Khutbah Jum’at : Para Pemimpin di Akhir Zaman

Kursi Kepemimpinan
Kursi Kepemimpinan

An-Najah.net – Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah ta’ala.

Segala puji hanya milik Allah yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita. Baik berupa kesehatan, kesempatan, juga iman serta Islam. Sehingga kita dapat bersama-sama melaksanakan shalat jum’at pada siang hari ini.

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan Muhammad SAW. Beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Amma Ba’du:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Bumi akan terasa sejuk, manusia pun akan merasa damai dan bahagia saat kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang bertakwa. Hal ini terjadi pada masa Rasulullah SAW dan para khulafa’ ar-rasyidun setelahnya. Sebaliknya, dunia akan sempit, umat akan sengsara ketika mereka dipimpin oleh orang-orang dzalim, orang yang jahil tentang syari’at serta orang yang suka mememeras rakyat. Pemimpin seperti inilah yang kita jumpai pada hari ini. Mereka menyesatkan manusia, menolak kebenaran, membiarkan dan bahkan melegalkan perbuatan-perbuatan keji. Masih banyak lagi perbuatan dosa mereka.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Sesudahku kelak kalian akan dipimpin oleh para penguasa yang berkata berdasar landasan ilmu dan berbuat berdasar landasan ilmu. Menaati mereka merupakan ketaatan yang benar kepada pemimpin, dan kalian akan berada dalam kondisi demikian selama beberapa waktu lamanya.

Setelah itu kalian akan dipimpin oleh para penguasa yang berkata bukan berdasar landasan ilmu dan berbuat bukan berdasar landasan ilmu. Barangsiapa menjadi penasehat mereka, pembantu mereka, dan pendukung mereka, berarti ia telah binasa dan membinasakan orang lain. Hendaklah kalian bergaul dengan mereka secara fisik, namun janganlah perbuatan kalian meniru kelakuan mereka. Saksikan siapa yang berbuat baik di antara mereka sebagai orang yang berbuat baik, dan orang yang berbuat buruk di antara mereka sebagai orang yang berbuat buruk. ” (HR. al-Thabrani dan Al-Baihaqi. Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Silsilah Al-­Ahadits al-Shahihah no. 457.)

Itulah dua tipe kepemimpinan yang diterangkan Rasulullah SAW. Pertama, kepemimpinan orang shalih yang diwakili para sahabat radyiyallahu anhum dan para pemimpin setelahnya yang masih menerapkan Islam dan mendengar arahan para ulama’. Kedua, para pemimpin yang berbuat dan berkata tidak berdasarkan ilmu. Siapapun yang mengalami era seperti itu, Rasulullah SAW berpesan untuk menjauhi mereka. Jika harus bergaul, cukuplah secara fisik dan bukan secara batin.

Karakter pemimpin akhir zaman

Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia.

Penting rasanya untuk merinci sifat dan karakter pemimpin akhir zaman, agar kita bisa tepat bersikap dan berbuat. Beberapa sifat mereka telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW;

Pertama; Para pemimpin sesat

Rasulullah SAW bersabda;

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.

Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar pernah pertanya kepada Nabi SAW,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal? Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)

Al-Aimmah al-Mudhillin (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, diktator, kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan ialah mereka yang menyembunyikan ilmu dan mengubah kebenaran. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwat atau kepentingan para pemimpinnya.

Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi SAW, mereka lalu ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotivasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka menyebabkan Islam roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar bin Khattab berwasiat kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku (Ziyad) menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), “sanadnya shahih.”)

Kedua; Para pemimpin yang jahil

Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ka’ab bin Ajzah:

أَعَاذَكَ اللهَ مِنْ إمَارَةِ السُّفَهَاءِ

“Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits riwayat Ahmad dikatakan bahwa pemimpin bodoh adalah pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah SAW. Yakni pemimpin yang tidak menerapkan syariah Islam.

Bodoh dalam bahasa arab disebut dengan safiih jama’nya sufaha’ yaitu tidak sempurnanya pikiran. Dan tentang penguasa yang bodoh ini telah disebutkan oleh Nabi SAW dalam sebuah hadits;

Semoga  Allah  melindungimu  dari  kepemimpinan  orang-orang yang  bodoh.”

Ka’ab berkata, Apakah kepemimpinan orang-orang bodoh itu?

Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntunanku, dan mereka tidak meneladani sunahku, siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kedhalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan bagian dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kedhalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta mereka akan menemuiku di atas telagaku.(HR. Imam Ahmad).

Ketiga; Para pemimpin diktator (kejam)

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ شَرَّ الوُلاَةِ الحُطَمَةُ

“Sesungguhnya seburuk-buruknya para penguasa adalah penguasa Al-Huthamah (diktator).” (HR. Al-Bazzar). Pemimpin al-huthamah (diktator) adalah pemimpin yang menggunakan politik tangan besi terhadap rakyatnya.

Dari Abu Layla al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW bersabda:

وَسَيَلِي أُمَرَاءُ إنْ اسْتُرْحِـمُوا لَمْ يَرْحَـمُوا، وإنْ سُئِلُوا الحَقَّ لَمْ يُعْطُوا، وإِنْ أُمِرُوا بِالْـمَعْرُوْفِ أَنْكَرُوا، وسَتَخَافُوْنَهُمْ وَيَتَفَرَّقَ مَلأُكُمْ حَتى لاَ يَحْمِلُوكُمْ عَلى شَيءٍ إِلاَّ احْتُمِلْتُمْ عَلَيْهِ طَوْعاً وَكَرْهاً، ادْنَى الحَقِّ أَنْ لاَ تَأْخُذُوا لَـهُمْ عَطَاءً ولا تَحْضُروا لَهُمْ في المًّلاَ

“Dan berikutnya adalah para pemimpin jika mereka diminta untuk mengasihani (rakyat), mereka tidak mengasihani; jika mereka diminta untuk menunaikan hak (rakyat), mereka tidak memberikannya; dan jika mereka disuruh berlaku baik (adil), mereka menolak. Mereka akan membuat hidup kalian dalam ketakutan; dan memecah-belah tokoh-tokoh kalian. Sehingga mereka tidak membebani kalian dengan suatu beban, kecuali mereka membebani kalian dengan paksa, baik kalian suka atau tidak. Serendah-rendahnya hak kalian, adalah kalian tidak mengambil pemberian mereka, dan kalian tidak menghadiri pertemuan mereka.” (HR. Thabrani).

Bagaimana menyikapinya?

Jama’ah shalat jum’at yang dimulyakan Allah ta’ala.

Rasulullah SAW telah memperingatkan tentang para penguasa di akhir zaman. Beliau juga menjelaskan bagaimana menyikapi mereka. Beliau bersabda yang artinya;

Tiada seorang Nabi pun yang diutus di suatu kaum sebelumku melainkan mereka memiliki pengikut setia dan sahabat. Para pengikut setia tersebut meneladani ajaran para Nabinya, dan mematuhi perintahnya. Selanjutnya, datang generasi penerus mereka yang berbeda sikap; mereka bertutur kata yang tidak mereka terapkan sendiri, dan mengamalkan hal-hal yang tidak diajarkan kepada mereka. Barang siapa yang berjihad memerangi mereka dengan kekuatan yang ia miliki maka ia adalah orang yang beriman. Barang siapa yang berjihad memerangi mereka dengan lisannya maka ia juga orang yang beriman. Dan barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan hati (membenci mereka) maka ia juga orang yang beriman. Dan tiada keimanan sedikitpun bagi selain ketiga kelompok tersebut” (HR. Muslim).

Jelaslah bagi kita bagaimana menyikapi mereka. Yaitu, pertama berjihad dengan tangan dan lisan. Jika tidak mampu maka dengan hati, yaitu dengan mengingkari apa yang mereka kerjakan. Dan tidak ada iman lagi walaupun seberat biji sawi bagi orang yang tidak mau mengingkari dan bahkan membantu kedzaliman mereka.

Semoga kita dijadikan orang yang istiqamah meski hidup pada masa yang berat ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

Penulis : Amru

Sumber : Majalah An-najah Edisi 111 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Anwar