Khutbah Jum’at; Kejujuran Menghantarkan Ke Jannah

Jujur dalam perkataan

An-Najah.net – Pertama, kita ucapkan alhamdulillah atas limpahan rahmat yang dilimpahkan kepada kita. Sehingga, kita dapat berkumpul bersama untuk melasakanakan shalat jum’at, di masjid yang kita cintai ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan Muhammad SAW. Beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabi’u ttabi’in dan para pengikutnya hingga hari akhir nanti. Amma ba’du:

Jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah ta’ala.

Kejujuran adalah akhlak mulia para nabi dan orang-orang beriman. Ia menjadi ciri khas yang harus dimiliki para da’i. Islam akan tergambar jelas pada diri seorang da’i saat teori yang ia sampaikan bersesuaian dengan amalannya. Tapi sebaliknya, jika seorang da’i hanya pandai berdalil dan beretorika, sementara kehidupannya jauh dari tuntunan, maka dakwahnya tidak akan didengar ummat.

Rasulullah SAW, meski didustakan kaumnya, beliau tetap dikenal sebagai orang yang jujur. Bahkan saat beliau naik ke bukit Safā dan berseru: “(Wahai kaum Quriasy) pagi sudah menyingsing (kemarilah dan berkumpullah).”

Beliau mengucapkan kalimat ini dengan harapan kaum Quraisy berkumpul. Setelah mereka berdatangan, mereka bertanya: “Ada apa Muhammad?

Nabi Muhammad melanjutkan pidatonya: “Apa yang akan kalian katakan, apabila saya memberi khabar kepada kalian bahawa musuh akan datang pagi ini atau petang nanti. Apakah kalian mempercayaiku?

Kaum Quraisy menjawab: “Ya. Kami tidak pernah melihat kamu berbohong.

Nabi melanjutkan pidatonya: “Ketahuilah, saya ini adalah orang yang mengingatkan kalian supaya tidak mendapatkan siksa yang pedih.”  HR. Bukhari dan Muslim

Orang yang senantiasa berbuat jujur, Allah mudahkan ia berbuat kebaikan. Sedangkan kebaikan itulah yang akan membimbingnya ke jannah. Rasulullah SAW bersabda;

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ. فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَىٰ الْبِرِّ. وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَىٰ الْجَنَّةِ. وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّىٰ الصِّدْقَ حَتَّىٰ يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ صِدِّيقاً.

Berlaku jujurlah kalian, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Ketika seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, maka Allah ta’ala akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. (HR. Bukhari, Muslim (6591), Abu Dawud, dan at-Turmudzi (1976)).

Jenis kejujuran

Jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah ta’ala.

Banyak yang memahami bahwa kejujuran itu hanya di lisan saja. Padahal kejujuran itu umum, mencakup seluruh tingkah laku seseorang. Mulai dari yang nampak dan yang tidak nampak, mulai dari lisan, perbuatan hingga hatinya.

Sedangkan arti as-sidqu (jujur) ialah selarasnya batin dan dhohir. Jika tidak ada kecocokan antara lahir dan batin, maka tidak bisa disebut sebagai kejujuran. Karena orang dianggap dusta jika menyelisihi antara ucapan dan perbuatannya.(Fathul Baary 10/507).

Dari sini dapat kita rincikan bahwa kejujuran itu luas cakupannya, di antaranya yaitu;

Pertama; Jujur dalam membawa din Islam.

Yaitu seseorang yang berislam dengan sebaik-baiknya. Pengakuan keislam diikuti dengan hati dan amalannya. Karena pengakuan lisan saja tanpa diikuti dengan hati dan amalannya akan menyisakan penyakit nifak dalam diri seseorang. Allah ta’ala berfirman;

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). (QS. Al Ahzab: 23)

Syeikh Abdullah Azzam Rahimahullah berkata, “Tanpa kejujuran tidak akan pernah kita istiqomah di atas satu urusan. Kita juga tidak akan pernah menjadi umat yang kokoh dan kita tidak akan pernah bisa tsabat (teguh), melainkan akan tercerai berai dan terkoyak.” (Tarbiyah jihadiyah wal bina 1/31.).

Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia

Kedua: Jujur dalam perkataan.

Yaitu perkataan sesuai dengan perbuatan. Termasuk kejujuran adalah konsistensi lisan dalam menerangkan kebenaran. Sebagai seorang muslim apalagi seorang da’i harus bisa tegas dalam menerangkan kebenaran pada ummat. Tidak boleh menyembunyikan ilmu di saat ummat dalam kesesatan dan membutuhkan ilmu tersebut.

Allah ta’ala berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, (QS. Al baqarah: 159)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah mengatakan, “Seorang pencari ilmu hendaklah memberikan ilmunya kepada orang lain dan tidak menyembunyikan suatu ilmu pun. Karena ada larangan keras dari Rasulullah SAW terhadap perbuatan tersebut.”

Masuk kategori jujur dalam ucapan adalah jujur dalam menyampaikan berita baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Banyak orang yang menuliskan berita hoax di media-media social. Mulai dari facebook, whatsapp, BBM, telegram dan yang lainnya. Berita yang beredar asal dikopas dan disebar. Mereka tidak mengecek kebenaran berita itu. Lebih parahnya yang melakukannya adalah seorang tokoh yang menjadi panutan.

Rasulullah SAW mengajarkan, bahwa kemampuan memilah info adalah kriteria utama kejujuran. Kata beliau, “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menyampaikan apapun yang ia dengar” (HR Muslim).  Jadi, tak harus menyengaja berdusta, orang dianggap berdusta jika ia mudah menyebarkan berita yang didengar tanpa memilah dan memeriksa dahulu faktanya.

Ketiga: Jujur dalam perbuatan.

Yaitu kesesuaian antara yang terlihat dan yang tersembunyi, atau lahirnya tidak ada perbedaan dengan batinnya. Termasuk di dalamnya, menjadikan amal hanya untuk Allah semata bersih dari riya’ dan sum’ah. Allah ta’ala berfirman ;

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi: 110)

Sebagai seorang muslim wajib untuk mengikhlaskan amalnya hanya mengharap wajah Allah ta’ala. Disamping itu ia harus senantiasa memperbaiki amalnya agar sesuai dengan syari’at.

Sangat bagus apa yang disampaikan Ibnu ‘Uyainah, “Apabila amalan hati sesuai dengan amalan dhahir, itulah keadilan. Apabila amalan hati lebih baik dari amalan dhahir, itulah keutamaan. Dan apabila amalan dhahir lebih bagus dari amalan hati, itulah keculasan.” (Shifatus Shafwah: II/234)

Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri berkata, “Hasan al-Bashri apabila beliau memerintahkan manusia dengan sesuatu, maka dia adalah orang yang paling giat dalam melaksanakannya. Dan apabila beliau melarang manusia sesuatu, maka dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sama antara yang tersembunyi dengan yang tampak melebihi dia.”

Begitulah orang yang jujur, menjadikan amalannya sama dengan batinnya. Menjadikan amalan sebagai contoh sebelum berbacara kepada manusia. Karena malan mereka adalah pancaran dari hatinya.

Ketiga: Jujur dalam segala keadaan.

Ini adalah tingkat jujur tertinggi, seperti jujur dalam niat yang ikhlas dan dalam rasa takut, dalam bertaubat, pengharapan, zuhud, cinta, tawakkal dan selainnya. Oleh karena itu segala amalan hati pada dasarnya bermuara dalam kejujuran, sehingga kapan saja seorang hamba jujur dalam seluruh kondisi tersebut, maka dia akan terangkat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Allah berfirman, artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat:15)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Abu bakar Ash-Shiddiq RA telah mencapai puncak kejujuran (shiddiqiyyah), dan beliau disebut sebagai Ash-Shiddiq secara mutlak, yang maknanya orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَاناً نَّصِيراً

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita hari ini membutuhkan para da’i yang benar benar jujur. Da’i yang sama antara ucapan dan amalannya. Karena betapa banyak da’i yang pandai beretorika, manis dalam bertutur kata, tetapi akhlaknya jauh dari ilmu yang disampaikan. Padahal kata kata yang keluar dari hati akan masuk ke relung hari hati. Sebaliknya, kata kata yang hanya keluar dari lisan tidak akan masuk kecuali hanya sampai telinga.

Demikian khutbah kami sampaikan. Ada benarnya datang dari Allah ta’ala, dan ada salahnya datang dari saya pribadi dan bisikan syaitan. Kita cukupkan sampai di sini,

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 110 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar