Kongres MMI ke IV Usung Tema Seabad Perjuangan Indonesia Bersyariah

Kongres Mujahidin IV digelar di Masjid Adz-Dzikra, Sentul, Bogor 23-235 Agustus2013
Kongres Mujahidin IV digelar di Masjid Adz-Dzikra, Sentul Bogor, 23-25 Agustus 2013

BOGOR (an-najah) – Kongres Majelis Mujadihin Indonesia (MMI) ke IV telah digelar sejak Jum’at, (23/08), di Masjid Adz Dzikra, Sentul Bogor. Acara yang dihadiri tak kurang dari 1.500 peserta dan peninjau ini sedianya berlangsung selama 3 hari, yang akan ditutup pada Ahad, (25/08).

Agenda kegiatan dimulai dari pidato iftitah yang disampaikan oleh Amir MMI, Ust M. Thalib kemudian dilanjutkan dengan Abu Jibril, KH. Abdul Rasyid Syafi’i, dan KH. Cholil Ridwan dan KH M. Khattath. Usai pidato iftitah, acara akan dilanjutkan dengan diskusi panel dengan topik “Refleksi syari’ah seabad perjuangan Indonesai bersyariah” yang akan berlangsung pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Tampil sebagai pemateri adalah Sejarawan Muslim, Prof. DR. Ahmad Mansur Suryanegara, DR. Hamid Fahmi Zarkasi (MIUMI) yang dipandu oleh moderator yang juga pengamat teroris Al-Chaidar.

Rencananya, pada hari ini, Sabtu 24 Agustus, diskusi panel dilanjutkan dengan tema “Rekonsiliasi pontensi bangsa membangun Indonesia bersyariah dan antisipasi aliran/paham sesat”. Nara sumber diantaranya Prof. DR. Din Syamsudin, DR. MS. Ka’ban, Abu Muhammad Jibril, dan KH.Hasyim Muzadi.

Setelah istirahat diskusi dilanjutkan dengan tema “Reorientasi pemahaman Al-Qur’an dari terjamahan harfiyah ke terjemahan tafsiriyah.

Kongres juga akan menggelar seminar An-Nisa dengan tema “Menimbang kesetaraan gender dari masa-ke masa. Sedang pada Ahad 25 Agustus agenda kongres adalah temu nasional dengan topik “Rakyat Indonesia cinta syariah mengenang jasa juang ormas untuk syariat Islam dan kemerdekaan”

Selain agenda ilmiah berupa seminar dan diskusi, panitia juga mengadakan bazaar untuk memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbelanja pernak pernik kongres seperti jaket, kaus, buku-buku islam, herbal dan lain-lain.

Sekretaris Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Ustadz Shabbarin Syakur, menampik jika Kongres Mujahidin telah memasuki wilayah demokrasi. Ustadz Shabbarin menuturkan, ketika ada persoalan atau aktifitas yang diklaim sebagai ‘milik demokrasi’ padahal hal tersebut terdapat dalam syari’ah Islam, bukan berarti menegakkan Islam dengan mengikuti demokrasi.

Ustadz Shabbarin yang dilahirkan di Solo 4 Okt 1959 ini telah aktif di Majelis Mujahidin selama 13 tahun. Sebelumnya Ustadz Shabbarin aktif di Badan Koordinasi Pemuda Masjid (BKPMI) dan anggota HMI Fak MIPA Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Menurutnya, harus difahami bahwa demokrasi sebagai ideologi dan keyakinan suara terbanyak adalah suara tuhan, niscaya kebenarannya itu adalah ideologi bathil, dan haram diikuti.

Namun ketika ada persoalan atau aktifitas yang diklaim sebagai ‘milik demokrasi’ padahal hal tersebut terdapat dalam syari’ah Islam seperti musyawarah, pengaturan-pengaturan kemaslahatan umat yang bersifat jibillah (perbuatan yang boleh dilakukan/boleh ditinggalkan) bukan berarti menegakkan Islam dengan mengikuti demokrasi.

Tegaknya Syariat menjamin kerukunan beragama

Dalam pembukaannya, Amir MMI menekankan pentingnya penegakan Syariat Islam di Indonesia. Beliau menampik tegaknya Syariat adalah bentuk intoleransi. Sebab tegaknya Syariat justru akan menjamin kerukunan beragama di Indonesia.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Ridwan, memberikan apresiasi kepada MMI yang mau menggelar Kongres di Masjid, bukan di hotel. Sebab banyak ormas Islam lebih memilih Hotel dalam melaksanakan agenda kegiatannya. “Padahal Hotel identik dengan tempat maksiat,” ujar beliau seperti dilansir dari Islampos.

Terkait jihad, Kyai Cholil menghimbau agar umat Islam menghapus dikotomi sipil militer. Karena ketika berjihad, Rasulullah menjadi panglima perang, dan umat Islam menjadi tentara. “Maka konsep dikotomi sipil-militer adalah konsep kafir yang harus dijauhi umat Islam,” terangnya. [fajar/an-najah]