Khutbah Jum’at ; Menjadi Manusia Terasing di Akhir Zaman

Ghuraba, pengenggam bara api
Ghuraba, pengenggam bara api

An-Najah.net – Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Taala yang telah memberi berbagai nikmat kepada kita. Mulai dari nikmat kesehatan, kesempatan dan hingga nikmat paling besar, yakni nikmat Islam dan Iman.

Shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi junjungan Muhammad SAW. Beserta keluarganya, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti. Amma ba’du:

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Dari masa ke masa pengikut kebenaran selalu jadi minoritas. Mereka hidup terasing di tengah hiruk pikuk dunia yang penuh dengan kemaksiatan. Mereka berusaha memperbaiki diri sendiri dan orang di sekitarnya ketika masyarakat menjauhi syiar-syiar Islam. mereka menjadi lentera lentera penerang alam di saat kegelapan maksiat dan syirik merajalela. Tentang keadaan mereka, Rasulullah SAW bersabda:

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ . قِيلَ : وَمَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَلِيلٌ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ , مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ .

“Keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang menaatinya.” (HR Ahmad, hadits shahih)

Dalam Al-Qur’anul Karim, Allah memuji mereka dengan firman-Nya,

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Patokan untuk memahami arti minoritas dari dalil di atas tentunya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak bisa kelompok aliran sempalan yang ajarannya menyesatkan menganggap dirinya benar karena jumlahnya sedikit. Begitu juga orang-orang yang memiliki keyakinan dan aqidah menyimpang lainnya  mengklaim dirinya paling benar, karena jumlahnya sedikit.

Maksud bahwa Islam bermula dari sesuatu yang asing dan akan kembali asing adalah, awal munculnya agama Islam, kebanyakan ummat manusia hidup dalam keadaan jahiliyah. Hidup dengan adat, kepercayaan, budaya yang bertentangan dengan Islam. Akhirnya orang-orang yang memegang prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam akan dianggap asing, kuno dan terbelakang, aneh dan lain-lain.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala

Kemudian datang masa yang dekat dengan hari kiamat, Islam kembali menjadi asing. Di saat kebanyakan umat hari ini berkiblat pada budaya Barat. Kemajuan teknologi dan ekonomi Barat membuat banyak orang tergila-gila dan menjadi penggemar budaya Barat. Lahirlah kebebasan tak terbendung. Liberalisme merajalela, kemaksiatan menjalar ke mana-mana, pornografi, pornoaksi, perjudian, narkoba, sex bebas dan gaya hidup bebas yang tidak mau terikat dengan hukum syariat.

Di masa seperti itu, akan muncul para penegak sunnah Nabi. Mereka mencontoh kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Bercita cita tinggi menegakkan syari’at Islam dan melawan kekuatan Barat dengan apa yang mereka miliki. Sikap tegas inilah yang membuat mereka menjadi orang yang terasing. Sikap tegas yang membuat orang dituduh dengan pengikut paham teroris, penganut Islam garis keras dan sebutan-sebutan lainnya.

Orang yang memiliki iman, yang masih mencintai Allah dan Rasulullah SAW dan orang yang masih mencintai syariat benar-benar akan menjadi minoritas. Jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan orang-orang yang ingkar dan penganut kehidupan ala jahiliyah. Orang yang memusuhi mereka lebih banyak dari pada yang mendukung. Itulah arti dari golongan umat yang dianggap asing atau ghuraba.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Tuduhan dan julukan buruk untuk para penegak kebenaran hari ini pernah dialamatkan kepada Rasulullah SAW. Dahulu ketika Rasulullah SAW ketika mengajak kaumnya bertauhid, beliau dijuluki sebagai “tukang sihir yang sombong.” Padahal sebelumnya mereka memuji beliau dengan julukan “ash-shadiqul amin, yang jujur dan dapat dipercaya.” Itulah bagian dari ujian para penegak kebenaran.

Ciri-ciri Ghuraba

Rasulullah SAW telah menjelaskan ciri-ciri golongan yang terasing dalam banyak hadis. Salah satu ciri tersebut yaitu:

Pertama, mereka berusaha melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.

فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْغُرَبَاءُ ؟ قَالَ : الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ

“Siapakah orang-orang yang terasing wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “yaitu orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah (HR. Tabrani).

Hari ini kita membutuhkan para ghuraba. karena hari ini orang-orang sudah menganggap suap-menyuap sebagai hal yang lumrah. Ketika orang-orang mengatakan bahwa bermuamalah dengan bank adalah kondisi darurat yang dibolehkan. Ketika para wanita yang keluar tanpa jilbab sebuah kelaziiman. Dan ketika syirik harus dilestarikan karena itu tradisi para leluhur. Kita butuh kelompok terasing agar mereka menyadarkan umat akan kekeliruan-kekeliruan tersebut.

Mereka adalah orang-orang bersih yang berusaha membersihkan orang lain. Keberadaan mereka memberi manfaat di tengah-tengah manusia yang sudah menganggap moralitas rusak sebagai ciri modern. Mereka dianggap aneh karena orang-orang berlomba menumpuk kekayaan sementara ia mempertahankan kesederhanaan demi menjaga kebersihan dirinya.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala

Ciri kedua yaitu, mereka menghidupkan kembali sunnah nabi setelah sunnah itu ditinggalkan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ : الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى

Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan perbaikan) di saat manusia merusak sunnah-sunnah ku.” (HR. At Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih oleh Imam At Tirmidzi).

Ketika bid’ah menyebar ketengah-tengah masyarakat, mereka mengajak umat kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Ketika beberapa ajaran Rasulullah SAW dianggap masa lalu , mereka tampilkan kembali ajaran Rasulullah SAW tersebut.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

قِيلَ : وَمَنِ الْغُرَبَاءُ ؟ قَالَ النُّزاَّعُ مِنَ الْقَبَائِلِ.

Seseorang sahabat bertanya “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah? “Mereka yang ‘menyempal’ (berseberangan) dari kaumnya”, jawab Rasulullah (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi).

Dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Ghuraba adalah orang-orang shalih yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya sudah rusak. Mereka orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan agamanya tatkala kebanyakan orang meninggalkan agama. Mereka adalah orang yang komitmen terhadap sunnah Nabi-Nya, tatkala kebanyakan orang mencampakannya. Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka. Orang yang murka kepada mereka lebih banyak daripada orang yang ridha kepada mereka.

Mereka diasingkan oleh masyarakat atau mereka terasingkan di tengah-tengah mereka. Terasa berat oleh mereka tatkala berpegang teguh di atas agamanya. Terasa panas oleh mereka tatkala menjalankan sunnah layaknya menggam bara api karena menanggung cibiran, celaan, pandangan sinis dan berbagai statemen-statemen negatif yang dilontarkan kepadanya.

Sidang shalat Jumat yang berbahagia

Sebagaimana Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Akan tetapi mereka tetap berpegang teguh walaupun terasa panas, karena mereka tahu bahwa itu adalah jalan keselamatan.

Semoga Allah Taala mengistiqomahkan kita di atas agama ini. Dan ketika ruh kita dicabut, kita berada dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya rabbal alamin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Demikian khutbah yang kami sampaikan. Kebenarannya datang dari Allah. Jika ada salah, itu datang dari saya pribadi karena bisikan setan.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ

الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 119 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar