janissari (Pasukan elit kekhilafahan Utsmaniyah abad ke-16) yang disesuaikan dengan kondisi Jawa. Ia tidak meniru korps model Barat. Untuk menjalankan strategi perlawanan, Diponegoro menggunakan struktur organisasi dan hierarki kemiliteran khilafah Utsmaniyah untuk kepangkatan pasukannya.

Struktur pasukan Diponegoro Alipasha setara komandan divisi diadopsi menjadi Alibasah. Di bawahnya, Pasha setara komandan brigade menjadi Basah. Kemudian setara komandan batalyon adalah Dulah, yang diadopsi dari istilah kepangkatan Agadulah. Untuk setara komandan kompi diambil istilah Seh.

Dialog Perundingan

Perang Jawa berlangsung cukup lama. Selama lima tahun pangeran Diponegoro memimpin langsung medan peperangan untuk menggapai cita-cita itu. Begitu banyak syuhada yang gugur. Konon 200.000 rakyat dan prajurit Diponegoro yang gugur dalam medan perjungan. Namun, meskipun lelah beliau tetap melangkah tetap berjuang. Jumlah tersebut sama dengan sepertiga penduduk Pulau Jawa pada masa tersebut.

Ternyata di pihak penjajah kafir Belanda juga mengalami penderitaan, 8000 orang serdadu Eropa tewas dan 7000 orang serdadu bangsa pribumi. Biaya perang yang harus mereka keluarkan mencapai sekitar 25 juta gulden.

Kejadian ini mengingatkan nasihat Allah SWT jika kamu menderita, sesungguhnya mereka juga menderita. Akan tetapi, kamu mempunyai pengharapan di sisi Allah, sedangkan mereka tidak punya pengharapan. (Qs. An-Nisa: 104)

Jenderal De Kock berkali-kali menawarkan perdamaian dengan pangeran Diponegoro. De Kock meminta perdamaian karena kekalahan-kekalahan yang ia derita diberbagai medan pertempuran. Pemerintah Belanda sendiri sudah berulangkali mengancamnya akan menarik dan memanggil pulang untuk diganti dengan jenderal yang lain bila De Kock tidak berhasil menyelesaikan perang Diponegoro.

Ketika gubernur Jenderal Van Den Bosch sudah siap mengadakan perjamuan perpisahan berhubung Jenderal De Kock dipanggil pulang ke Belanda sebagai jenderal yang gagal menjalankan tugasnya. Tiba-tiba ada laporan bahwa kolonel Cleerens, salah seorang komandan Belanda berhasil mengadakan hubungan dengan pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan politik, tetapi bukan penyerahan kepada Belanda. Berhubung Cleerens bukanlah lawannya di meja perundingan, ia Cuma opsir penghubung. Lawan di meja perundingan adalah Jenderal Van Den Bosch atau De Kock.

Pangeran Diponegoro mengajukan syarat, apabila perundingan mengalami jalan buntu, pertempuran diteruskan untuk penyelesaian terakhir. Sebab itu, selama perundingan berlangsung pangeran Diponegoro dan para perwira serta anak buahnya dilindungi kekebalannya hingga di garis demarkasi untuk melanjutkan pertempuran seterusnya.

28 Maret 1830, sejarah hitam bagi perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro yang disertai pangeran Anom, putranya dan beberapa orang perwiranya. Mereka memasuki ruang perundingan di rumah residen Magelang, Valck. Di sana telah menanti Jenderal De Kock, residen Valck dan beberapa opsir lainnya. Setelah opsir penghubung Belanda yang bertugas menjemput pangeran Diponegoro melapor bahwa segala sesuatu telah siap, maka perundingan langsung dimulai.

Pangeran Diponegoro duduk berhadapan dengan jenderal De Kock sebagai fihak yang sejajar, sama tingkat, dan masing-masing mempunyai kedaulatan yang harus dijunjung tinggi. Dihadapan De Kock, pangeran Diponegoro menjelaskan tujuan perundingan untuk mencapai perdamaian atas dasar Belanda harus mengakui Pageran Diponegoro sebagai Khalifatullah Amirul mu’minin satu-satunya yang memerintah tanah Jawa, adapun mengenai daerah-daerah lain nusantara kita dapat dimusyawarahkan di atas meja perundingan. (Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangan di Indonesia. Hal ; 559)

Jenderal de kock pura-pura terkejut atas penjelasan pangeran Diponegoro “Keterkejutan” itu sengaja dibuat untuk menjadi anak tangga pertama menuju perundingan gagal, sesuatu yang telah matang direncanakan untuk menangkap pangeran Diponegoro dengan dalih tuntutannya yang “Tidak masuk akal”.

Gelagat kecurangan De Kock cepat tercium oleh pangeran Diponegoro. Walaupun kepada De Kock telah diperingatkan tentang janji seorang ksatria, namun tidak ada gunanya karena De Kock memang bukanlah seorang ksatria.

De Kock tidak memperkenankan pangeran Diponegoro pulang kembali ke markasnya karena hal itu berarti peperangan akan berkobar lagi. Belanda tidak sanggup meneruskan perang. De Kock dengan angkuhnya mengatakan pendek, “Tuan tidak boleh lagi kembali bebas!”

Pageran Diponegoro menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia berdiri dari kursinya menatap kedua mata De Kock yang penuh kepalsuan itu dalam kemarahan yang memuncak. Telunjuknya ditudingkan di depan hidung Jenderal De Kock yang curang lagi licik itu.

“De Kock! Kau seorang penipu dan curang!” ungkap pangeran Diponegoro. Sambil menatap seluruh muka orang-orang Belanda yang ada di sekitar meja perundingan, pangeran Diponegoro menunjuk hidung orang Belanda itu satu demi satu “Kau, kau, kau semua penghianat”.

Pangeran Diponegoro ditangkap dalam suatu penyergapan tiba-tiba yang sudah matang disiapkan oleh tiga orang letnan kolonel yang masing-masing memimpin pasukan khusus penyergapan. Kemudian pangeran Diponegoro ditawan di benteng Belanda di Ungaran untuk esok harinya dibawa ke Semarang dan selanjutnya ke Batavia. Akhirnya Diponegoro diasingkan di Manado hingga akhir hayatnya dalam usia 70 tahun.

Dari jelajah perjuangan pangeran Diponegoro ini memberikan inspirasi. Ide mendirikan sistem kekhilafahan ini merupakan cita-cita para pejuang sejak zaman dahulu. Impian ini juga berdasarkan wahyu dari nabi Muhammad SAW, bahwa kekhilafahan ‘ala minhaji nubuwah akan kembali tegak. Kalau menghadang ide pemikiran ini berarti menolak bisyarah (kabar gembira) yang disampaikan Rasulullah SAW. Sebagai generasi muda muslim sejati sudah selayaknya melanjutkan cita-cita perjuangan pada pendahulunya.

Dikutip dari Majalah An-najah Edisi 140 Rubrik Jelajah hal; 28

Penulis : Anwar

Editor : Abu Khalid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *