Khutbah Jumat: Akibat Dosa Bagi Kehidupan Manusia

Akibat dosa bagi kehidupan manusia
Akibat dosa bagi kehidupan manusia

An-Najah.net – Akibat dosa, seorang hamba sengsara di dunia apalagi di akhirat. Manusia Sering berbuat dosa tanpa disadari. Ada juga yang tahu, bahwa perbuatan tersebut berdosa namun tetap saja melakukannya dikarenakan merasa enak. Padahal tidaklah seseorang melakukan dosa dengan tidak dibarengi penyesalan dan taubat, kecuali akan melahirkan dosa-dosa yang lain.

Baca juga: Khutbah Jumat: Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Setiap pencuri, pasti akan berbohong saat mengelak. Jika ia ketahuan pasti akan mengancam dan tidak segan membunuh orang yang mengetahui pencurian tersebut. Demikian pula orang yang berzina. Dia pasti akan berbohong untuk menutupi perbuatannya. Dan perbuatan-perbuatan keji lainnya, yang mana pelakunya akan berusaha menyembunyikan dan menutup-nutupinya.

Begitulah dosa akan menyeret pada pelakunya hingga pada dosa kekufuran terhadap Allah Ta’ala. Dosa bisa juga menjadikan hati tidak tenteram, enjoy dan tenang. Walau mungkin seseorang merasa senang saat melakukan dosa tersebut. Tetapi, setelah itu akan melahirkan perasaan cemas dan kekawatiran yang terus menerus, tumbuh menggerogoti perasaannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (HR. Muslim no. 2553).

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Ada pepatah yang mengatakan “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Demikian pula dengan dosa yang kita lakukan. Dosa sedikit ternyata berpengaruh besar bagi kehidupan manusia. Maka, tidak diperbolehkan seorang hamba meremehkan dosa walaupun kecil karena sesuatu yang kecil jika dilakukan terus menerus akan menjadi besar.

Para salaf sebagai generasi terbaik umat ini memberikan contoh kepada kita tentang sikap mereka terhadap perbuatan dosa. Anas bin Malik mengatakan,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi Saw menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” (HR. Al-Bukhari: 6492)

Namun, generasi setelahnya yang berbuat dosa besar, malah menganggapnya remeh. Seolah-olah hanya perbuatan dosa kecil atau bahkan tak merasa berbuat dosa dan maksiat sedikit pun, akibat terlalu meremehkan dosa. Sungguh sangat jauh jika dibandingkan mereka dengan generasi kita.

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Ibnu Qoyyim Al-Jauzi menyampaikan bahwa ada tiga akibat dosa bagi kehidupan manusia:

Pertama, Terhalangnya Ilmu.

Karena ilmu adalah cahaya dari Allah Ta’ala. la tidak akan masuk, kecuali ke dalam hati yang bersih. Suatu ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik. Ketika itu Imam Malik terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafi’i. Lalu Imam Malik berkata, “Allah Ta’ala telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Baca juga: Khutbah Jumat, Ketika Ilmu menjadi Langka dan Kebodohan Meralalela

Namun pada suatu hari ketika Imam Syafi’i sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya bernama Waki’ lbnul Jarah. la melihat tumit seorang wanita. Seketika itu pula hafalannya kacau, padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya.

Imam Syafi’i kemudian mengadukan kepada Waki’ lbnul Jarah dengan mengatakan, “Kuadukan kepada Waki’ buruknya hafalanku. Maka ia menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat. la juga mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Bisa kita bayangkan seandainya orang seperti Imam Syafi’i hidup di jaman kita, pasti sangat sulit terhindar dari dosa. Bagaimana tidak, begitu keluar rumah banyak dijumpai wanita yang bukan mahram mengumbar auratnya. Bukan hanya tumit yang kelihatan seperti yang tak sengaja dilihat Imam Syafi’i, namun seluruh tubuhnya bahkan bisa terlihat hari ini. Nastagfirullah wa Natubu ilahi

Mungkin inilah yang menjadikan banyak di antara kita sangat buruk hafalannya. Karena setiap hari kita menyaksikan aurat wanita di mana-mana. Termasuk bagi perempuan mereka juga sering melihat aurat kaum lelaki. Meski mungkin jumlahnya lebih banyak kaum wanita yang ’terbuka’.

Baca juga: Khutbah Jumat ; Ujian Dahsyat Terhadap Keimanan di Akhir Zaman

Sudah selayaknya bagi kita untuk berintrospeksi diri. Kenapa banyak di antara kita yang bodoh dan sedikit ilmu. Selain karena tidak pernah belajar juga karena banyaknya maksiat yang merajalela. Sehingga iImu tidak bisa masuk kepada orang yang selalu berbuat maksiat.

