Khutbah Jum’at : Di Mana Posisi Kita dalam Perjuangan?

Ilustrasi, Semut Ibrahim
Ilustrasi, Semut Ibrahim

An-Najah.net – Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah ta’ala. Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita. Mulai dari nikmat sehat, sempat dan nikmat paling besar berupa iman dan Islam.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi junjungan Muhammad SAW. Juga kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti. Amma ba’du:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Diriwayatkan di dalam Syu’abul Iman al-Imam Baihaqi, juga di dalam Tafsir al-Qurthubi. Yaitu ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, padahal tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapa besar mulut katak untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim?

Api menyala lebih besar dari bukit. Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat lalu menyemburkan air itu ke api. Upaya katak itu tidak akan dapat memadamkan api. Tapi Yang Maha Melihat, (tetap) melihat!

Allah ta’ala melihat jiwa seekor katak kecil yang tidak dilihat oleh makhluk lainnya. Allah ta’ala tahu niat dari hambaNya yang kecil tersebut. Cintanya kepada Nabi Allah Ibrahim dan niatnya menyelamatkan Nabi Ibrahim (padahal Nabi Ibrahim sudah dilindungi oleh Allah). Karen itu Allah mengharamkan katak untuk dibunuh sampai akhir zaman. Semua katak, padahal ini perbuatan satu saja. Yang berbuat satu, semua katak sampai akhir zaman haram dibunuh.

Sampai diriwayatkan lebih dari 20 hadis, larangan Nabi SAW untuk membunuh katak. Dalam sebuah hadist dijelaskan ;

أَنَّ طَبِيْبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَتْلِهَا.

Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi SAW mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi SAW melarang untuk membunuh katak.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kenapa katak dilindungi sampai akhir zaman? Karena satu di antaranya pernah ingin menyelamatkan Nabi Ibrahim. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَقْتُلُوا الضِّفْدَعَ , فَإِنَّهَا مَرَّتْ بِنَارِ إبْرَاهِيمَ عليه السلام فَحَمَلَتْ فِي أَفْوَاهِهَا الْمَاءَ وَرَشَّتْ بِهِ عَلَى النَّارِ

“Jangan kalian membunuh katak. Karena sesungguhnya ia melintasi api yang membakar nabi Ibrahim, membawa air dengan mulutnya dan memercikannya ke arah api”.

Lihatlah betapa Allah menghargai keinginan mulia, walaupun tidak mampu berbuat apa-apa, walaupun tidak mampu merubah keadaan, tetapi hal itu besar di hadapan Allah ta’ala.

Di sisi lain, makhluk yang namanya cicak ikut meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin membesar. Memang tiupan cicak tidak seberapa dan tidak akan membesarkan kobaran api, tapi dengan apa yang dilakukannya semua tahu bahwa cicak ada di pihak raja Namrud.

Akibat keberpihakannya inilah cicak dianjurkan untuk dibunuh.

حَدَّثَتْنِي سَائِبَةُ مَوْلَاةٌ لِلْفَاكِهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَتْ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ فِي بَيْتِهَا رُمْحًا مَوْضُوعًا قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا تَصْنَعُونَ بِهَذَا الرُّمْحِ قَالَتْ هَذَا لِهَذِهِ الْأَوْزَاغِ نَقْتُلُهُنَّ بِهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا تُطْفِئُ النَّارَ عَنْهُ غَيْرَ الْوَزَغِ كَانَ يَنْفُخُ عَلَيْهِ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِهِ

Telah menceritakan kepadaku Saibah, pembantunya Fakih bin Al-Mughirah, dia berkata; “Saya menemui Aisyah dan saya melihat ada tombak yang tergeletak, saya berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! apa yang kamu perbuat dengan tombak ini?” Aisyah berkata: “Tombak ini adalah untuk membunuh tokek (cecak) karena sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bercerita kepada kami bahwa Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam kobaran api tidak ada binatang di bumi melainkan mereka berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek (cecak). Dia meniup kobaran api untuk mencelakai Ibrahim AS. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. memerintahkan kami untuk membunuhnya.” (Musnad Ahmad, hadits ke 23393)

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا

Dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya bahwa Nabi SAW memerintahkan agar membunuh Al Wazagh (cecak) dan beliau memberi nama Fuwaisiq (si fasik kecil).” (HR. Muslim).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ummat terpecah menjadi tiga

Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan Ilyasiq, bergerak menyerang kota Aleppo, Suriah. pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok:

  1. Thaifah manshurah, yaitu kaum muslimin yang berjihad melawan kaum yang merusak (Tartar).

  2. Thaifah Mukhalifah(kelompok musuh), yaitu kaum perusak (Tatar) dan kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.

  3. Thaifah Mukhadzilah, yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka sekalipun ke Islaman mereka benar. Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya. Thaifah Manshurah, Thaifah Mukhadzilah ataukah Thaifah Mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat. (Majmu’ Fatawa 26/416-417).

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia

Saat terjadi fitnah dan ujian yang menimpa umat ini, tiga kelompok ini akan muncul. Mereka yang tetap komitmen terhadap syariat dan mau untuk mengorbankan harta dan nyawanya di jalan Allah ta’ala. Kedua adalah umat Islam yang malah bergabung dengan musuh untuk memerangi Islam dan umatnya. Dan yang ketiga adalah para penggembos yang selalu melemahkan perjuangan.

Maka posisikanlah diri kita dalam perjuangan penegakan syariat ini untuk menjadi para thaifah al-manshurah yaitu kelompok yang Allah ta’ala tolong. Bagi mereka yang kaya dan mampu, berjuanglah dengan harta dan jiwa. Bagi mereka yang lemah, karena sakit atau karena tidak memiliki harta dalam perjuangan, do’akan mereka dengan lisan-lisan.

Di era digital sekarang ini. Ujung jempol yang memberikan sekadar ‘like’, berkomentar yang mengarah pada dukungan, atau bahkan hanya share berita dalam rangka menyemangati umat Islam akan menjadi penentu posisi kita.

Sebagaimana dalam ilustrasi kisah di atas, bahwa meskipun air yang disemburkan katak untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim AS tidak memberikan efek, tapi sikapnya itu adalah bentuk ketegasan diri akan posisi di mana ia berpihak. Itu nanti yang akan dibawa si katak di hadapan Allah sebagai  pertanggungjawabannya. Lalu bagaimana dengan kita?

Apakah kita beropini untuk melemahkan perjuangan atau sebaliknya?

Apakah kita memberikan ‘like’ pada status dan komentar orang-orang bodoh yang sok pintar bermain kata hanya karena kerumunan mereka terlihat ramai dan penuh canda padahal isinya penuh hujatan pada syariat?

Apakah kita malah ikut memberikan komentar yang semakin menambah keruh suasana meskipun tanpa ilmu sama sekali, hanya demi popularitas?

Di mana kita berpihak ketika Islam berusaha dicabik dari mulianya syariat?

Di mana posisi kita saat ini dan nanti ketika setiap perbuatan dan kata bahkan sebesar biji zarrah akan dihisab? Allah ta’ala berfirman ;

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Semoga kita ada di barisan orang-orang yang tidak menjadi duri dalam daging dalam tubuh umat. Predikat muslim tapi kata dan perbuatan malah cenderung mengebiri Islam sendiri. Naudzubillah minzalik.

Semoga kita menjadi seperti katak katak yang dengan usaha kita dapat dijadikan alasan di hadapan Allah ta’ala akan sumbangsih kita dalam perjuangan.

Sidang shalat Jumat yang dimuliakan Allah ta’ala

Demikianlah khotbah yang dapat kami sampaikan. Ada benarnya datang dari Allah ta’ala, dan jika ada salahnya maka datangnya adalah dari setan. Kita berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 134 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar