Khutbah Jumat, Terlepasnya Ikatan Islam Seutas Demi Seutas

TERLEPASNYA IKATAN ISLAM SEUTAS DEMI SEUTAS 1
Khutbah jumat

An-Najah.net – Ikatanikatan Islam sangat banyak. Ikatan tersebut menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika simpul-simpul ini mulai terlepas, kerusakan dalam masyarakat akan muncul. Hingga akhirnya umat semakin rusak.

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat. Mulai dari sehat, sempat hingga nikmat paling besar berupa iman dan Islam.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi junjungan Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.

Baca juga: Khutbah Jumat: Mahalnya Waktu Bagi Seorang Mukmin

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadist;

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Ikatan Islam akan lepas seutas demi seutas. Dan apabila satu simpul telah terlepas niscaya manusia akan berpegang pada simpul yang lain. Ketahuilah bahwa simpul pertama yang akan terputus adalah simpul hukum pemerintahan dan simpul terakhir adalah shalat”. (HR. Ahmad)

Hadist ini memberikan kabar tentang hari akhir yaitu lepasnya ikatan-ikatan Islam pada diri seseorang. Diawali dengan ikatan pemerintahan atau hukum Islam. Dan terakhir adalah ikatan shalat.

Baca juga: Ciri Generasi Yang Buruk, Meninggalkan Shalat

Al-Munawi menyatakan, kata uraa al-Islam, ‘uraa jamak dari ‘urwah, asalnya adalah sesuatu yang menjadi pegangan di sisi timba, cangkir dan semisalnya. Lalu dipinjam (dengan gaya majaz isti’aarah) dan digunakan untuk menyebutkan perkara agama berupa cabang-cabang Islam yang dijadikan pegangan dan tempat untuk bergantung.

Hadits ini menyatakan bahwa al-hukm (pemerintahan/al-qadhaa’), sama seperti shalat, adalah bagian dari simpul-simpul Islam. Artinya, pemerintahan merupakan bagian dari Islam seperti halnya shalat. Karena itu, hadits ini menggugurkan pendapat orang yang menyatakan bahwa pemerintahan bukan bagian dari Islam. Justru sebaliknya, hadits ini menyatakan bahwa al-hukm (pemerintahan/al-qadhaa’) adalah salah satu simpul Islam. Memisahkan pemerintahan dari Islam sama artinya dengan membuang salah satu simpul Islam.

Ikatan-ikatan Islam sangat banyak. Ikatan tersebut menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika simpul-simpul ini mulai terlepas, kerusakan dalam masyarakat akan muncul. Hingga akhirnya umat semakin rusak.

Rasulullah Saw menyebutkan berbagai simpul Islam sebagaimana dalam hadist;

Diriwayatkan dari Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu yang mengisahkan ketika bermajelis bersama Rasulullah Saw, beliau berkata kepada kami, “Manakah simpul agama yang paling pertengahan?” Para sahabat menjawab, “Shalat?”. Rasulullah Saw berkata, “Bagus. Namun bukan shalat”. Mereka menjawab, “Zakat?” Rasulullah Saw menjawab, “Bagus, namun bukan zakat”. Mereka menjawab, “Puasa Ramadhan?” Rasulullah SAW menjawab, “Bagus. Namun bukan puasa Ramadhan”. Mereka menjawab, “Jihad?” Rasulullah menjawab, “Bagus, namun bukan jihad”. Para sahabat terdiam. Kemudian Rasulullah Saw bersabda; “Sesungguhnya simpul agama yang pertengahan adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. (HR. Ahmad)

Hadist ini menunjukkan bahwa simpul Islam antara lain adalah; zakat, puasa, haji, jihad. Dan simpul yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah ta’ala. Inilah simpul yang merupakan puncak dari agama Islam. Dan simpul-simpul ini akan terlepas satu demi satu yang terakhir adalah shalat.

Baca juga: Khutbah Jumat: Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlak

Tentang terurainya ikatan Islam, Imam Al Munawi menjelaskan bahwa hal itu terjadi secara bertahap atau satu demi satu. Tidak seluruhnya sekaligus.

Hukum Islam

Pertama kali yang akan hilang adalah hilangnya hukum Islam. Semua umat Islam berkewajiban memberlakukan hukum Islam dalam segala hal. Dan dilarang untuk memberlakukan berbagai undang-undang dan kebiasaan yang bertentangan dengan syariat yang suci. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُم  ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِم  حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيْمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya..” (Q.S An-Nisaa: 65).

