Koalisi Dengan Amerika, Loyalitas Terhadap Kekafiran (2/2)

Koalisi AS di Suriah

An-Najah.net,– Pada makalah pertama telah dipaparkan penjelasan bahwa perang pasukan koalisi ini hakekatnya adalah perang salib, dan orang-orang yang terlibat dalam koalisi ini telah membatalkan keislamannya.

Ada empat sebab yang menjadikan orang yang terlibat dalam pasukan koalisi keluar dari Islam. Pada tema pertama telah dijelaskan sebab pertama, dan pada tema kedua ini kita memaparkan tiga sebab berikutnya, yaitu;

  1. Muwalatul Kuffar

Kekafiran kedua yang dilakukan oleh orang atau negara yang membantu orang kafir dalam memerangi umat Islam adalah muwalah kuffar, yaitu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir.

Para ulama membagi muwalah kafirin dalam dua kategori: muwalah kubro, dan muwalah shugro. Diantara ulama yang membagi ini adalah Syaikh al-Muhaddits Abdullah Sa’ad (Syarh Nawaqidh Islam, hlm. 86), dan Syaikh Prof. DR. Abdullah al-Jibril dalam kitabnya Tashilil al-Aqidah al-Islamiyah.

Pertama: Muwalah kubro (besar), adalah loyalitas yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Syaikh Abdullah al-Jibrin menyebut ini dengan muwalah kufriyyah, (at-Tashil, hlm. 560). Ada tujuh  ragam muwalah ini, diantaranya:

  1. Membantu orang kafir memusuhi umat Islam, walau ia tidak ridho, dan tidak mencintai orang kafir tersebut, juga tidak membenci Islam ataupun muslimin. Para ulama menyebut ini sebagai bentuk tawalli, seperti yang telah dijelaskan di atas. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,” (Qs. An-Nisa’: 97).

Ayat ini menjelaskan dengan gamblang bahwa orang-orang yang memperbanyak pasukan kafirin Makkah dalam memerangi umat Islam Madinah, saat itu, mereka adalah kafir, kekal di neraka. Jika kondisi mereka yang lemah di Makkah saja dihukumi kafir, tentunya mereka yang suka rela membantu orang-orang kafir dalam merangi umat Islam, lebih layak murtad, (Syaikh Sa’ad, Syarh Nawaqidh, hlm. 43 & ath-Thobari, 9/110 )

  1. Tinggal di negeri kafir dengan suka rela, dan atas dasar senang bersahabat, bergaul dengan mereka, disertai dengan rasa ridho atas agama yang mereka anut, serta membocorkan rahasia dan aib umat Islam kepada mereka, (Syaikh al-Ahdal, Assaif al-Battar, hlm. 7 & Syaikh al-Jibrin, at-Tashil, 560)
  2. Membantu mereka dalam menyebarkan aib umat Islam disertai rasa cinta, terhadap agama mereka, dan senang atas kejayaan mereka.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka.” (Qs. Al-Mujadilah: 22)

Kedua: Muwalah Shugro. Yaitu loyalitas yang diharamkan, tetapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam. Hanya saja, menurut Syaikh Abdullah Sa’ad, sekecil apapun dosa muwalah terhadap orang kafir, tetap saja masuk dalam kategori dosa besar yang dilaknat oleh Allah, (Syarh Nawaqidh, ).

Syaikh DR. Abdullah al-Jibrin RHM mengistilahkan dengan Muwalah Muharramah. Banyak contoh yang disebut oleh Syaikh dalam bukunya at-Tashil, diantaranya, tinggal di negeri orang-orang kafir, tanpa ada rasa cinta kepada agama dan tradisi. Juga bukan karena terpaksa, tetapi karena suka rela. Walau kondisinya di Negara kafir tersebut bisa menampakkan syi’ar-syi’ar Islam, ia tetap tidak diperbolehkan untuk tinggal di situ.

Jarir bin Abdillah RA berkata, “Dulu, saya membaiat Rasulullah SAW untuk menasehati sesama muslim, dan agar berpisah dengan orang-orang musyrik.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Oleh karena itu, para ulama menegaskan, bahwa hijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam adalah wajib, dan lebih diwajibkan lagi bila muslim di daerah tersebut kesulitan menampakkan syiar keislamannya di negeri tersebut. Misalnya kesulitan adzan, shalat berjamaah dan jum’at, (al-Inshof, 10/35).

  1. Menghalalkan Yang Dih aramkan Oleh Allah

Pembatal keimanan ketiga yang dilakukan oleh orang-orang yang membantu Amerikan dalam memerangi  umat Islam adalah menghalalkan kehormatan dan darah umat Islam. Dengan berbagai macam dalih, seperti memerangi khowarij dan teroris, mereka menghalalkan darah dan kehormatan umat Islam yang dilindungi oleh syariat.

Rasulullah SAW bersabda

لا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ يَشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إلا اللهُ، وَأَنِّي رسولُ اللهِ إلا بإحْدَى ثَلاَثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالثَّيِّبُ الزَّاني، وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ؛ التَّارِكُ الجَمَاعَة

“Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersyahadat laailaha illallah dan aku ada Rasulullah –utusan Allah-, kecuali karena salah satu dari tiga perkara; (1) Qishosh pembunuhan, (2) hukuman bagi orang yang menikah berzina, (3) Yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari al-Jama’ah –murtad-.” (HR. Bukhari)

Allah SWT berfirman:

Artinya, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. At-Taubah: 31)

Berkenaan dengan ayat ini, imam at-Tirmidzi dan Ahmad meriwayatkan hadits dari sahabat Adi bin Hatim RA, beliau berkata, “Ya Rasulullah, mereka tidak beribadah kepada rahib (pendeta) dan ruhban (ahli ibadah).”

Maka Rasulullah SAW menjawab, “Iya, maksudnya, mereka para rahib dan ruhban menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Lalu orang-orang Yahudi dan Nasrani mengikuti mereka dalam penghalalan dan pengharaman ini, nah inilah bentuk ibadah kepada mereka.”

Imam Ibn Hazm RHM menjelaskan ayat ini, “Ketika Yahudi dan Nasrani mengharamkan apa yang diharamkan oleh rahib maupun ruhbannya atau menghalalkan yang dihalalkan oleh rahibnya (padahal bertentangan dengan Islam), maka ini adalah bentuk penyembahan yang sangat sempurna –kepada ulama-ulamanya-. Dan pada keadaan seperti ini, Allah SWT menamai ulamanya sebagai tuhan tandingan Allah, dan perbuatan yahudi-nasrani sebagai ibadah kepada ulama-ulamanya. Ini adalah kesyirikan, tidak ada perbedaan pendapat tentang kesyirikan ini.” (al-Fashl, 3/266)

Imam Abu Ya’la RHM menukil ijma’ kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. “Siapa yang meyakini kehalalan apa yang diharamkan oleh Allah SWT lewat nash dari Allah yang jelas, atau lewat nash dari Rasulullah SAW, atau keharamannya telah disepakati oleh ulama Islam, maka dia telah kafir. Seperti orang yang menghalalkan minum khamer, melarang shalat, puasa, maupun zakat. ” Jelas imam Abu Ya’la

Beliau melanjutkan, “Demikian juga orang yang meyakini keharaman sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah SWT lewat nash dari Allah yang jelas, atau lewat nash dari Rasulullah SAW, atau kehalalannya telah disepakati oleh ulama Islam, dan orang yang bersangkutan mengerti kehalalan ini, maka ia telah kafir. Seperti mengharamkan pernikahan, dan jual-beli yang dibolehkan oleh Allah SWT.”

Imam Abu Ya’la RHM menjelaskan sebab kekafiran dua perbuatan di atas, “Hal ini dianggap kafir, sebab kedua perbuatan tersebut adalah salah bentuk pendustaan terhadap Allah SWT, Rasulullah SAW, dan ijma’ muslimin. Barangsiapa yang melakukan ini maka ia kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (al-Mu’tamad fi Ushul ad-Din, hal. 271-272)

Menghalalkan dan mengharamkan tidak harus dengan ucapan, seperti, “Saya menghalalkan ini.”  Sebagaimana diklaim oleh sebagian salafi jamiyah, diantara da’i salafi jamiyah yang menebarkan syubhat ini adalah DR. Al-Anbariy yang dihukumi murji’ah oleh Lajnah ad-Daimah Saudi.

Tetapi melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, seperti memerangi umat Islam, terkadang bisa bermakna menghalalkan, bahkan dalam keadaan tertentu perbuatan lebih terbukti menghalalkan dari sekedar dengan lisan. Kata ahli hikmah, “Lisanul mahal afsoh min lisanil maqol”, -Perbuatan lebih fasih (mengena) daripada perkataan-.

Syaikh  DR. Abdul Aziz al-Lathif, menjelaskan permasalah ini saat memberikan catatan atas syubhat Kholid al-Anbari. Salah satu dalil yang menjadi bukti ini bahwa perbuatan terkadang lebih membuktikan penghalalan daripada perkataan.

Sahabat Barro’ bin Azib RA meriwayatkan, “Suatu ketika pamanku Haris bin Amru lewat di hadapanku. Beliau membawa bendera (perang) yang dianugerahkan oleh Rasulullah SAW. Maka, aku bertanya kemana gerangan. Beliau menjawab, “Saya diutus oleh Rasulullah Saw untuk memenggal leher seorang laki-laki yang menikahi ibu tirinya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, An-Nasa’y dan Ibn Majah –dishahihkan al-Albani-).

Ibnu Jarir ath-Thobari menjelaskan, hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut dipenggal karena murtad, sebab murtadnya adalah karena ia menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT, yaitu menikahi ibu tiri (mantan istri bapak kandung). Dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT tidak harus dengan kata-kata, tetapi bisa dengan perbuatan. Seperti laki-laki yang menikahi ibu tirinya di atas, (tahdzib al-Atsar, 2/148).

Memang tidak setiap membunuh muslim bermakna  menghalalkan darahnya. Tetapi, dalam kasus pasukan koalisi Amerika yang menyerang umat Islam ini, tidak ada tafsiran lain kecuali menghalalkan darah umat Islam dan terkhusus mujahidin Suriah.

  1. Mentaati Orang Kafir

Poin lain yang menyebabkan orang terlibat dalam pasukan koalisi dianggap murtad dan munafik adalah ketaatan mereka kepada orang-orang kafir dalam menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT atau dalam membenci syari’at Allah SWT. Seperti syariat jihad, hukum had dan proyek penegakkan daulah Islamiyah.

Allah SWT berfirman

Artinya, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Qs. Al-An’am: 121)

Ayat ini turun berkenaan orang-orang musyrik Quraisy mengejek para sahabat yang diharamkan memakan bangkai, padahal dalam logika musyrikin, bangkai dibunuh dan disembelih oleh Allah. Mereka berkata kepada sahabat-sahabat Rasulullah SAW, “Kalian ini bagaimana, hewan yang kalian sembelih (dibunuh) dengan tangan kalian, halal dimakan. Sedangkan hewan yang disembelih (dibunuh) oleh Allah SWT (maksudnya bangkai) kalian haramkan?” (lihat, ath-Thobari, 12/78)

Maka Allah menurunkan ayat ini, dimana Allah mengharamkan memakan bangkai dan setiap sembelihan yang tidak disebut nama Allah, seperti sembelihan musyrik Quraisy. Lewat ayat ini juga, Allah menegaskan bahwa mentaati orang-orang kafir dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT atau mengharamkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT adalah perbuatan syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, (Tafsir al-Baghowi, 2/156 & Ad-Durar Assinniyah, 8/211)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka.” (Qs. Muhammad, 25-26)

Syaikh al-Allamah as-Sinqithi RHM, pakar tafsir dan ushul fikih, berkata, “Ayat yang suci ini menjelaskan bahwa setiap orang yang mentaati orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah swt –dengan suka rela- dalam rangka membantu dan memperlancarnya untuk melampiaskan kebenciannya yang batil itu, maka orang ini telah kafir kepada Allah SWT.” (Adhwa’ul Bayan, 7/51)

Jika ia mentaati orang-orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah SWT bukan dalam rangka membantunya untuk melampiaskan kebencian tersebut, maka ini ketaatan yang berbuah kenifakan,  (Tafsir al-Baghawi, 7/288)* — (Mas’ud Izzul Mujahid)–

===============================================================================

— Kumpulan Fatawa Ulama Kontemporer–

Syaikh Hamud bin Uqola’ Asy-Syu’aibiy RHM: Berfatwa saat Amerika menyerang Thaliban: Siapa saja yang membantu Negara-negara kafir untuk memusuhi umat Islam, seperti membantu Negara Amerika dan sekutunya, maka orang ini telah kafir, murtad dari Islam. Apapun bentuk bantuan yang ia berikan.

Syaikh DR. al-Barrok: Saat Amerika menyerang pemerintahan Thaliban. Syaikh Abdurrahman al-Barrok berfatwa bahwa siapa saja yang membantu Amerika menyerang pemerintahan Thaliban saat itu telah murtad dan keluar dari Islam.

Syaikh DR. Abu Abdurrahman As-Syami; Ulama Syam yang bergabung dengan Jabhah Nushroh ini menulis buku ”al-Ajwibah As-Syamiyah fi Nawazil al-Hamlah ash-Solibiyyah‘, untuk menjelaskan hakekat perang salib ini. Intinya, pasukan koalisi ini adalah pasukan salib yang hendak mengakhiri riwayat jihad dan proyek penegakkan syari’ah Islam.

Syaikh DR. Abdul Hayyi Yusuf (Ulama Sudan): Dalam sebuah khutbah jum’atnya yang diunggah oleh chanel Thayiibah, beliau menfatwakan bahwa orang atau Negara yang terlibat dalam pasukan koalisi menyerang mujahidin Suriah, ia telah keluar dari Islam.

Syaikh Abu Bashier ath-Thortusi: Dalam situs pribadinya, Syaikh jihadi ini menjelaksan bahwa hakekat dari peperangan yang dilancarkan oleh pasukan koalisi ini adalah perang salib. Maka haram bagi siapapun terlibat di dalamnya, umat Islam wajib menolak dan melawan koalisi salib ini.

Syaikh Abu ‘Ashim al-Maqdese: Ulama sekaligus mentor jihad dari Yordania ini, menfatwakan bahwa setiap orang yang terlibat dalam pasukan koalisi ini, maka ia telah murtad dari Islam.

Para ulama besar Yordania telah mengeluarkan fatwa atas haramnya bergabung dalam koalisi Amerika ini dan bahwa perang ini pada hakekatnya perang Salib. Fatwa dari 24 ulama yang mewakili beberapa lembaga Islam ini, juga menegaskan bahwa wajib bagi umat Islam, terutama di Suriah untuk melawan pasukan koalisi ini. Sebab ini termasuk jihad defensive (difa’iy).

Diantara ulama yang menandatangani fatwa ini adalah: Syaikh DR. Solah al-Kholidiy (pakar tafsir dan ilmu alQur’an), Syaikh Prof. DR. Marwan al-Qisa (pakar akidah), Syaikh DR. Jamal Basya  (pakar politik Islam), Syaik Usamah Abu Bakar (anggota Ikatan Ulama Ahlu Sunnah), Syaikh DR. Iyyadh al-Qunaibiy (Da’i dan pemerhati dunia Islam), Syaikh DR. Muhammad al-Jurani (pakar tafsir dan ilmu alQur’an), Syaikh DR. Mahmud (pakar fikih dan ushul fikih), Syaikh DR. Makmun al-Kholil (pakar hadits).* (Mas’ud Izzul Mujahid)