Khutbah Jumat: Problematika Umat

Problematika umat
Problematika umat

Sungguh, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Yang menciptakan manusia. Yang mengatur kehidupan ini, sehingga penuh dengan keteraturan. Yang memberikan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam, keluarga, sahabat-sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang berjalan di atas tuntunannya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jama’ah jum’ah semuanya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Shalat jum’ah Rahimakumullah

Bila kita meneliti kondisi umat Islam dewasa ini, maka ada beberapa hal yang patut kita cermati dan selanjutnya kita carikan solusinya dalam Islam. Diantara permasalahan tersebut adalah :

Pertama, hilangnya sumber kekuatan umat islam.

Sumber kekuatan tersebut adalah dien Islam. Maka benar yang dikatakan oleh sahabar Umar bin Khaththab t

“نَحْنُ قًوْمٌ أًعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلاَمِ فَمَتَى اِبْتَغَيْنَا بِغَيْرِ الْإِسْلاَمِ أَذَلَّنَا اللهُ”. رواه الطَبَرِي فِي تَفْسِيْرِهِ (13/478

“Kami adalah kaum yang Allah mulyakan dengan islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.” ( At Tobari 13/478 ).

Karena itu seorang muslim, tidak akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia lemah, meskipun merasa dirinya kuat; ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya.

Baca juga: Khutbah Jumat, Penyakit Umat Islam dan Obatnya di Akhir Zaman

Islam adalah sumber kekuatan. Bila kaum muslimin berpegang teguh dengan Islamnya, niscaya ia akan mengalami kejayaan. Namun bila tidak, ia akan dihinakan oleh Allah dan dijadikan sebagai hidangan bagi musuh-musuh Islam.

Banyak dari generasi islam hari ini, yang berbangga dengan mengikuti budaya barat. Mereka bangga ketika istri istri mereka melepas jilbab. Berdandan dengan dandanan yang diharamkan islam. Bangga dengan berpakaian merangsang yang mereka pakai di tempat-tempat keramaian. Bangga ketika melakukan kemaksiatan dan kefasikan. Sebaliknya mereka malu ketika melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala. Malu ketika menegakkan shalat jama’ah di masjid. Memakai pakaian muslim atau muslimah. Padahal kebanggaan yang bertentangan dengan islam hanya akan menghinakan ia di hadapan Allah Ta’ala.

Persoalan kedua, terurainya ikatan Islam sedikit demi sedikit.

Dari Abi Amamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasululah sallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Ikatan Islam betul-betul akan terurai satu persatu. Dan setiap kali terlepas satu ikatan, maka manusia akan bergantung dengan ikatan berikutnya. Yang pertama adalah terlepasnya hukum dan yang terakhir adalah salat.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis diatas, Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam sampaikan bahwa yang pertama kali terlepas adalah hukum. Hukum ini, beserta ruang lingkupnya, mulai terlepas satu demi satu, semenjak masa khalifatur rasyidin berakhir. Apa yang dahulu ada di kekhalifahan ini, seperti majlis syura, penjagaan harta, dan penyampaian hak-hak mulai hilang satu persatu. Harta, jiwa dan kehormatan kaum muslimin tidak lagi dihukumi dengan syari’at Allah Ta’ala. Sebaliknya, demokrasi dan pemikiran-pemikiran lainnya menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai masalah ummat.

Baca juga: Khutbah Jumat, Tuntutan Ukhuwah Islamiyah

Bersamaan dengan itu, berubahlah kekhilafahan yang berbentuk syura kepada raja yang menggigit, yang diwariskan secara turun-temurun dari bapak kepada anaknya. Perkara hukum mulai diserahkan kepada bukan ahlinya dan amanah mulai disepelekan. Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ عَلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Jika suatu urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kehancurannya [ HR. Bukhori ].

