Khutbah Jum’at, Meluruskan Makna Syukur Kemerdekaan

Bung Tomo

An-Najah.net – Mampukah kita menghitung seluruh nikmat Allah kepada kita? Tidak. Menghitung nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, apalagi seluruh nikmat selama hidup kita di dunia ini. Tidur, bernafas, makan, minum, berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat. Bahkan bersin pun sebuah nikmat.

Berapa banyak oksigen yang telah kita hirup? Sudah berapa lama mata kita melihat atau berkedip? Jika dirupiahkan sudah berapa rupiah nikmat itu? Mampukah kalkulator menghitungnya? Sampai kapan pun kita tidak akan mampu menghitungnya. Karenanya, wajar bila Allah menegaskan berulang kali satu ayat dalam surat Ar-Rahman, yang senantiasa kita renungkan bersama,

فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Nikmat-nikmat Allah begitu melimpah. Tak ada manusia yang sanggup menghitungnya. Allah Ta’ala telah menyebutkan hal itu dalam firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Karena itu sudah seharusnya bagi orang yang memiliki akal dan nurani mensyukuri segala nikmat Allah tersebut. Namun ironisnya, hanya sedikit dari para hamba yang mau bersyukur. Allah Taala berfirman:

وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yg mau bersyukur.” (QS. Saba: 34)

Kebanyakan dari kita justru mengkufuri nikmat. Salah satu tandanya ialah menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat dan berbuat dosa. Baik yang disengaja dengan menuruti hawa nafsu dan bisikan setan, maupun yang tidak disengaja. Segala kedurhakaan adalah kezaliman kepada Ar-Rahman. Setiap perbuatan dosa, maksiat, serta kezaliman yang dikerjakan akan membawa dampak buruk dan negatif bagi pelakunya. Baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” (Muttafaqun `alaih)

Cara bersyukur

Setiap nikmat yang Allah berikan patut disyukuri, meskipun nikmat tersebut terkesan kecil. Syukur nikmat adalah dengan menggunakan nikmat itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian menjauhi setiap maksiat dan larangan. Jika nikmat yang turun justru menjauhkan seseorang jauh dari Allah, itu bukan nikmat tetapi musibah.

Seorang tabiin bernama Abu Hazim mengatakan,

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهِيَ بَلِيَّةٌ.

“Setiap nikmat yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 82 dan Uddatush Shobirin, 159).

Lalu, apakah yang harus kita lakukan setelah mendapatkan semua nikmat itu? Bersyukur atau kufur? Jika memang bersyukur, apakah kita sudah tergolong hamba-hamba yang bersyukur?

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala

Kita Perlu mengetahui bagaimana cara bersyukur kepada Allah Ta’ala. Karena Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Seorang hamba dikatakan bersyukur apabila memenuhi tiga hal:

Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

Syukur harus diwujudkan dengan hati, lisan dan anggota badan.” (Majmu’ Al Fatawa, 11: 135)

Pertama: Hatinya mengakui dan yakin bahwa segala nikmat yang diperoleh itu berasal dari Allah Ta’ala semata.

Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (QS. An Nahl: 53)

Orang yang menisbatkan segala nikmat kepada Allah Ta’ala adalah hamba yang bersyukur. Setelah meyakini bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala, hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh. Sebaliknya, siapa saja yang meyakini bahwa nikmat itu berasal dari selain Allah, ia telah berbuat syirik.

Kedua: lisannya senantiasa mengucapkan kalimat Thayyibbah sebagai pujian terhadap Allah Ta’ala.

Hamba yang bersyukur mengikrarkan syukurnya dengan lisan. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji-Nya.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh Dhuha: 11).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita diperintahkan untuk mengucap tahmid atau pujian setelah mendapat nikmat. Misalnya, setelah mendapat nikmat makanan, kita membaca doa yang berisi pujian. Sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ . غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang menyantap makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillah alladzi at’amani hadza wa rozaqonihi min ghairi haulin minni wa la quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini. Memberikannya sebagai rizki kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458).

Lewat hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Nabi SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim, no. 2734).

Bahkan ketika tertimpa musibah atau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, sebaiknya kita tetap memuji Allah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ .  وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ :  الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ .

Dari Aisyah yang mengatakan, “Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai mengucapkan ‘Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat’. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan mengucapkan ‘Alhamdulillah ‘ala kulli hal’.” (HR Ibnu Majah, 3803. Hasan menurut al Albani).

Ketiga: Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih.

Orang yang bersyukur akan menggunakan nikmat Allah untuk beramal shalih, bukan untuk bermaksiat. Ia gunakan mata untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Ketiga hal tersebut adalah ciri seorang hamba yang bersyukur. Yakni bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian dari segenap anggota badan.” (Al Fawa’id, hal. 124-125).

Di antara ketidakfahaman ummat ini akan syukur, yaitu mengungkapkan rasa syukur dengan kemaksiatan. bersyukur atas kemerdekaan dengan pesta pagelaran wayang kulit yang sangat kental dengan kesyirikan. Ada pula yang merayakan dengan mengundang penyanyi dangdut dan berjoged semalaman suntuk. Tak sedikit dari umat ini yang menggelar pesta miras dan berbagai maksiat lainnya di malam 17 Agustus. Semua itu dilakukan dengan tujuan mengungkapkan rasa bahagia dan syukur.

Umat hari ini mengidentikkan syukur dengan hura-hura. Mulai dari panggung hiburan, perlombaan penuh gelak tawa yang tidak mendidik dan segala kegiatan lainnya. Jarang di antara mereka yang berinisiatif untuk mengisi rasa syukur kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan membangun.

Sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala

Masyarakat Indonesia menganggap kemerdekaan dengan perginya penjajah Belanda dari tanah air. Mereka tidak sadar bahwa penjajah baru telah menjajah mereka dengan bentuk yang lain. Perusahaan asing mengeruk kekayaan negara, para pejabat yang menjadi kaki tangan asing, tingkat pengangguran yang semakin tinggi, harga kebutuhan pokok melejit, pajak dinaikkan, sementara Islam dijauhkan dari umatnya. Masihkan kita merasa merdeka? Masihkah mengisinya dengan hura-hura?

Demikian khutbah yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya kami minta maaf. Kebenarannya datang dari Allah ta’ala. Jika ada kesalahan, dari saya pribadi karena bisikan setan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ . وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ . وَتَقَبَلَّ اللَّهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ . إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ . وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 117 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Abu Khalid