Khutbah Jum’at : Menyambut Kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam
Kebangkitan Islam

An-Najah.net – Alhamdulillah kita hidup di era kebangkitan Islam. Sambutan ummat akan datangnya Islam sungguh luar biasa. Di saat hati manusia hampa karena sibuk mengejar gemerlap dunia, di saat kemewahan tidak lagi menenangkan jiwa, pelarian manusia adalah Islam. Bayak para artis yang berhenti dari dunianya dan lebih memilih hidup dalam naungan Islam. Merebaknya berbagai kajian-kajian di berbagai tempat. Munculnya para ustadz yang mengarahkan ummat dengan ilmunya.

Meski demikian kebangkitan Islam ini tidak akan dibiarkan oleh musuh-musuh Islam. Karena setiap kali kebenaran menyalakan apinya, kebatilan pasti akan berusaha memadamkannya. Allah ta’ala berfirman;

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. (QS. As Shaff: 8)

Alhamdulillah bahwa ternyata kebangkitan Islam ini tidak hanya terjadi di negeri kita. Bahkan di berbagai negeri-negeri Islam, kaum muslimin sangat berkeinginan untuk hidup mulia dan sejahtera di bawah naungan Islam.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kita hidup di zaman kebangkitan Islam dari berbagai seginya. Maka jika shohwah Islamiyah ini tidak dituntun oleh aturan aturan syar’i tidaklah begitu bermanfaat untuk Islam. Gambarannya adalah seperti air hujan yang jatuh mengenai bangunan atau jatuh di padang pasir yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Berbeda ketika air hujan tersebut jatuh pada tumbuhan akan menjadikan tumbuhan subur dan tumbuh besar. Demikian pula perkembangan Islam ini jika tidak didasari manhaj yang benar maka tidak akan banyak berguna terhadap Islam dan bahkan menimbulkan syubhat baru bagi Islam.

Di antara rambu-rambu kebangkitan Islam tersebut adalah;

Pertama; Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salaf

Rambu-rambu ini menjadi rambu-rambu yang paling penting karena segala sesuatu haruslah diukur dengan keduanya. Tidak cukup hanya dengan merujuk pada keduanya, tetapi juga harus diwadahi dengan wadah pemahaman salaf. Jika para pengusung dien ini telah dan berusaha untuk mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik, pasti kemenangan akan Allah ta’ala berikan.

Ada kisah menarik dari Abu Sufyan ketika ia datang ke negeri Syam dan bertamu pada penguasa pada saat itu yaitu Heraklius raja Romawi. Saat itu Abu Sufyan masih dalam keadaan kafir. Lalu Abu Sufyan menceritakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berupa penghambaannya kepada Allah, meninggalkan berhala, berakhlak mulia, perilaku yang baik, kejujuran dan berbagai hal yang terdapat dalam ajaran Islam.

Maka Heraklius mengatakan kepada Abu sufyan, “Jika apa yang kamu katakan adalah benar, maka ia akan menguasai apa yang berada di bawah telapak kakiku ini”. (Hadist lengkap bisa dilihat dalam shahih al Bukhari).

Maka jika ummat Islam kembali pada Islam dengan benar, para ulama’ pemimpin dan juga rakyatnya kembali pada syari’at Islam, menjadikan kaum mu’minin sebagai wali dan menjadikan orang-orang kafir sebagai musuh, maka bumi dari timur hingga barat akan dikuasainya.

Ummat Islam tidak menang dengan nasonialisme. Islam juga tidak akan menang dengan bergabungnya pada kabilah atau kelompok tertentu yang notabene adalah kelompok kekafiran. Islam juga tidak akan menang dengan Demokrasi. Islam hanya akan menang jika ummatnya baik aqidahnya, benar ibadahnya dan juga akhlak yang tinggi serta mau untuk berjihad fii sabilillah. Allah ta’ala telah menjamin akan memenangkan agamaNya atas segala agama agama yang lain;

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. QS. As Shaff: 9.

Kedua adalah; berlapang dada atas berbagai perbedaan di kalangan ulama’

Berlapang dada terhadap perbedaan adalah menjadi tugas para pengusung kebangkitan Islam. Karena banyak para da’i yang berusaha untuk melontarkan kata-kata kotor dan berusaha menjatuhkan da’i yang lain hanya karena beberapa perbedaan saja. Mereka bunuh karakternya dan menuduh dengan tuduhan-tudahan yang sama sekali tidak berdasar.

Tahukah mereka bahwa ghibah itu adalah dosa besar. Apalagi mengghibah seorang ustad  panutan ummat, tentu dosanya lebih besar. Karena menggunjing seorang ‘alim madharatnya tidak hanya pada seorang alim terebut, akan tetapi juga akan berpengaruh pada ilmu yang ia bawa.

Perbedaan pendapat dan pemahaman terhadap suatu masalah dalam agama adalah suatu yang pasti terjadi. Karena itu adalah konsekwensi dari kita yang tidak ma’shum (terjaga dari segala kesalahan), dan tidak ada yang ma’shum kecuali Rasulullah SAW. Maka ketika beliau sudah tiada berarti sudah tidak ada lagi yang ma’shum dan semua orang bisa dan mungkin melakukan kesalahan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً  وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (QS. Hud: 118).

Bahkan perbedaan itu sudah terjadi di kalangan para sahabat semenjak Nabi SAW masih hidup, seperti perbedaan para sahabat dalam menyikapi perintah Nabi SAW pada waktu perang Ahzab untuk tidak shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah, di mana sebagian mereka masih di perjalanan ketika masuk waktu Ashar. Maka sebagian mereka berpendapat bahwa mereka tidak akan shalat Ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah sesuai dengan perintah Nabi SAW. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa mereka harus sholat karena mereka memahami perintah Nabi SAW itu bertujuan agar mereka mempercepat jalannya agar bisa sholat Ashar di Bani Quraizhah, bukan harus sholat di tempat itu. Tetapi, perbedaan pendapat di kalangan para sahabat pada zaman Nabi SAW itu semuanya dikembalikan kepada Beliau, dimana dalam masalah ini Nabi SAW membenarkan kedua pendapat tersebut.

Dan tentunya setelah wafatnya Nabi SAW perbedaan pendapat itu semakin banyak dan beragam. Perbedaan dalam masalah fiqih, aqidah dan juga termasuk di dalamnya adalah perbedaan dalam cara menegakkan syari’at Islam. Selama perbedaan itu masih dilandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga dengan rujukan para ulama’, maka hal tersebut tidak mengapa.

Tetapi, yang harus menjadi perhatian dan renungan kita adalah bahwa perbedaan pendapat di kalangan para sahabat itu tidak pernah menjadikan mereka pecah atau menimbulkan kebencian di antara mereka. Karena mereka mengetahui dan mendapat pelajaran dari Rasulullah SAW bahwa perpecahan itu akan menyebabkan kehancuran.

عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا قَرَأَ آيَةً ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ خِلَافَهَا فَجِئْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ ، وَقَالَ: كِلَاكُمَا مُحْسِنٌ وَلَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata, “Saya mendengar seseorang membaca suatu ayat, dan saya mendengar Nabi SAW. membaca ayat itu berbeda dengan bacaannya, maka saya membawa orang itu kepada Nabi SAW. dan memberitahukan kepadanya. Saya melihat rasa tidak senang di wajah Nabi SAW. dan beliau bersabda: “Kamu berdua benar (dalam hal bacaan ayat) dan janganlah berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu selalu berselisih sehingga mereka binasa.” (HR. Bukhari).

Perbedaan pendapat di kalangan para sahabat tidak mempengaruhi hubungan persaudaraan mereka sebagai umat yang satu. Mereka tetap saling mencintai karena Allah SWT., mereka tetap saling membela, saling menyapa, saling mengunjungi dan saling memberi hadiah dan mereka tetap masih sholat di belakang yang lain dan lesan mereka pantang untuk mencela saudaranya yang lain apalagi sampi mengkafirkannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ketiga; Berpegang teguh pada ilmu yang benar

Ilmu menjadi dasar dari dakwah usaha penegakan Islam. Dan keduanya tidak akan mungkin bisa berjalan dengan ridha Allah ta’ala kecuali karena ilmu. Bahkan Imam Al-Bukhari telah menuliskan bab dalam shahih Bukhari dengan judul “ al ‘Ilmu qoblal qouli wal ‘amali”, pentingnya ilmu sebelum berkata dan berbuat. Beliau landaskan pada firman Allah ta’ala;

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. (QS. Muhammad: 19)

Maka apa jadinya jika dakwah dan usaha menegakkan Islam tidak dilandaskan pada ilmu? Pasti akan mengalami kehancuran dan kesesatan.

Demikianlah sekilas tentang hal yang perlu diperhatikan agar semarak shahwah Islamiyah ini menjadi  lebih bermanfaat bagi ummat. Masih banyak poin yang belum terjabarkan karena terbatasnya waktu. Semoga yang sedikit ini bermanfaat pada khotib pribadi dan juga Jamaah sekalian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Penulis : Amru Khalis

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 132 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar