Khutbah Jumat: Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak

penghancur iman
penghancur iman

An-Najah.net – Ada gelombang dahsyat yang menimpa umat Islam sedunia, yaitu gelombang budaya jahiliah yang merusak akhlak dan akidah manusia yang disebarkan lewat berbagai media. Gelombang itu pada hakikatnya lebih ganas dibanding senjata-senjata nuklir yang sering dipersoalkan secara internasional. Karena gelombang dahsyat tersebut sasarannya bukan sebuah kota atau lokasi tertentu. Melainkan yang diincar adalah akhlak dan akidah seseorang.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Sudah kita ketahui bersama, agama yang paling menjunjung tinggi akhlak dan akidah hanyalah Islam, maka yang paling prihatin dan menjadi sasaran utama adalah umat Islam. Namun, yang disayangkan pembicaraan tersebut hanya sampai pada tarap keluhan para ulama dan Muslimin yang teguh imannya, serta sebagian ilmuwan yang obyektif.

Baca juga: Khutbah Jumat: Saat Kebohongan Dan Kemunafikan Merajalela

Fakta Yang Terjadi

Di era modern ini, gelombang dahsyat tersebut semakin ganas dan merajalela, menggerogoti keimanan dan akhlak kaum muslimin dari dalam. Cukup dengan Hp android yang terhubung internet, kaum muslimin dengan mudah mengakses berbagai media sosial terutama Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan situs-situs lainnya yang bisa membahayakan penggunanya, jika tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Sehingga bisa merusak akhlak dan keimanan kaum muslimin. Dan inilah fakta yang terjadi hari ini.

Semua bisa mengakses baik dari kalangan balita, remaja, sampai lanjut usia, mereka semua dengan mudah mengakses media sosial tanpa tebang pilah. Dunia Islam seakan menangis menghadapi gelombang dahsyat tersebut. Bukan hanya di Indonesia, namun di negara-negara lain pun dilanda gelombang dahsyat yang amat merusak ini.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Charterz (seorang peneliti) pernah berkata: “Sesungguhnya pembangkitan syahwat dan penayangan gambar-gambar porno, dan visualisasi (penampakan gambar) trik-trik porno, di mana sang bintang film menanamkan rasa senang dan membangkitkan syahwat bagi para penonton dengan cara yang sangat vulgar bagi kalangan anak-anak dan remaja itu amat sangat berbahaya.”

Baca juga: Khutbah Jumat ; Menjadi Manusia Terasing di Akhir Zaman

Peneliti ini telah mengadakan statistik kumpulan film-film yang ditayangkan untuk anak-anak sedunia, ia mendapatkan bahwa:

  • 29,6% film anak-anak bertemakan seks
  • 27,4% film anak-anak tentang menanggulangi kejahatan
  • 15% film anak-anak berkisar sekitar percintaan dalam arti syahwat buka-bukaan.

Terdapat pula film-film yang menampilkan kekerasan yang menganjurkan untuk balas dendam, memaksa, dan brutal. Hal tersebut dikuatkan oleh sarjana-sarjana psikologi, bahwa berlebihan dalam menonton program-program televisi dan film mengakibatkan kegoncangan jiwa dan cenderung kepada sifat dendam dan merasa puas dengan nilai-nilai yang menyimpang. (Thibah Al-Yahya, Bashmat ‘alaa waladi/ tanda-tanda atas anakku, cet II, hal 28).

Sehingga persoalan tersebut sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin khususnya. Maka, jangan heran apabila akhlak, sopan santun, toto kromo, generasi Islam hari ini bobrok tak karuan. Perzinaan di mana-mana, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, perjudian, dan berbagai dampak negatif dari gelombang dahsyat tersebut.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Budaya jahiliah itu jelas akan menjerumuskan manusia ke neraka. Sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan kita agar menjaga diri dan keluarga dari api Neraka. Firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).

Sirkulasi perusakan akhlak dan akidah

Dengan ramainya lalulintas tayangan yang merusak akidah dan akhlak lewat berbagai jalur media. Baik lewat penayangan-penayangan televisi, film-film di VCD, CD, bioskop, gambar-gambar cetak berupa foto, buku, majalah, tabloid dsb. Yang mudah di dapat dengan mudah hari ini.

Tayangan, gambar, suara, dan bacaan yang merusak akidah dan akhlak tersebut. Mengakibatkan praktik dalam kehidupan keseharian yang sudah menyimpang dari akhlak dan akidah yang benar.

Dari sisi lain, kemaksiatan itu pun diprogramkan kepada masyarakat dengan aneka cara, ada yang dengan paksa, misalnya menyeragami para wanita penjaga toko dengan pakaian ala jahiliah. Sehingga, umat Islam didesak dengan aneka budaya yang merusak akidah dan akhlak, dari yang sifatnya tontonan sampai praktik paksaan.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Bukankah, Nabi Muhammad Saw telah memperingatkan jauh-jauh hari agar umat Islam tidak mematuhi suruhan siapa pun yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala. Beliau bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam maksiat pada Allah Tabaraka wa Ta’ala.” ( HR. Ahmad: 20191)

Sikap Ummat Islam

Masyarakat Muslim pun beraneka ragam dalam menghadapi kepungan gelombang dahsyat tersebut.

