Kisah Taubat Tukang Sihir Fir’aun

Fir'aun
Fir’aun

An-Najah.net – Fir’aun berkata, “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian ini); demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kalian semuanya.” Ahli-ahli sihir itu menjawab, “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al A’raf: 123 – 126)

Kisah menakjubkan para tukang sihir Fir’aun menjadi inspirasi para pejuang dalam memandang kehidupan. Bahwa keimanan yang merasuk ke dalam hati membuahkan kesabaran luar biasa. Mereka telah merasakan manis dan lezatnya iman. Hingga nyawa pun mereka berikan sebagai taruhannya. Padahal ikrar keimanan itu baru saja mereka ucapkan. Beberapa saat setelah melihat mu’jizat agung yang Allah berikan pada Nabi Musa ‘alaihis salaam.

Tafsir

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir beliau mengatakan; Allah Ta’ala mengisahkan kekalahan tukang sihir Fir’aun dan ancaman Fir’aun terhadap mereka. Juga tentang reaksi Fir’aun untuk meredam dampak keimanan mereka. Yakni bersiasat dan membuat muslihat dengan memutarbalikkan kenyataan. Seperti dalam ayat yang artinya:

“Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya.”

Dengan kata lain, sesungguhnya kemenangan Musa atas kalian hanyalah sandiwara saja. Karena kalian mengalah dan merelakannya begitu saja.

Nabi Musa dan semua orang yang mempunyai akal sehat sadar bahwa statemen Fir’aun adalah batil. Nabi Musa begitu setibanya di tanah Mesir langsung menyeru Fir’aun untuk menyembah Allah. Musa menunjukkan beberapa mukjizat yang jelas dan hujah-hujah yang mematahkan untuk membuktikan kebenaran seruannya.

Namun, bukannya beriman, Fir’aun justru menantang mukjizat Musa. Dipanggilnya semua ahli sihir di berbagai kota yang berada di bawah kekuasannya.

Mereka adalah ahli sihir pilihan. Hasil seleksi para pemimpin dari kaum Fir’aun. Mereka semua diundang ke istana. Fir’aun menjanjikan harta berlimpah jika berhasil mengalahkan Musa di hadapan khalayak. Karena itulah para ahli sihir termotivasi memenangkan pertandingan tersebut.

Nabi Musa tidak mengenal mereka sama sekali. Walau seorang pun. Musa tidak pernah pula melihat apalagi bertemu dengan mereka. Fir’aun menyadari hal tersebut. Termasuk efeknya bagi rakyat Mesir yang menyaksikan hal itu secara live. Kekalahan itu akan mendelegitimasi opini yang dibangun rezim Firaun yang selama ini melanggengkan ajaran Syirik di tanah Mesir.

Karenanya, Fir’aun segera membuat isu untuk menutupi kekalahan untuk mengamankan loyalitas kaumnya yang awam. Sekaligus menunjukkan ancaman dengan menghukum mati lawan-lawannya.

Ancaman itu ditunjukkan jelas dalam ayat yang artinya;

demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik. kemudian sungguh aku akan menyalib kalian semuanya.

Yakni kaki kanan dipotong bersama tangan kiri, atau sebaliknya.  Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan mereka disalib di pangkal pohon kurma.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang yang mula-mula memberlakukan hukuman salib dan memotong kaki dan tangan secara bersilang adalah Raja Fir’aun.

Ucapan para ahli sihir yang disitir oleh firman-Nya:

إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ

“Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.” Artinya, kami telah yakin bahwa sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali, azab-Nya lebih keras daripada siksaanmu dan pembalasan­Nya lebih hebat daripada apa yang engkau ancamkan kepada kami hari ini. Dan ilmu sihir yang engkau paksakan kami melakukannya lebih besar dosanya ketimbang pembalasanmu. Maka sungguh kami akan bersabar hari ini dalam menghadapi siksaanmu, agar kami terbebaskan dari azab Allah. Karena itulah mereka mengatakan seperti yang disebutkan dalam Firman-Nya:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami.” Yakni curahkanlah kepada kami kesabaran dalam membela agama-Mu, dan teguhkanlah hati kami padanya.

وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” Maksudnya dalam keadaan mengikuti Nabi-Mu, yaitu Musa ‘alaihis salam. Dan mereka mengatakan kepada Fir’aun, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami. agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) (QS. Thaha: 72-75)

Imam Mujahid berkata, “Pada pagi harinya mereka masih sebagai ahli sihir, tetapi pada akhirnya di petang hari mereka adalah para syuhada yang berbakti.” (Tarsir At-Tabari)

Sayyid Qutub dalam Tafsir fii dzilalil Qur’an berkata, “Tindakan Musa menghadapi Fir’aun dan pendamping-pendampingnya menyingkapkan hakikat peperangan agama Allah dengan seluruh sistem jahiliyah. Juga menjelaskan bagaimana taghut memandang agama Allah ini, dan bagaimana perasaannya terhadap keberadaan agama Allah ini. Sebagaimana hal itu juga menjelaskan bagaimana orang-orang mukmin memahami hakikat peperangan antara mereka dan thaghut.

Perjuangan menegakkan Dien ini sangat berat, tetapi itulah indahnya. Teror akan terus dirasakan oleh para aktifis. Entah itu dengan pengusiran dari kampung halaman, atau penangkapan dan bahkan juga ancaman untuk dibunuh. Tetapi yakinlah bahwa apa yang dapat dilakukan musuh hanyalah siksaan di dunia. Sedangkan di akhirat Allah Ta’ala pasti akan mengganti dengan pahala yang besar, yaitu jannah.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 150 Rubrik Tafsir

Editor : Anwar