Khutbah Jum’at : Memahami Jalan Kebenaran dan Kesesatan

shiratal mustaqim
shiratal mustaqim

An-najah.net – Allah ta’ala telah menggariskan dua jalan dalam kehidupan seseorang. Tidak ada jalan lain kecuali dua jalan tersebut. Yang pertama adalah jalan kebenaran. Jalannya para nabi dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jalannya orang orang shalih, shiddiqin dan syuhada’. Jalan yang terjal dan berkelak kelok. Penuh dengan derita dan pengorbanan. Tetapi kesudahannya adalah surga.

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” QS. An Nisa’: 69.

Dan yang kedua adalah jalannya Iblis dan bala tentaranya. Jalan yang dipenuhi dengan syahwat dan kesenangan. Syahwat perut, syahwat kemaluan dan syahwat berbagai kenikmatan dunia. Tidaklah ada aturan yang dijunjung tinggi kecuali dilandaskan atas syahwat semata. Tetapi semua itu akan berakhir dengan kesengsaraan neraka yang tidak akan berakhir kecuali atas rahmat Allah.

Baca Juga (Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak)

Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam banyak ayat tentang dua hal tersebut;

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3).

Sedangkan di dalam surat as-Syams: 8, kedua jalan tersebut disebut dengan jalan taqwa dan jalan fujur.

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. as-Syams: 8).

Pertama, Jalan kebenaran

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Jalan kebenaran adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi SAW. Itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla. Kebodohan akan jalan ini, akan menjadikan seseorang mendapatkan kesengsaraan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

اَلْجَهْلُ بِالطَّرِيْقِ وَ آفَاتِهَا وَ الْمَقْصُوْدِ يُوْجِبُ التَّعَبَ الْكَثِيْرَ مَعَ الْفَائِدَةّ الْقَلِيْلَةَ

Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit” (Sittu Duror, hal. 54).

Sedangkan jalan kebenaran itu hanyalah satu. Dan jalan kesesatan itu sangat banyak. Tetapi hakekkatnya hanyalah satu, yaitu sama sama sesat. Dalam hadist disebutkan;

“Rasulullah SAW telah menggaris dengan tangannya sendiri, lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus” dan beliau menggaris lagi sebelah kiri dan sebelah kanan, lalu bersabda: “Inilah jalan-jalan yang di mana tiada satu jalanpun kecuali di atas ada syetan yang menyeru kepadanya. Kemudian Beliau membaca ayat ini; “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” QS 6:153.

Kisah para penempuh kebenaran dari zaman ke zaman selalu dipenuhi dengan perjuangan dan kelelahan. Tetapi selalunya berakhir dengan keindahan. Nabi Nuh berdakwah hingga 950 tahun. Ia diuji dengan membuat perahu dan banjir bandang. Sedangkan istri dan anak beliau ikut tenggelam oleh banjir.

Baca Juga (Saat Kebodohan dan Kemunafika Merajalela)

Nabi Ibrahim karena kebenaran harus berhadapan dengan ayahnya dan penguasa dzalim. Hingga beliau dibakar oleh raja Namrudz. Tetapi api tak dapat membakarnya karena Allah jadikan api menjadi dingin. Karena perintah Allah, nabi Ibrahim meninggalkan nabi Ismail dan ibunya di padang pasir gersang tanpa seorangpun. Tetapi Allah Ta’ala menjadikan padang pasir tesebut hari ini sebagai tempat haji seluruh kaum muslimin di seluruh dunia.

Dan yang terakhir adalah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Nabi yang didustakan oleh penduduk Makkah hingga beliau dan para sahabat berhijrah ke Madinah. Mereka berjihad memerangi musuh, hingga jazirah Arab takluk di bawah naungan  Islam.

Jalan kebenaran ini harus terus dipegangi meski dalam kondisi berat. Harus dipegangi meski pengikutnya hanya sedkit. Dan harus terus dipegangi meski berkorban dengan harta dan nyawa. Karena perih dan beratnya ujian dalam memegangi kebenaran akan diganjar dengan jannah.

Sebagian salaf mengatakan,

عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الْحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ الْبَاطِلَ وَلاَ تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ

Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).

Maka istiqamah dalam berjalan dan memperjuangkan jalan ini menjadi tugas pokoknya. Hingga nantinya Allah Ta’ala mengkaruniakan husnul khotimah dan syahadah di jalan Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kedua; jalan kesesatan.

Jalan kesesatan adalah jalan yang ditempuh oleh Iblis dan bala tentaranya. Dari kalangan jin dan manusia. Setelah Iblis durhaka kepada Allah saat diperintahkan untuk sujud, Iblis akhirnya diusir dari Jannah. Iblis memohon kepada Allah untuk ditangguhnya kehidupannya hingga hari kiamat, dan Allah Ta’ala mengabulkannya.

Akhirnya Iblis bersumpah untuk menyesatkan seluruh manusia, sehingga banyak diantara mereka yang kufur kepada Allah Ta’ala.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka“. QS. Al Hijr 39-40.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Dari sini setan telah mengumumkan permusuhaan busuk kepada anak Adam. Maka dia memulai dengan menghias kemaksiatan. Menggoda mereka untuk melakukan perkara haram dan kemungkaran. Banyak orang terpedaya, hingga terjerumus dalam kemaksiatan dan kemungkaran.

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقاً مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.” (QS. Saba: 20)

Semua prilaku anak Adam; seperti kekufuran, pembunuhan, permusuhan, kebencian, merebaknya kejelekan dan perzinaan, para wanita yang bersolek di muka umum, meminum khamar, menyembah berhala dan melakukan dosa besar, itu semua adalah jalan setan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Itu adalah cara Iblis merusak orang-orang. Agar terjerumus bersamanya ke dalam neraka Jahanam.

Baca Juga (Dimana Posisi kita dalam Perjuangan)

Allah telah memperingatkan kepada kita berjalan di belakang setan dan mengikuti langkah-langkah setan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An-Nur: 21)

Ingatlah bahwa setan dari golongan jin dan manusia adalah musuh yang nyata. Allah Ta’ala berfirman ;

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” QS. Faathir: 6.

Banyak orang yang membenci Iblis dan setan. Tapi jalan Iblis malah mereka ikuti. Banyak orang yang tahu bahwa kemaksiatan akan menjadikan seseorang sengsara dunia dan akhirat. Tetapi tetap saja bermaksiat dan tidak mau berhenti.

Pada hari kiamat, hari kejujuran dan keadilan. Maka setan mengaku akan kejahatannya dan mengumumkan di hadapan para makhluk bahwa Allah adalah benar sementara dia adalah pembohong. Tidak ada celaan baginya, akan tetapi celaan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikutinya. Setiap orang yang mengikutinya akan menyesal, akan tetapi waktu itu tidak bermanfaat lagi penyesalan itu.

Baca Juga (Menjadi Manusia Terasing di Akhir Zaman)

Sebelum penyesalan itu tidak ada arti lagi, maka marilah berusaha untuk mempelajari jalan jalan setan. Kemudian menjauhi dengan sekuat tenaga. Mohonlah pertolongan pada Allah agar diselamatkan darinya. Dan mohonlah agar di istiqamahkan pada jalan kebenaran. Karena tidak ada yang dapat mengistiqamahkan seseorang dalam kebenaran kecuali hanya Allah Ta’ala.

Demikian khotbah yang dapat kami sampaikan. Ada benarnya datang dari Allah Ta’ala. Ada salahnya datang dari saya sendiri karena bisikan setan. Dan saya beristighfar kepada Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 155 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Miqdad