Khutbah Jum’at ; Masuk Neraka Karena Taklid

Taklid buta
Taklid buta

An-Najah.net – Semua orang tidak ingin hidup menderita di dunia. Siapa pun orangnya. Baik orang shalih maupun thalih. Orang yang baik ataupun yang jahat. Namun jika kita renungkan, derita yang dialami manusia di dunia ini tidak ada apa-apanya dibanding siksa akhirat. Apa jadinya bila seluruh api dunia disatukan. Lalu panasnya dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat. Kemudian, api tersebut digunakan untuk membakar dan menghanguskan kulit manusia.

Siksaan neraka paling ringan saja sudah membuat manusia menderita. Yaitu seseorang yang memakai sandal dari api. Meski hanya telapak kaki yang tersulut api, panasnya mampu membuat otak mendidih. Seperti air mendidih yang direbus dalam periuk. Karena itu, wahai jamaah sekalian, sungguh celaka orang yang masuk neraka, karena akan merasakan derita yang tiada terkira.

Rasulullah SAW:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ. يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ. مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

“Sesungguhnya azab penduduk neraka yang paling ringan adalah seseorang yang dipakaikan sepasang sandal dari api. Otaknya jadi mendidih sebagaimana mendidihnya air dalam bejana. Dia menganggap tidak ada orang yang siksanya lebih berat dari dirinya. Padahal, dia adalah orang yang paling ringan siksanya.”  (HR. Muslim)

Taklid buta kepada ulama dan umara’

Maasyiral muslimin rahimakumullah.

Satu sebab yang sering menjerumuskan orang masuk neraka adalah taklid buta. Taklid buta yaitu kepatuhan berlebihan kepada manusia meskipun dalam perbuatan dosa.

Allah ta’ala telah mengisahkan tentang pertengkaran antara seorang pemimpin dengan pengikutnya di dalam neraka kelak. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِي ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ لِأُولَىٰهُمۡ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَ‍َٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلّٖ ضِعۡفٞ وَلَٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ ٣٨ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ٣٩

 

Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”. Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. Al A’raf: 38 – 39)

Mengapa mereka bertengkar di neraka? Karena ternyata kedua belah pihak dimasukkan di neraka. Baik yang memerintahkan berbuat dosa maupun yang patuh. Baik atasan maupun bawahan. Mereka semua merasakan beratnya siksa neraka.

Imam Ibnu Jarir At-Thabari menjelaskan tentang pertengkaran tersebut dalam Tafsir At-Thabari. Imam Ismail As-Sudi mengatakan, bahwa setiap pengikut suatu ajaran akan melaknat teman-teman seajaran. Orang musyrik melaknat musyrik lain. Orang yahudi melaknat yahudi lain. Orang nasrani melaknat nasrani yang lain. Para pengikut ajaran nenek moyang melaknat sesamanya. Orang majusi melaknat majusi. Dan orang yang terakhir melaknat para pendahulu.

Ibnu Jarir At-Tabari menjelaskan bahwa para pengikut tersebut marah setelah sadar menjadi korban penyesatan. Para pengikut tersebut lantas meminta kepada Allah, “mereka telah menyesatkan kami dari jalan-Mu, ya Allah. Mereka menuntun kami beribadah kepada selain-Mu. Mereka menipu kami agar mengikuti setan. Karena itu, beri mereka hukuman dan adzab yang lebih berat dari hukuman kami.”

Permintaan itu lalu dijawab oleh mereka yang masuk neraka sebelumnya, Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, Mereka berkilah, “kalian telah tahu bahwa Allah menghukum kami karena kami bermaksiat kepada-Nya. Serta karena kami ingkar dengan ayat-ayat-Nya. Padahal Rasul dan orang yang memberi peringatan telah datang kepada kami dan kalian. Salah kalian sendiri, mengapa kalian tidak kembali pada Allah dan meninggalkan ajakan kesesatan kami?”

