Komnas HAM: Terorisme Proyek Global Hancurkan Islam

Anggota Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas dalam diskusi soal Revisi UU Anti Terorisme di Gedung MUI Pusat, Jl Proklmasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/05/2016).
Anggota Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas dalam diskusi soal Revisi UU Anti Terorisme di Gedung MUI Pusat, Jl Proklmasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/05/2016).
Anggota Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas dalam diskusi soal Revisi UU Anti Terorisme di Gedung MUI Pusat, Jl Proklmasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/05/2016).

Jakarta (An-najah.net) – Terorisme merupakan proyek global . Proyek ini untuk menghancurkan Islam, ini konspirasi jahat.

Komisioner Komnas HAM Prof Dr Hafidz Abbas menyebutkan, kasus Bom Thamrin 14 Januari lalu menjadi momentum banyak pihak untuk merevisi UU No 15 Tahun 2003 tentang terorisme. Namun keadaan kemudian berubah ketika ada penyimpangan dalam penanganan kasus Siyono.

“Kasus (kematian Siyono di tangan Densus 88, red) ini merendahkan martabat kemanusiaan dan bertentangan dengan HAM,” ungkap Hafidz Abbas dalam diskusi “Mengawal Revisi UU Anti Terorisme” di Gedung MUI Pusat, Jl Proklmasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/05/2016). Dikutib dari suara-islam.com.

Terkait perang terhadap terorisme, mantan Dirjen HAM Departemen Hukum dan HAM itu menyebutkan, sejatinya perang terhadap terorisme adalah konspirasi dan proyek global. Dia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah dokumen Pelapor PBB untuk masalah terorisme. “Terorisme itu proyek global,” ungkapnya.

Bukti lain bahwa terorisme adalah proyek global, lanjut Abbas, adalah pernyataan dua pemimpin dunia, Presiden AS Barack Obama dan mantan Perdana Menteri Inggris Tonny Blair dalam waktu yang nyaris bersamaan, hanya rentang seminggu saja.

Pengakuan pertama, kata Guru Besar Tetap pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta itu, adalah pengakuan yang sangat tulus dari Obama yang mengaku, AS menyesal telah menghancurkan Libya dengan alasan terorisme.

“Pengakuan yang genuine disampaikan Tonny Blair, mengapa kita menghancuran Irak dengan alasan terorisme. Dua pernyataan ini dalam rentang waktu seminggu,” ungkap Abbas.

Sembari menunjukkan data-data dia yang valid, Abbas juga menunjukkan bahwa perang terhadap terorisme yang dilakukan Barat di Timur Tengah akhirnya turut menyeret Indonesia. Hal ini karena upaya memerangi terorisme di 23 negara Timteng tidak ada apa-apanya, karena total penduduknya masih kalah dengan Indonesia.

“Proyek ini untuk menghancurkan Islam, ini konspirasi jahat,” ungkap mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) HAM di Departemen Hukum dan HAM ini juga mengungka

Terkait pemberantasan terorisme di Indonesia, Abbas berpendapat Detasemen Khusus 88/AT harus diaudit oleh lembaga independen. Sehingga kasus seperti kematian Siyono tidak terjadi lagi.

“Densus tidak bisa jadi lembaga pencabut nyawa, dia tidak boleh jadi superbody,” tegasnya. (Anwar/annajah)