Sulitnya menghafal Quran, tidak masuknya ilmu saat majlis taklim, tidak masuk nasehat saat diberi nasehat, tidak bersemangat untuk menuntut ilmu, males beribadah, maksiat dimana-mana. Mungkin, penyebabnya adalah maksiat yang kita perbuat sendiri.

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Kedua, Hilangnya Rasa Malu.

Berbuat dosa kepada Allah Ta’ala bisa menghilangkan rasa malu. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari: 6120)

Maknanya bukan berarti bahwa Rasulullah Saw memberikan kebebasan yang membawa manfaat, melainkan mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki, padahal risikonya ditanggung sendiri. Ungkapan itu senada dengan firman Allah Ta’ala,

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Perbuatlah apa yang kamu ”kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushilat: 40)

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga kita agar sendi-sendi dan bangunan keimanan tidak hancur. Jika seseorang senantiasa menjaga rasa malu ini, maka ia tidak akan meremehkan perbuatan dosa.

Baca juga: Khutbah Jumat; Kejujuran Menghantarkan Ke Jannah

Karena rasa malu dia kepada Allah Ta’ala, manusia, serta saudara-saudaranya yang beriman. Namun sebaliknya, bila seseorang telah dicabut rasa malunya oleh Allah Ta’ala, maka ia akan berbuat dosa semaunya. Bahkan orang tersebut merasa bangga dengan dosa-dosa yang telah ia Iakukan. Wal ‘iyadzubillah

Sehingga, pada saat ini banyak di belahan bumi yang terkena musibah akibat dosa-dosa mereka sendiri. Gempa, banjir, tsunami, tanah longsor, dan semisalnya adalah tentara Allah Ta’ala yang diutus untuk memberi peringatan bagi para hamba-Nya yang beriman.

Tanpa kita sadari, ternyata kita sering mengabaikan sikap yang satu ini. Entah, karena merasa sudah paling sempurna. Terhindar dari perbuatan dosa atau memang tak tahu malu.

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Ketiga, Terhalangnya Rezeki.

Karena maksiat, Allah Ta’ala akan menyempitkan dan menjauhkan rezeki yang seharusnya menjadi jatah seorang hamba. Kalaupun terlihat ‘melimpah’, sesungguhnya itu adalah istidraj. Yaitu penguluran dalam kenikmatan sehingga ia dicabut Allah Ta’ala dan belum sempat bertaubat.

Baca juga: Sunnah Rabbaniyah dan Bencana Alam di Akhir Zaman

Allah Ta’ala hendak mencobanya dengan berbagai kenikmatan, entah kekayaan, keturunan, jabatan dan kenikmatan-kenikmatan yang lainnya. Ketika ia merasa bahwa Allah Ta’ala tetap baik padanya meskipun dia banyak maksiat, maka ketika itu Allah Ta’ala akan hempaskan ke kebinasaan. Seolah tiada artinya apa yang di perolehnya selama ini.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki karena dosa yang dilakukannya” (HR. Ahmad 22438)

Sebaliknya, takwa kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu sarana untuk memudahkan datangnya rezeki. Dan dengannya pula segala urusan yang susah akan menjadi mudah, yang sempit akan menjadi lapang, sebagaimana firman-Nya,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rejeki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Jama’ah sidang jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Demikianlah akibat dosa bagi kehidupan manusia menjadikan seseorang sengsara di dunia, sebelum kesengsaraan yang abadi di kampung akhirat. Kita berdoa semoga kita dijauhkan dari berbagai kemaksiatan dan dijadikan Allah Ta’ala cinta terhadap berbagai kebaikan.

Cukuplah belahan bumi hari ini yang ditimpa dengan berbagai ujian, cobaan dan musibah, menjadi teguran, peringatan bagi kita orang Islam yang mengaku beriman. Pasti ada hikmah dan ibrah yang bisa kita ambil dari berbagai ujian, cobaan, dan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di belahan bumi sana.

Baca juga: Hikmah di Balik Musibah Palu dan Donggala

Demikian khutbah yang kami sampaikan, semoga kita terjaga dari berbagai dosa dan dibimbing Allah Ta’ala di jalan-Nya untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqomah, taat kepada-Nya. Amin Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 88, hal. 31-33

Penulis             : Akrom

Editor               : Ibnu Alatas