Kisah Dari Suriah: Sengsara di Kamp Yamadhiyah

Pengungsi Suriah [ilustrasi]
Pengungsi Suriah [ilustrasi]

(An-najah) – Sudah satu jam wajah saudara Abu Fuad ini murung. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Pemilik wajah yang biasanya selalu ceria ini ditugaskan oleh dokter Romi untuk menemani kami selama 24 jam. Beliaulah teman canda kami di saat para mujahidin di siang hari berangkat ke garis depan atau pergi ke tempat latihan.

Sejak dua jam lalu teleponnya terus berdering. Penasaran dengan apa yang terjadi dengan bujang 35 tahun ini, saya akhirnya memberanikan diri bertanya. “Sepertinya saudara sedang dilanda kesusahan.?” Tanya saya, “iya, saya sedang memikirkan keluarga saya.” Jawabnya datar. Saya agak terkejut, ia pernah menceritakan kepada saya, ia melarikan diri dari Lattakia berhijrah ke Jabal Akrod meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah tua dan beberapa saudara-saudarinya di sana. Kota Lattakia merupakan kota propinsi yang masih dikendalikan 100% oleh Bashar Asad.

Dulu, di kota asalnya, beliau termasuk penggerak demonstran menentang Basyar Asad. Markas pemuda demonstran terletak di masjid jami’ Tha’ah, salah satu masjid yang terbilang luas di kotanya. Pernah ditahan oleh polisi rezim selama empat puluh hari. Namun, “Walau hanya empat puluh hari, rasanya seperti empat ratus tahun.” Tuturnya seraya menerawang jauh mengingat-ngingat masa-masanya di penjara. Pukulan, tendangan, adalah ‘makanannya’ tiap jam saat dipenjara.

Dibebaskan bersyarat, yaitu jangan pernah lagi menentang pemerintah, walau dengan kata-kata apalagi berdemo, itu dosa besar di mata penguasa. Jiwa muda tidak mudah dipadamkan dengan ancaman penjara. Sekeluar dari penjara ia melakukan koordinasi ulang dengan pemuda-pemuda di kota tersebut. Perlawanan kali ini, bukan lagi sekedar dengan teriakan demo atau tulisan. Namun mereka mulai mengusahakan senjata. Aktifitasnya tidak sekedar mengumpulkan dana untuk membeli senjata tetapi juga membagikan sembako ke para fuqara’. Untuk yang satu ini tetap dilakukan secara diam-diam.

Ternyata, dalam pandangan pemerintah Nushairiyah, membagikan bantuan ke para fuqara’ adalah tindak kejahatan. Untuk kedua kalinya ia harus berhadapan dengan pihak keamanan. Di meja penyelidik, ia dianggap bersalah karena membagikan makanan kepada para irhab –teroris-. Usaha pengumpulan senjata pun diketahui di meja penyidik.
Sebelum sidang berikutnya, ia berhasil melarikan diri , bersembunyi di rumah salah satu keluarganya selama empat bulan. Kemudian lewat beberapa aktifis beliau disarankan untuk melarikan diri ke Jabal Akrod. Walau harus menempuh perjalanan yang jauh, berjalan kaki mendaki gunung dan lembah selama 14 jam perjalanan nonstop dibawah hujan dan suhu yang dingin, perjalanan ini tetap ditempuh. “Sesekali kami terpeleset, karena jalannya sangat licin. Kulit kepala saya sobek sekitar 7 cm. Jalan berlumpur hingga lutut harus kami lalui, kaki saya yang pincang ini harus dibantu tangan untuk bisa melangkah, ” kenang pemuda yang sempat mengadu nasib di Lebanon ini. 

“Berarti yang menelepon kamu sejak tadi itu kedua orang tua dan saudaramu di Lattakiya?” Simpul saya. “Bukan,” katanya “tetapi saudara saya yang tinggal di tenda pengungsi Yamadhiyah, ia mengungsi dengan istri dan empat anaknya yang masih kecil.” Sedikit ia mulai bertutur tentang beberapa kenangan masa lalu dengan saudaranya ini. Dulu, saat di kota Lattakia, ia dan saudaranya ini termasuk penggerak demonstran. Karena aktifitasnya ini, saudaranya ini menjadi buron. Dan melarikan diri ke Jabal Akrod.

“Sebenarnya ia tinggal di Salma ini bersama keluarganya, tetapi dua hari sebelum kita tiba di sini, daerah ini diserang habis-habisan oleh Basyar Asad. Anak-anaknya ketakutan, karena mendengar suara birmil yang membuat telinga sakit, puluhan bom tiap hari dijatuhkan di sini. Akhirnya saya menghubungkannya dengan penanggung jawab kamp pengungsi di Yamadhiyah.” Sambung pemuda yang ramah dan tawadhu ini. Saya terus terang sangat mengagumi tawadhu’, penghormatan, dan itsar pemuda-pemuda di sini.

Pernah suatu waktu, kami makan bersama di daerah perbatasan, kami makan agak lahap, maklum cuacanya sangat dingin, membuat perut selalu keroncongan. Sebagian yang ada di penginapan tersebut keluar, mereka tidak ikut makan bersama kami. Hingga kami kenyang, baru mereka masuk, lalu makan sisa-sisa kami. Kami merasa sangat bersalah.
“Terus apa yang saudara khawatirkan? Bukankah mereka tinggal di tempat yang lebih aman? Jauh dari jangkauan tembakan roket Asad?” sambung saya mencari tahu sebab murungnya. “Akhi, memang di sana aman dari jangkauan tembakan roket dan serangan Basyar, tetapi sungguh kehidupan di sana lebih memprihatinkan dari pada di sini. Para pengungsi yang berjumlah sekitar 3500 hingga 4000 dalam keadaan kekurangan makanan, minuman, dan obat-obatan. Mereka kedinginan, karena daerah itu lebih dingin dari pada di Jabal Akrod, sementara mereka hidup di tenda. Tidak ada bangunan, apalagi apartemen seperti yang kita tempati sekarang. Dan tiga keponakan saya dehidrasi berat, mereka kekurangan air minum.” Jelasnya dengan suara datar.

Jawaban itu membuat saya tersentak. Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi mereka. Di sini, di Jabal Akrod ini, kami merasakan dingin yang luar biasa. Kalau menjelang Ashar hingga jam 11 siang, suhu di sini bisa mencapai 6 derajat ke bawah, belum lagi angin yang bertiup sangat kencang. Menambah sengsara siapa saja yang diterpa angina. Di kondisi seperti ini, pakaian, kehangatan, makan dan minum menjadi kebutuhan yang tidak boleh tidak. Wajib ada.

“Insya Allah dalam beberapa hari ke depan kita akan berkunjung ke sana. Saudara akan melihat sendiri kondisi mereka yang memprihatinkan itu.” Tutur Abu Fuad saat saya menanyakan lebih dalam kondisi pengungsi di Yamadhiyah.

Abu Fuad menambahkan, saudaranya ingin balik ke Jabal Akrod, baginya hidup dibawah hujan roket dan Birmil lebih baik daripada harus menderita di kamp Yamadhiyah. Saya terkadang membayangkan, jika mereka itu keluarga saya, anak-anak itu darah daging saya, tentu mata ini tidak akan bisa terpejam di malam hari. Semoga Allah memudahkan urusan mereka, tidak banyak yang bisa kami lakukan di sini untuk mengurangi derita mereka, kami hanya mampu menyalurkan bantuan muslimin Indonesia, kami hanya mampu menghibur mereka, dan kami hanya mampu menemani mereka. Menceritakan kesabaran para sahabat, tabiin dan memperdengarkan sedikit ayat maupun hadits yang kami hafal. Semoga Allah memaafkan keterbatasan ini.* (Abu Hafidz/HASI ke-6).

*Jabal Akrod, Suriah, Rabu 27 Maret 2013.