Konsekuensi Tauhid Dalam Berloyal

Konsekuwensi tauhid dalam berloyal
Konsekuwensi tauhid dalam berloyal

An-Najah.net – Menjadi sebuah tuntutan mereka yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illah adalah benar dalam merealisasikan wala dan bara. Keduanya bersumber dari amalan hati dan anggota badan. sehingga sangat erat kaitannya dengan keimanan saeorang. Allah Ta’ala berfirman.

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiap berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). ” (QS. Ali imran:28)

Baca juga: Musuh Allah, Musuh Muslim

Imam Ibnu Katsir menuturkan, Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai wali dan pemimpin dengan kecintaan kepada mereka dan mengabaikan orang-orang yang beriman.

Selanjutnya Allah mengancam perbuatan itu seraya berfirman, wa may yaf’al dzaalika falaisa minallahi Fi syai-in (“Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dari pertolongan Allah.”) Artinya, barangsiapa melanggar larangan Allah tersebut, maka ia benar-benar terlepas dari Allah. (Ibnu Katsir, Al-Quranul Adzim, cet 2, jilid 2, hal. 30)

Rasulullah Saw bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحَبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ

Sekuat-kuat ikatan iman adalah berwali karena Allah, dan bermusuhan karena Allah, cinta karena Allah, benci karena Allah. (Imam al-Baihaqi, Syu’bul Iman, cet 1, no. 9068)

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya merealisasikan syahadat Laa Ilaaha IIIAIlah menuntut agar tidak mencintai kecuali karena Allah, tidak membenci kecuali karena Allah. Mencintai apa-apa yang Allah cintai dan memusuhi apa-apa yang Allah musuhi.” Maka memberikan kecintaan pada orang mukmin siapa pun, dan memusuhi orang kafir walau ia termasuk dari kerabat sendiri.

Baca juga: Permusuhan Abadi Antara Muslim dan Kafir

Perlu dicatat, bahwa permasalahan ini walaupun termasuk pokok persoalan aqidah yang mesti diketahui seorang muslim, tapi para ulama dahulu tidak banyak membahas dalam buku-buku mereka. Tentunya karena ada beberapa alasan,

Pertama, permasalahan ini merupakan sesuatu yang teramat jelas dan gamblang di mata mereka, sehingga tidak membutuhkan pembahasan yang lebih detail. Dengan jihad, jurang pembatas itu menjadi teramat jelas. Nabi Muhammad Saw bersabda,

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Aku telah tinggalkan kalian dalam terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak akan berpaling darinya setelahku kecuali akan celaka.” (HR. Ahmad: 17142)

Kedua, bahwa generasi awal masyarakat muslim tidak banyak persoalan dalam pokok aqidah ini, terutama di zaman khalifah rasyidah. Akan tetapi permasalahan yang muncul adalah penyelewengan dalam meyakini asma dan sifat Allah Ta’ala.

Ya Allah, berilah taufik pada kami sehingga mudah melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat serta berilah hidayah pada kami untuk giat bertaubat. Semoga Kau bimbing kami tetap dijalan-Mu, serta mendapatkan ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat, amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam []

Sumber : Majalah An-Najah edisi 9

Editor    : Ibnu Jihad