Baca juga: Khutbah Jumat, Penyakit Umat Islam dan Obatnya di Akhir Zaman

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Rasulullah Saw telah mengabarkan kepada kita bahwa penyimpangan pertama, atau ikatan pertama yang lepas, ialah pemerintahan. Salah satu problem besar umat Islam hari ini ialah tidak memiliki pemerintahan. Tidak hidup di bawah naungan khilafah yang menjamin tegaknya hukum-hukum Islam. Ini adalah musibah, seperti yang dijelaskan oleh Imam As-Shanani dengan, “Digantinya hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum thagut.” (At-Tanwir Syarh Jami’us Shaghir – As-Shan’ani, juz 9 hlm 33)

Semenjak runtuhnya kekhilafahan tahun 1924, umat Islam telah kehilangan syari’atnya. Kita hari ini menyaksikan berdirinya berbagai negara berdasarkan konsep kebangsaan dan bukan lagi berlandaskan aqidah tauhid dan ibadah kepada Allah semata. Maka mulailah dalam bidang hukum masing-masing nation-states tersebut meninggalkan hukum Allah dan RasulNya lalu berkreatifitas menyusun sendiri hukumnya masing-masing.

Ada yang kurang kreatif sehingga begitu saja mengadopsi sistem hukum mantan penjajahnya, seperti Indonesia mengambil perangkat hukum Belanda sebagai hukum nasionalnya. Namun ada juga yang sedikit lebih kreatif dengan mengkombinasikan hukum mantan penjajahnya dengan hukum adat-setempat plus campuran hukum dari Al-Qur’an. Tetapi tidak ada yang secara murni dan konsekuen menjadikan hanya Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai rujukan tunggal hukum nasionalnya, apalagi dalam tataran aplikasinya.

Baca juga: Khutbah Jumat, Ketika Ilmu menjadi Langka dan Kebodohan Meralalela

Kita dapat lihat sendiri dari beberapa negara yang mayoritas Islam di dunia ini. Al-Jazair memakai hukum Prancis, Malaysia memakai hukum Inggris, Indonesia memakai hukum Belanda, dan lain sebagainya. Maka jangan heran, jika ancaman Allah kepada mereka yang tidak mau berhukum dengan Al-Quran dan Sunnah, yaitu dengan adanya perpecahan di kalangan mereka, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing.

Dari terurainya simpul Islam yang paling pertama ini, kitapun menyaksikan terurainya berbagai simpul Islam lainnya. Sehingga dewasa ini tidak lagi mengagetkan bila kita mendapati seorang yang mengaku muslim dengan ringannya meninggalkan kewajiban paling asasi, yaitu shalat. Dan jika ini benar, berarti dewasa ini kita sedang menyaksikan realisasi hadits Nabi SAW di atas di mana dari ikatan Islam paling awal –yaitu masalah hukum– hingga ikatan Islam paling akhir –yaitu shalat– semua telah terurai.

Yang Terakhir Shalat

Simpul terakhir yang akan lepas adalah shalat. Semakin banyak orang yang meninggalkan shalat. Atau tetap shalat tetapi tidak pernah dilakukan dengan berjamaah di masjid bagi laki laki. Atau melaksanakan di akhir waktu terus menerus dan juga tidak menjaga kekhusyu’annya menjadi tanda akhir zaman. Bukankah Allah ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un: 4-5)

Allah ta’ala mencela orang orang yang shalat tetapi lalai dari shalatnya. Tidak mau menjaga kekhusyu’annya, menjaga waktunya, dan menjaga tetap dilaksanakan dalam jamaah. Ayat ini persis sebagaimana penjelasan imam Al Munawi ketika menjelaskan (وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ) “dan yang terakhir adalah shalat” adalah orang sudah menyepelekan shalat dan kalaupun ada yang shalat mereka tidak ikhlas. Sebagaimana disebutkan Al-Imam Al-Munawi: hingga orang-orang desa dan juga banyak dari orang orang kota yang tidak segera shalat (hingga keluar waktu shalat). Dan jika mengerjakannya, mereka shalat dengan riya’ dan pura-pura.” (Faidhul Qadir – Al-Munawi, Juz 5 hal 263).

Baca juga: Khutbah Jumat, Mereka Para Perusak Agama

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Kesimpulan, bahwa hari ini kita sedang ditimpa satu musibah ketika simpul-simpul Islam telah terlepas dari kaum muslimin karena usaha orang kafir yang tidak ridha terhadap dinul Islam. Maka wajib bagi kita untuk mengembalikan simpul-simpul tersebut. Dan yang pertama kali dikembalikan adalah simpul hukum. Dengannya, simpul simpul Islam ini akan menjadi kuat dan kebahagiaan manusia dunia dan akhirat akan diraih.

Demikian khotbah pertama yang saya sampaikan, kurang lebihnya saya minta maaf. Kebenarannya datang dari Allah ta’ala. Jika ada salah, datang dari saya sendiri karena bisikan setan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ . أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ . فَاسْتَغْفِرُوْهُ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Editor : Ibnu Alatas