Pertengkaran tersebut akhirnya selesai setelah Allah membuat keputusan yang tegas. Allah berfirman: Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan. Allah menetapkan kepada mereka semua, “Maka rasakan oleh kalian semua wahai orang-orang kafir adzab jahannam disebabkan atas apa yang kalian lakukan di dunia dari perbuatan dosa dan maksiat.” (Tafsir At –Thabari. Surat Al A’raf ayat 39)

Begitulah penyesalan pengikut-pengikut pemimpin sesat. Mereka semua dihimpun di neraka Jahannam. Baik yang menyesatkan maupun yang mengikuti ajaran sesat.

Siapakah para pemimpin yang menyesatkan

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Hendaknya ayat ini menjadi pelajaran bagi kita agar berhati-hati ketika patuh kepada pemimpin. Karena taat kepada manusia ada batas dan ukurannya. Rasulullah telah menubuwatkan tentang munculnya para pemimpin yang akan menyesatkan umat. Beliau bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ. وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Syaddad bin Aus RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguh aku tidak mencemaskan atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan. Jika pedang sudah diletakkan dari umat ini, pertikaian tidak akan berhenti sampai hari kiamat”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Silsisilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582).

Syaikh Shalih Al-Utsaimin menjelaskan siapakah yang dimaksud dengan “pemimpin yang menyesatkan” dalam hadits di atas. Yaitu orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan. Termasuk golongan ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah) (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa pemimpin yang menyesatkan itu ada dua;

Pertama; Para pemimpin negara yang khianat, jahil, sesat dan menyesatkan.

Kelompok ini telah dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadist beliau;

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الدُّنيا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ

Hari kiamat tidak akan terjadi hingga yang berkuasa di dunia adalah Luka’ bin Luka’.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no. 2365 dan Shahih al-Jami’, no. 7431)

Luka’ bangsa Arab artinya orang yang bodoh dan hina karena jahil dan sifatnya buruk. Menurut Syaikh Yusuf al-Wabil dalam Asyratus Sa’ah, kondisi seperti yang disebutkan di hadits tersebut sudah terjadi di zaman sekarang. Sehari-hari kita saksikan banyak pemimpin yang gemar membangun pencitraan. Banyak orang yang tertipu, kagum hingga memuji, “Alangkah hebatnya! Alangkah baiknya! Alangkah amanahnya! Alangkah bagus akhlaknya!” dan pujian-pujian lainnya.

Padahal di balik topeng pencitraan itu, mereka adalah orang yang sangat durhaka kepada Allah. Mereka minim pemahaman agamanya, dan tidak memiliki ghirah untuk menerapkannya. Mereka sebenarnya tidak amanah dan suka berdusta. Tidak memikirkan rakyat kecil, apalagi menunaikan hak-hak mereka. Malah sebaliknya, gemar menumpuk kekayaan dan membangun istana. Setumpuk dosa tersebut masih diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agama. Mereka bahkan berusaha menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah ta’ala.

Kedua; Para ulama dan ahli ibadah yang menyesatkan.

Seorang alim yang menjadi panutan dan dianggap sebagai orang shalih, jika mengerjakan amalan bidah atau syirik akan menjadi pembenaran. Karena pengikutnya yakin bahwa setiap amalan tokoh idolanya adalah sunnah. Inilah sebab utama mengapa banyak orang jatuh dalam bidah. Mengira bahwa orang yang diikuti berilmu dan bertakwa, lalu meniru segala perkataan dan perbuatannya.

Maka kami pesankan kepada jamaah sekalian yang hari ini menjadi pemimpin agama atau pemimpin rakyat, tuntunlah umat menuju jalan keselamatan. Jauhkan mereka dari kesesatan. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ. وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ. فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ. وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.

“Sesungguhnya dari manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan. Juga ada manusia yang menjadi kunci keburukan dan penutup kebaikan. Sungguh beruntung orang yang Allah anugerahkan sebagai kunci kebaikan melalui tangannya. Celakalah siapa yang telah Allah jadikan baginya kunci keburukan melalui tangannya”. (HR. Ibnu Majah).

Kami juga berpesan kepada para pencari ilmu agar selektif memilih guru. Tinggalkan taklid buta karena itu akan membawa kehancuran dunia dan akhirat. Demikianlah khutbah Jumat yang kami sampaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-najah Edisi 118 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar