Ilustrasi, iman kepada Rasul

Tashdiq, Konsekuensi Iman Kepada Rasul

An-Najah.net – Iman kepada Rasul itu bukan sekedar percaya semata. Akan tetapi memiliki konsekuensi kalau mereka benar-benar mengimaninya. Diantara konsekuensi iman kepada rasul adalah membenarkannya dan mengikutinya. Hal inilah yang dilakukan oleh para salafush shalih.

Tahu mana yang benar belum tentu mau mengikuti. Sadar bahwa Rasul terakhir telah diutus, bukan jaminan akan beriman. Inilah yang terjadi pada Heraclius, pemimpin Romawi yang menguasai Baitul Makdis dan wilayah pesisir Mediterania. Sudah tidak ada sekat lagi antara dirinya dengan keimanan. Namun kecintaan terhadap dunia membuatnya lebih memilih jalan kekufuran.

Kisah Heraclius

Menurut catatan sejarah, Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada Heraclius pada akhir tahun 6 H. Beberapa bulan setelah Perdamaian Hudaibiyah. Dibawa sahabat anshar bernama Dihyah Al-Kalbi.

Kebetulan saat itu Abu Sufyan sedang berdagang ke wilayah Syam. Heraclius lantas mengundang sanak kerabat Rasulullah SAW tersebut ke istananya di Baitul Makdis.

Baca Juga : Kenapa Kita Belum Menang?

Lewat bantuan sang penerjemah, Heraclius menanyakan beberapa hal tentang Nabi Muhammad SAW.

“Dari keluarga seperti lelaki itu berasal?” tanya Heraclius.

“Dia adalah keturunan keluarga bangsawan (terhormat),” jawab Abu Sufyan.

“Apakah dulu ada orang yang mengajarkan seruan yang ia sampaikan?”

“Tidak ada”.

“Apakah bapaknya seorang raja?” Abu Sufyan menjawab, “tidak”.

“Siapa para pengikutnya; kaum bangsawan atau orang-orang lemah?”

“Para pengikutnya hanyalah kaum lemah dan rendah”, jawab Abu Sufyan.

Heraclius melanjutkan, “Mereka semakin bertambah atau berkurang?”

“Terus bertambah”.

“Apakah ada pengikutnya yang murtad karena kecewa?”

“Tidak ada”.

“Pernahkan dia berdusta? Apakah pernah melakukan kecurangan?” tanya Heraclius.

“Tidak pernah.”

“Apakah kalian memeranginya?”

“Ya. Kami berperang beberapa kali. Kadang kami kalah, kadang kami mengalahkannya”, jawab Abu Sufyan.

“Seperti apa ajaran yang ia bawa?”

Abu Sufyan menjawab, “Dia menyuruh kami untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan meninggalkan ajaran nenek moyang. Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim”.

Heraclius berhenti bertanya. Keingintahuannya  dijawab tuntas oleh Abu Sufyan. KemudianHeraclius menjelaskan maksud di balik pertanyaan-pertanyaannya.

“Kamu katakan bahwa dia berasal dari keturunan bangsawan, seperti itulah para nabi dahulu. Mereka lahir dari trah paling terhormat di kaumnya.

Engkau katakan bahwa ajarannya adalah hal yang baru. Belum pernah diajarkan orang lain sebelumnya. Andai tidak seperti itu, orang-orang akan menyebutnya hanya meniru ucapan orang lain.

Engkau katakan bahwa tidak ada nenek moyangnya yang menjadi raja. Andai tidak seperti itu, orang-orang akan  mengatakan bahwa ia berusaha merebut kembali tahta.

Engkau katakan bahwa dia tidak pernah berdusta. Sungguh mulia orang ini, kepada manusia saja tidak berani berbohong apalagi kepada tuhannya.

Kemudian engkau ceritakan bahwa para pengikutnya berasal dari kalangan orang-orang rendah. Memang dari golongan itulah para pengikut rasul berasal.

Engkau katakan bahwa pengikutnya semakin bertambah. Ketahuilah, seperti itulah iman. Semakin lama semakin menancap kuat.

Kemudian engau katakan tidak ada pengikutnya yang murtad karena kecewa. Ketahuilah itu karena mereka beriman dengan hati yang tulus. Bukan untuk kepentingan lain.

Engkau katakan bahwa dia tidak pernah curang. Memang seperti itulah sifat dasar para rasul. Tidak pernah curang.

Lalu engkau jelaskan bahwa ia mengajak untuk mengesakan Allah, menjauhi syirik, meninggalkan berhala, mendirikan shalat, zakat, jujur, memaafkan dan menyambung tali silaturrahmi.

Ingatlah, andai semua jawabanmu tadi benar, kerajaannya akan sampai ke negeri tempat aku berdiri ini. Aku tahu bahwa Rasul terakhir ini sudah diutus. Tapi aku tidak menyangka dia berasal dari golongan kalian. Seandainya aku tahu jalan untuk menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya. Kemudian aku akan basuh kedua kakinya.”

Kalimat penutup itu membuat majelis yang dihadiri para pembesar Romawi itu menjadi gaduh. Mereka memprotes ucapan Heraklius. Para saudagar Makkah pun segera dikeluarkan dari Istana. Heraklius merasa terjebak dalam dilema. Antara mengikuti hati nurani dengan beriman. Atau menuruti kepentingan dunia dan tetap menjadi raja bangsa Nasrani.

opsi terakhir itulah yang ia pilih. “Tenang, aku tadi hanya bersandiwara untuk menguji loyalitas kalian kepada ajaran Nasrani,” ucapnya menenangkan kaumnya.

