Khutbah Jum’at : Keutamaan Menjadi Keluarga Qur’an

Keluarga Al Qur'an
Keluarga Al Qur’an

An-Najah.net – Allah telah memuliakan Ahlul Qur’an, baik pembaca, penghafal, ataupun yang mengamalkannya dengan keistimewaan yang banyak di dunia dan akhirat. Setiap membaca satu huruf dihitung satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Setiap kualitas bacaan bertambah, bertambah pula pahalanya. Sementara kebaikan yang banyak akan menghapus berbagai kesalahan.

Bahkan, orang yang telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dzikir harian, dengan membaca, mempelajari dan mengamalkannya, Allah ta’ala jadikan mereka termasuk dari keluarga Allah di bumi. Jasad mereka di bumi tetapi ruh mereka mengembara ke langit dekat dengan Allah ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda;

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya(HR. Ahmad)

Ahlul Qur’an adalah orang yang dekat dengan Allah karena demikian agung kedudukan mereka. Betapa tidak, bukankah mereka itu mempelajari ilmu paling agung, tinggi dan mulia. Yaitu Al-Qur’an.

Jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah ta’ala

Siapakah mereka?

Sifat-sifat Ahlul Qur’an disebutkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud,

يَنْبَغِـي لِـحَامِلِ الْقُرْآنِ أَنْ يُعْرَفَ بِلَيْلِـهِ إِذَا النَّـاسُ نـَائِمُوْنَ ، وَبِنَـهَارِهِ إِذَا النَّـاسُ مُفْطِرُوْنَ ، وَبِـوَرَعِهِ إِذَا النَّـاسُ يُـخْلِطُوْنَ ، وَبِتَوَاضُعِـهِ إِذَا النَّـاسُ يـَخْتَالُوْنَ ، وَبِـحُزْنِهِ إِذَا النَّـاسُ يَفْرَحُوْنَ ، وَبِبُكَائِـهِ إِذَا النَّـاسُ يَضْحَكُوْنَ ، وَبِصُـمْتِهِ إِذَا النَّـاسُ يَـخُوْضُوْنَ  .

“Hamilul Qur`an itu mestinya dikenal dengan malamnya saat manusia lain sedang tidur. Dikenal siangnya dengan berpuasa, saat manusia tidak puasa. Dengan waro’nya saat manusia mencampur [yang halal dengan yang haram]. Dengan tawadhu’nya saat manusia sombong. Dengan kesedihannya saat manusia riang gembira. Dengan tangisannya saat manusia tertawa. Dengan diamnya saat manusia mengumbar omongan. [Sifatush-Shafwah, Imam Ibnul Jauzi, 1/172]

Dari perkataan Ibnu mas’ud di atas, bisa dirinci sifat Ahlul Qur’an sebagai berikut;

Pertama, dikenal dengan malamnya saat manusia tidur.

Mereka bangun saat malam hari di saat manusia sedang tidur dengan bacaan-bacaan yang panjang. Bagi para penghafal Al-Qur’an, bacaan di waktu malam adalah bacaan yang paling berkesan. Itu merupakan saat terbaik mengulang ulang ayat-ayat dan juga surat-surat yang telah ia hafal. Allah ta’ala berfirman;

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan (Qur’an) di waktu itu lebih kuat masuk hati” (QS. Al Muzammil : 6).

Orang yang mengharap untuk menjadi para Ahlul Qur’an, sementara ia tidur semalaman dan tidak bangun, atau bangun hanya beberapa menit saja untuk menyelesaikan sebelas rakaat dengan cepat, baginya tidak termasuk dalam golongan ini. Orang yang tidak sanggup bangun malam hakikatnya telah dikencingi oleh setan.

Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi SAW disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah SAW pun bersabda,

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ

“Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774).

Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 6: 58)

Shalat malam menjadi kegemaran dan kebiasaan orang-orang shalih. Malam yang hening dan tenang menjadi momen berharga untuk bermunajat kepada-Nya. Orang-orang shalih zaman dahulu menjadikan tahajud sebagai perhiasan hidup yang tidak pernah redup, dan indah serta tidak pernah menyisakan rasa lelah. Bagi mereka, sungguh tak berarti hidup ini bila malam berlalu tanpa bersujud dan bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Namun kini keadaan begitu berubah. Kaum muslimin merasakan tahajud sebagai sesuatu yang sangat berat untuk ditunaikan. Shalat malam merupakan ibadah yang paling sulit untuk ditekuni. Raga ini begitu berat untuk diajak bangun di keheningan malam, untuk bersujud kepada-Nya. Bahkan shalat malam menjadi ibadah yang diremehkan oleh umat Islam. Padahal dalam shalat malam terkandung keutamaan dan keistimewaan yang sangat agung.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kedua; Dikenal siangnya dengan berpuasa, saat manusia tidak puasa.

Mereka pada siang harinya biasa lapar karena Allah ta’ala. Melakukan shaum sunnah; seperti shaum daud, shaum senin dan kamis ataupun shaum sunnah lainnya. Shaum sunnah yang paling disukai Allah ta’ala adalah shaumnya nabi Daud alaihis salaam.

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Dari Abdullah bin Amr berkata, “Rasulullah SAW bersabda,” Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud. Sholat yang paling disukai Allah adalah shalat Daud. Ia tidur separuh malam, dan bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Meski puasa nabi Daud adalah puasa yang paling disukai, tetapi jika dengannya seseorang menjadi lemah untuk bekerja menghidupi keluarga dan juga beribadah dengan khusu’, sebaiknya memilih puasa yang lebih ringan dari itu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa.”(Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H).

Ketiga; dikenal waro’nya saat manusia sudah tidak memperdulikan lagi dari mana mereka dapatkan harta.

Ketika manusia tidak peduli halal-haram, mereka mencukupkan diri dengan yang halal meski sedikit. Karena harta yang halal akan mendatangkan keberkahan walau sedikit. Harta yang halal akan menumbuhkan daging yang halal dan mengalirlah darah yang halal dari badan dan keturunan mereka. Dengan makanan yang halal tersebut akan melahirkan amal shalih.

Orang orang yang ingin menjadi ahlullah pada hari ini tidaklah gampang. Merebaknya riba, jual beli dengan cara yang haram telah menjadi kebiasaan masarakat. Rasulullah SAW  telah memprediksikan zaman ini sebagaimana dalam hadist;

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang satu masa kepada manusia, dimana pada masa itu seseorang tidak lagi memperdulikan apa yang diambilnya, apakah dari yang halal atau dari yang haram”. (R. Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah).

Sidang shalat jum’at yang dimuliakan Allah ta’ala

Keempat; Dengan tawadhu’nya saat manusia sombong.

Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341).

Para Ahlul Qur’an akan menjadi mulia dengan tawadhu’. Karena memang kemualiaan itu hanya didapat dengan ketawadhu’an dan bukan kesombongan. Rasulullah SAW bersabda;

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Kelima, enam dan tujuh; Sedih saat manusia riang gembira. Menangis saat manusia tertawa. Diam saat manusia mengumbar omongan.

Para pembaca dan penghafal Al-Qur’an tahu betul keadaan kaum-kaum terdahulu yang Allah hancurkan karena keingkaran mereka. Mereka juga tahu betul bagaimana gambaran surga dan neraka. Semuanya telah berulang ulang disebutkan dalam Al-Qur’an. Pemahaman ini membuat mereka senantiasa meneteskan air mata yang tak pernah kering. Dan itulah buah dari rasa takut mereka kepada Allah ta’ala.

Maka sudah selayaknya para pembaca dan penghafal Al-Qur’an memiliki sifat-sifat ini. Dan tidak sepantasnya untuk memiliki sifat banyak omong, lalai, keras hati yang tidak pernah menangis takut pada Allah ta’ala, jarang bangun malam dan tidak pernah puasa di siang hari. Semoga kita diberikan anugerah Allah ta’ala untuk menjadi Ahlul Qur’an dan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Ditulis : Amru Khalis

Editor : Abu Khalid