Golongan pertama, prihatin dengan bersuara lantang di masjid-masjid, di majlis-majlis ta’lim dan pengajian, di tempat-tempat pendidikan, dan di rumah masing-masing. Mereka melarang anak-anaknya menonton televisi dan mengakses Hp yang terhubung internet. Dikarenakan hampir tidak diperoleh manfaat darinya, bahkan lebih besar madharatnya. Mereka merasakan kesulitan dalam mendidik anak-anaknya. Kemungkinan, memondokkan ke pesantrenlah yang relatif lebih aman dibanding pendidikan umum yang lingkungannya sudah tercemar akhlak buruk.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Golongan kedua, Ummat Islam yang biasa-biasa saja dalam menyikapinya. Diam-diam masyarakat Muslim yang awam itu justru menikmati aneka tayangan yang sebenarnya merusak akhlak dan akidah mereka dengan senang hati.

Baca juga: Khutbah Jumat ; Ujian Dahsyat Terhadap Keimanan di Akhir Zaman

Mereka beranggapan, apa-apa yang ditayangkan itu sudah lewat sensor, sudah ada yang bertanggung jawab, berarti boleh-boleh saja. Sehingga mereka tidak merasa risih apalagi bersalah. Hingga mereka justru mempersiapkan aneka makanan kecil untuk dinikmati sambil menonton tayangan-tayangan yang merusak namun dianggap nikmat itu. Sehingga mereka pun terbentuk jiwanya menjadi penggemar tayangan-tayangan itu, dan ingin mempraktikkannya dalam kehidupan. Tanpa disadari mereka secara bertahap dan berlahan-lahan mereka telah jauh dari agamanya.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Golongan ketiga, masyarakat yang juga mengaku Islam, tapi lebih buruk dari sikap orang awam tersebut di atas. Mereka berangan-angan, betapa nikmatnya kalau anak-anaknya menjadi pelaku-pelaku yang ditayangkan itu. Entah itu hanya jadi penari atau berperan apa saja, yang penting bisa tampil. Syukur-syukur bisa jadi bintang top yang mendapat bayaran besar.

Mereka tidak lagi memikir tentang akhlak, apalagi akidah. Yang penting adalah hidup senang, banyak duit, dan serba mewah, dengan tujuan agar terkenal. Untuk mencapai ke ‘derajat’ itu, mereka rela mengorbankan segalanya termasuk anak yang dimilikinya. Na’udzubillaah. Padahal kita ketahui bersama, anak adalah amanah yang nantinya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Inilah kenyataan yang terjadi hari ini. Masyarakat jauh lebih mengunggulkan pelawak daripada ulama’. Lebih menyanjung penyanyi dan penari daripada ustadz ataupun kiyai. Lebih menghargai bintang film daripada guru ngaji. Dan lebih meniru penari daripada imam masjid dan khatib.

Ungkapan ini secara wajar tampak hiperbol, terlalu dramatis secara akal, tetapi justru secara kenyataan adalah nyata. Bahkan, bukan hanya suara ulama’ yang tak didengar, namun Kalamullah pun hari ini sudah banyak tidak didengar. Sehingga, suara penyanyi, pelawak, tukang iklan dan sebagainya lebih dihafal oleh masyarakat daripada Kalamullah, ayat-ayat Al-Quran. Na’udzubillaah wa nastaghfirulaahal ‘adhim.

Tayangan-tayangan televisi dan lainnya telah mengakibatkan berubahnya masyarakat secara drastis. Hilangnya akhlak mulia, hilangnya keimanan yang murni, menjadikan masyarakat tak punya filter lagi. Tidak tahu mana yang ma’ruf (baik) dan mana yang munkar (jelek dan dilarang). Bahkan dalam praktik sering mengutamakan yang jelek dan terlarang daripada yang baik dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Mencampur kebaikan dengan kebatilan

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Kenapa masyarakat tidak dapat membedakan kebaikan dan keburukan? Karena “guru utama mereka” adalah televisi dan semisalnya. Sedang program-programnya menampilkan aneka macam yang campur aduk. Baik kebohongan, misalnya iklan-iklan yang sebenarnya bohong, tak sesuai dengan kenyataan, namun ditayangkan terus menerus. Lalu ditayangkan film-film porno, merusak akhlak, merusak akidah, dan menganjurkan kesadisan. Serta bermacam perkataan yang tidak mendidik.

Baca juga: Ketika Orang Tua Sibuk Gadget

Sehingga, para penonton lebih-lebih anak-anak tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masyarakat pun demikian. Hal itu berlangsung setiap waktu, sehingga dalam tempo sekian tahun, umat Muslim khususnya tidak lagi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil.

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Padahal Allah Ta’ala telah melarang pencampur adukan antara yang hak dengan yang batil:

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 42).

Dengan mencampur adukkan antara yang benar dengan yang batil secara terus menerus, akibatnya manusia tidak lagi ada niatan untuk menegakkan yang hak/benar dan menyingkirkan yang batil. Lantas, bila kejadian tersebut terjadi, di mana keimanan seorang hamba?

Padahal menipisnya keimanan seorang hamba adalah bencana yang paling parah menimpa umat Islam. Lantas apakah upaya kita untuk membentengi keimanan kita? Upayanya adalah dengan kembali kepada Syariat Allah Ta’ala dengan berpedoman Al-Quran dan As-Sunnah.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita pada jalan yang lurus. Serta menurunkan hidayah-Nya kepada kita sampai ajal menjemput kita. Amin ya rabbal ‘alamin

Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala

Demikian khotbah yang kami sampaikan. Kebenarannya datang dari Allah. Jika ada salah, datang dari saya pribadi karena bisikan setan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. 

Penulis        : Ibnu Jihad

Editor          : Ibnu Alatas