Khutbah Jum’at, Terapi Penyakit Futur Bagi Aktivis

Penyakit Futur ]
Penyakit Futur ]

An-Najah.net – Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Iman manusia tidak selamanya di atas. Kadang naik dan kadang turun. Saat iman naik, ringan untuk beribadah, berdakwah, amar ma’rufnahimukar dan berbagai ibadah lainnya. Sebaliknya, saat iman kendor badan rasanya malas untuk beribadah, hati terpaut dengan dunia, tidak bisa merasakan manis dan lezatnya ibadah dan persaudaraan, ringan untuk bermaksiat dan yang lainnya.

Demikian pula rintangan dalam beribadah dan dakwah serta iqamatuddin tidak selamanya ringan ringan dan menyenangkan. Tetapi ada masa-masa berat yang kadang menjadikan seorang muslim mundur dan bahkan tidak kuat melanjutkan perjuangan. Tidak berani mengambil risiko yang dihadapi sehingga memilih zona aman.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist;

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad, 2: 188).

Selama futurnya seseorang tidak keluar dari ajaran Rasulullah SAW dengan masih melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan, ia telah mendapat petunjuk. Tetapi jika kondisi futurnya telah menjadikan seseorang meninggalkan kewajiban dan melaksanakan larangan-larangan, ia telah sesat.

Jama’ah shalat Jumat yang berbahagia

Futur adalah suatu penyakit yang dapat menimpa siapa saja, bahkan termasuk orang-orang shalih dan para aktifis. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah rajin melakukan ibadah.Ar Roghib berkata, “Futur ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, atau lemah setelah kuat”. Al mufradat fii ghaaribil qur’an 371.

Orang yang sedang futur mengalami penurunan kuantitas dan kualitas amal shalih, atau mengalami kemerosotan keimanan maupun keislamannya. Sendi-sendi hatinya mengendur sehingga berdampak pada turunnya stamina ruhiyah, dan lebih jauh lagi hal ini mengakibatkan dirinya terjauh dari amal kebaikan dan anjlok produktivitas amal shalihnya. Tanda-tandanya adalah munculnya sifat malas, menunda-nunda, berlambat-lambat, dan yang paling buruk adalah berhenti dari amal dakwah.

Memang ada sebagian orang yang terkena penyakit futur bisa sembuh dan kembali bersemangat. Tetapi banyak diantara mereka yang saat futur menghampiri tidak sembuh hingga Allah Ta’alamencabut nyawanya. Kita berlindung dari keadaan tersebut.

Ciri cirinya

Seseorang terkena penyakit futur akan merasakan hati yang keras dan gersang serta malas beribadah. Bacaan Al-Qur’an dan juga ceramah-ceramah tidak bisa menggugah hatinya. Datangnya kematian dari orang-orang disekitarnya tidak pernah bisa mengambil pelajaran. Hati mereka seperti batu dan bahkan lebih keras lagi. Semua ini disebabkan dosa yang telah menutupi hati sehingga hilang kepekaan dan mengeras. Allah Ta’alaberfirman;

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّاكَانُواْيَكسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (Al Mutaffifiin: 14).

Padahal hati seorang mukmin adalah hati yang lembut, peka terhadap peringatan dan tersentuh dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal: 2).

Fenomena lain adalah malas untuk beribadah. Padahal itu adalah salah satu tanda orang munafik. Orang munafik tidak meninggalkan ibadah. Tetapi mereka melaksanakannya dengan kemalasan. Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. An Nisa’: 142).

Ma’asyiral muslimin yang dimulyakan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala juga menyebutkan dalam surat At-Taubah: 54;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan”.

Mereka malas untuk melaksanakan shalat malam. Jika mengerjakannya, itu pun dengan cepat dan ringkas. Shalat witir dan sunnah rawatib ditinggalkan dengan enteng. Lisan terasa kelu untuk membaca ayat-ayat Allah Ta’ala. Kalaupun membacanya, itupun hanya beberapa halaman. Dzikir setelah shalat dan dzikir pagi sore terasa berat dan kemudian ditinggalkan.

Terapi Penyakit Futur

Terapi yang dapat menjauhkan seseorang dari sifat futur antara lain;

Pertama, jauhi kemaksiatan.

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:

وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي  وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalahia.” (Thaha: 81)

Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96).

Jama’ah shalat jum’at yang berbahagia

Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam.

Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah Ta’ala. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah.

Allah berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَـٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64).

ketiga, menjauhi hal-hal yang berlebihan.

Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai kemampuannya.

Firman Allah:

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ  وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 16)

Islam adalah agama yang seimbang. Memerintahkan pemeluknya untuk memperhatikan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan.

Keempat, Doa.

Terakhir adalah doa. Seperti doa yang telah Rasulullah SAWajarkan;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahummainnia’udzu bika minal‘ajzi, walkasali, waljubni, walharomi, walbukhl. Waa’udzu bika min ‘adzabilqobriwa min fitnatilmahyaawalmamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Demikianlah beberapa fenomena dan juga terapi bagi kita yang terkena penyakit futur. Semoga kita terhindar dari futur, tetap tegar meski ujian menjelang dan tetap istiqamah hingga ajal menjemput. Demikianlah khutbahJum’at yang kami sampaikan. Kebenarannyadatang dari Allah Ta’ala, dan jika ada salahnya datang dari saya sendiri karena bisikan setan, dan kami beristighfar kepada Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Penulis : Amru

Sumber : majalah An-Najah Edisi 129 Rubrik Khutbah Jum’at

Editor : Abu Khalid