Berbeda dengan Abu Suyfan, momen itu menyadarkannya bahwa Rasulullah SAW pasti akan menang. Kepastiannya hanya masalah waktu saja. Jika tidak tentu bani ashfar (orang-orang romawi) tidak akan mencemaskan hal itu. Dan ketika Fathu Makkah terjadi, Abu Sufyan membuktikan sendiri kebenaran pernyataan sang raja Romawi. Ia  pun lalu masuk Islam.

Kisah kedua tokoh dari dua bangsa yang berbeda itu memberi kita pelajaran tentang makna tauhid rasul. Atau kalimat Muhammad Rasulullah, Muhammad rasul utusan Allah.

Kalimat tauhid yang kita ucapkan setiap waktu ini bukan sedekar pernyataan bahwa Rasulullah SAW merupakan nabi kita. Maknanya lebih dalam dari sekedar pengakuan.

Kalimat tauhid rasul ini paling tidak mencakup tiga hal. Yaitu; Pertama, membenarkan apa yang Rasulullah SAW ajarkan. Kedua, menjalankan segenap perintah dan menjauhi segala larangannya. Ketiga, beribadah kepada Allah sesaui cara yang beliau ajarkan.

Baca Juga : Manhaj Salaf Solusi Problematika Umat Islam 

Tashdiq, Membenarkan Rasulullah Saw

Bagian pertama dari iman kepada Rasulullah SAW adalah membenarkannya atau at-tasdiq. Membenarkan itu berbeda dengan mengetahui atau menyadari. Membenarkan bearti mengetahui, mengakui dan menerima dengan lapang dada.

Membenarkan nabi berarti menerima beliau sebagai Rasul utusan Allah. Kemudian, siap menjadikan beliau teladan dalam segala hal. Bahkan menerima standar baik dan buruk yang beliau tetapkan.

Dalam Al-Quran Allah mencela umat Ahli Kitab yang tahu kebenaran Rasulullah SAW, namun enggan menerimanya atau mengimaninya. Mereka kesal karena beliau bukan dari golongan mereka. Namun dari bangsa Arab.

وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. Al-Baqarah: 89)

Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini mengkritik kaum Yahudi di Madinah. Pada masa jahiliyah dulu, mereka cukup disegani bangsa Arab. Mereka menyebut bangsa Yahudi sebagai umat Ahli Kitab. Kitab suci yang mereka miliki membuat mereka tahu banyak hal dibanding bangsa Arab yang rata-rata ummy (tidak bisa baca tulis) dan menyembah berhala.

Ketika terjadi konflik antara Yahudi dengan orang-orang Arab, ancaman mereka selalu sama. “Sebentar lagi nabi kami akan diutus. Masanya sudah hampir tiba. Kami akan menjadi pengikutnya, lalu kami akan membasmi kalian hingga kalian musnah seperti bangsa Ad dan Iram.”

Maka ketika sekelompok orang dari Yatsrib mendengar dakwah Rasulullah SAW di pasar Ukadz, mereka langsung teringat ancaman tersebut. Mereka saling berbisik “Benar, inilah nabi yang dikabarkan oleh orang yahudi itu. Nabi yang dijadikan ancaman oleh orang Yahudi itu. Berimanlah kepadanya dan jangan sampai orang Yahudi mendahului kalian.”

Setelah itu satu persatu penduduk Yatsrib masuk Islam. Mereka tinggalkan agama pagan penyembahan berhala. Ironisnya, kaum Yahudi yang mengenal ciri-ciri Rasulullah SAW melebihi tanda lahir anak mereka justru ingkar. Hanya karena faktor ras. Bahwa Rasulullah SAW bukan berasal dari anak cucu Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub.

Kepintaran dan kecerdasan akal bangsa Yahudi tak membuat mereka mulia. Justru menjadi sifat ingkar dan permusuhan yang membuat mereka akhirnya binasa.

Namun, bangsa Arab yang awalnya dilihat sebelah mata oleh bangsa-bangsa yang maju justru menjadi umat yang unggul. Tak hanya menguasai wilayah sepertiga dunia. Namun, menjadi umat yang berperadaban dan berpendidikan.

Baca Juga : Bagaimanapun islam Prinsip Hidupku 

Sungguh benar ucapan Umar bin Khattab. Ketika pasukannya berhasil menaklukkan Madain, ibu kota negara Persia Raya. Umar takjub dengan Ghanimah  berupa perhiasan dan permata. Ketika khalifah kedua itu menerima mahkota raja Persia. Ia sadar bahwa bangsa yang besar akan terhina ketika mengabaikan seruan Allah dan Nabinya.

Umar lalu berkata;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلَامِ فَمَهْمَا اِبْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

Umar bin Khattab, “Kita adalah bangsa yang Allah muliakan dengan Islam. Maka selama kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan hinakan kita.”

Semoga kita menjadi orang yang Allah muliakan, dengan keimanan yang utuh terhadap nabinya. Wallahu a’lam bis shawab.

Sumber : Majalah An Najah Edisi 170 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.