Orang yang menyerahkan kekuasaan kepada seseorang, padahal ia tahu ada orang yang lebih ahli dan baik darinya dalam membawa kekuasaan itu, maka ia telah menipu Allah, rasul dan orang-orang mukmin.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Shalat jum’ah Rahimakumullah

Bila kita melihat fenomena hari ini, maka kita dapati hukum Islam telah terurai satu persatu. Hukum Islam telah digantikan dengan hukum yang lain. Aturannya diubah dan pemahamannya dikaburkan. Kebodohan, bid’ah, khurafat, gambaran yang rusak dan pemikiran yang membawa kepada kekafiran, juga telah tersebar di tengah kaum muslimin. Ini semua adalah hasil dari perbuatan pemimpin Islam yang menyebarkan kebodohan, meremehkan ilmu dan memerangi dakwah di belahan dunia. Setiap ada dakwah yang bersungguh-sungguh untuk mengajarkan kepada manusia bahwa Allah U itu satu, Allah Ta’ala adalah pemilik hukum dan kemuliaan umat Islam terletak pada Islam, maka ia akan dihancurkan, pelakunya dicap dengan cap teroris, dijebloskan ke penjara atau dihukum mati. Sementara dalam waktu bersamaan, ia memberi kesempatan kepada khurafat dan bid’ah serta kemaksiatan untuk berkembang. Maka yang tersebar di tengah manusia adalah kebodohan dan kerusakan.

Kembalilah kita pada masa jahilyah. Yaitu suatu masa yang jauh dari tuntunan islam, walau sesungguhnya masa jahiliyah telah meninngglkan kita. Bersamaan dengan itu, masarakat kita tidak paham dengan jahilyah menurut Islam. Sehingga mereka bangga dengan budaya-budaya orang kafir, akhlaq orang kafir serta kebiasaan-kebiasaan mereka. Inilah yang disinyalir oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyallau ‘anhu dalam perkataannya :

إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةُ إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةِ

Sesungguhnya akan terurai ikatan islam ini sehelai demi sehelai, ketika ada dalam islam orang-orang yang tidak mengetahui apa itu jahiliyah. [ kitab tauhid Shalih Fauzan juz 1 ]

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Shalat jum’ah Rahimakumullah

Persoalan yang ketiga adalah meninggalkan jihad.

Jihad adalah bentuk kekuatan kaum muslimin dan sebab kemuliaannya. Dengan jihad kaum muslimin menjadi kuat di hadapan musuh-musuhnya. Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Bakar as Siddiq t bahwasanya Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam bersabda :

مَا تَرَكَ قَوْمٌ الجِهَادَ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ بِالْعَذَابِ

Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fisabilillah kecuali allah akan mengadzab seluruh dari mereka. [ HR. Tobroni ].

Hari ini kaum muslimin telah meninggalkan jihad, mencintai dunia dan takut mati. Maka benarlah apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam 14 abad silam. Beliau pernah bersabda,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ, سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُ
مْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian telah melakukan penjualan secara kredit beserta tambahan harga, mengikuti ekor sapi, suka terhadap pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak dilepaskan dari kalian sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (HR. Abu Dawud).

Baca juga: Khutbah Jumat: Saat Kebohongan Dan Kemunafikan Merajalela

Ketika kaum muslimin meninggalkan jihad, maka Allah Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka. Dan kehinaan itu tidak akan dicabut kecuali mereka kembali pada islam dan jihad mereka. Dahulu, Islam berada dalam satu kekhilafahan, yang merupakan simbol persatuan dan kesatuan. Semua kaum muslimin tunduk pada kekhilafahan ini. Namun setelah kekhilafahan ini runtuh pada tahun 1924 M, karena meninggalkan jihad, umat Islam berada di bawah kekuasaan orang kafir. Wilayahnya pun direbut dan dibagi-bagi di antara mereka. Maka muncullah Italia, Perancis, Inggris, Belanda, Spanyol, dan Portugal. Maka, sebagian umat Islam saat itu berada di bawah kekuasaan Perancis, sedang sebagian yang lain dibawah kekuasan Inggris. Hukum Islam diberangus dan digantikan dengan hukum mereka. Jihad disingkirkan dan kaum muslimin disibukkan dengan perkara-perkara yang remeh.

Wilayah Islam yang dahulu merupakan wilayah yang luas, oleh mereka kemudian dipecah-pecah menjadi negara-negara kecil, yang jumlahnya lebih dari 80 buah. Setiap negara di dalamnya dimunculkan masalah-masalah, disamping dibuat bergantung kepada dirinya. Dimunculkan fitnah dan konspirasi untuk mengadu domba satu dengan yang lainnya. Iran diadu dengan Irak; Yaman dengan Oman; Mesir dengan Sudan, dan sebagainya. Ini semua tentunya menjadikan kaum muslimin semakin lemah.

Disamping mengadu domba, mereka juga menanamkan pengaruh – pengaruhnya. Diantaranya adalah hukum jahiliyah, pendidikan sekuler, perilaku buruk, bahasa dan adat istiadat yang menyimpang. Akibatnya, kaum muslimim tumbuh tidak pada gambaran jernihnya sebagaimana telah diwariskan oleh para pendahulunya. Maka yang muncul adalah perpecahan, perselisihan pandangan dan kekacuan, yang itu semua berujung kepada kehinaan diri.

Akan tetapi Allah Ta’ala akan senantiasa memenangkan dan menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Allah berfirman :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. [ QS. As Shoff : 8 ].

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Shalat jum’ah Rahimakumullah

Itulah beberapa persoalan umat yang menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita semua. Dan menguatkan kita untuk menempuh jalan tersebut. Demikian khotbah pertama yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya minta maaf.

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ * وَ أَقُوْلُ رَبِّغْفِرلَنَا وَ ارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحَمِيْن

[ KHOTBAH KEDUA]

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, الصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الكَرِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن. أَمَّا بَعْدُ :

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Shalat jum’ah Rahimakumullah

Islam adalah din yang sempurna. Memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan dengan jalan yang logis dan sesuai dengan fitrah manusia. Termasuk permasalahan yang kami jelaskan didepan.

Islam memberikan konsep dakwah, amar ma’ruf nahyu munkar dan jihad fi sabilillah dalam menghadapi realita ummat hari ini. Dengan dakwah kita pahamkan ummat bahwa kemuliaan hanya dengan islam. Hanya berislam secara kaffah seseorang mendapat kemuliaan dihadapan Allah Ta’ala dan manusia. Dan dengan amar ma’ruf nahyu munkar serta jihad fi sabilillah kita akan hadapi orang-orang yang menghalang-halangi dakwah dan kebenaran ini.

Sebelum kita tutup khotbah pada siang hari ini, marilah kita merenungi firman Allah Ta’ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [ QS. An Nahl : 125 ].

Dengan ayat ini dapat kita simpulkan bahwa dakwah, amar ma’ruf nahyu munkar serta jihad fisabilillah adalah solusi untuk mengembalikan kejayaan ummat serta solusi dari seluruh permasalahannya.

Baca juga: Khutbah Jumat: Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak

Semoga umat ini senantiasa dibimbing Allah Ta’ala berjalan diatas kebenaran. Diberikan solusi dari berbagai permasalahan. Dilindungi dari makar musuh-musuh Islam, dan dimenangkan dari mereka dan diberi rizki kembalinya daulah islam yang telah sirna.

Demikian khotbah jum’ah yang kami sampaikan. Semoga meningkatkan iman dan taqwa kita pada Allah Ta’ala. Dan semoga kita di istiqomahkan dijalan-Nya yang mulia hingga kita menemui ajal. Marilah kita tutup khotbah ini dengan berdo’a kepada Allah Ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأّيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرِاهِيْمَ, وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتْ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَاَمْوَاتِ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَلنَابِهِ, وَاعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