Konsultasi Syari’ah, Mendidik Anak Dengan Pendekatan STIF

Mendidik Anak Dengan Pendekatan STIF

An-najah.net – Asal-usul teori STIF adalah dari mimpi, bisikan ‘roh pemandu’, astrologi (ramalan bintang), ajaran pagan, gnotisisme, dan filsafat kuno sebagaimana pernyataan jung di atas. Realita ini sudah cukup bagi kita untuk membuat kita berlepas diri teori STIF.

Pertanyaan: Ustadz, beberapa waktu yang lalu, saya ditawari untuk mengikuti seminar pelatihan pengajaran dan pendidikan untuk anak yang—konon—disesuaikan dengan mesin kecerdasan yang dimilikinya. Bahwa manusia itu memiliki mesin kecerdasan yang berbeda. Ada yang sensing (fungsi pengindraan), thinking (fungsi berpikir), feeling (fungsi merasa), dan intuition (fungsi intuisi) STIF. Katanya, jika metode ini ditempuh, kesuksesan di depan mata. Saya maju mundur untuk mengikutinya karena ada kawan yang bilang bahwa pelatihan itu mengandung kemusyrikan. Benarkah demikian? [Abu Ahmad—Solo]

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Metode mengajar dan mendidik anak dengan cara tertentu, selama tidak bertentangan dengan aqidah dan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, sah dan boleh. Sekalipun metode itu merupakan ide orang kafir.

Tentang pembagian mesin kecerdasan manusia menjadi STIF (Sensing -fungsi pengindraan-, Thinking -fungsi berpikir-, Intuition –fungsi intuisi- Feeling –fungsi merasa-). Perlu dilihat siapa yang mengidekannya dan melihat lebih dalam lagi, apa substansi dan dari mana ia membangun teorinya. Serta, dampak-dampak yang mungkin ditimbulkannya. Orang yang mengidekannya adalah Carl Gustav Jung.

Sekilas tentang Jung

Carl Gustav Jung adalah psikiater berkebangsaan Swiss yang lahir di Kesswil 26 Juli 1875. Dia dikenal sebagai perintis psikologi analitik. Pendekatan Jung terhadap psikologi ditekankan pada pemahaman ‘psyche’ melalui eksplorasi dunia mimpi, seni, mitologi, agama serta filsafat. Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencakup perasaan dan tingkah laku, baik sadar maupun tidak sadar.

Meskipun ia adalah seorang psikolog teoretis dan praktis dalam sebagian besar masa hidupnya, kebanyakan karyanya mengeksplorasi bidang lain, seperti filsafat Timur vs Barat, alkimia, astrologi, sosiologi, juga sastra dan seni.

Jung juga menekankan pentingya keseimbangan dan harmoni. Ia memperingatkan bahwa manusia modern terlalu banyak mengandalkan sains dan logika dan akan mendapat manfaat dari pengitegrasian spiritualitas serta apresiasi terhadap dunia bawah sadar.

Jung Gnotisisme New Age Movement

Carl Jung disebut juga sebagai ‘Bapak Neo Gnostisismedan New Age Movement.’ Gnotisisme sendiri adalah sebuah aliran (agama) yang meyakini gnosis (pengetahuan) sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Untuk memahami ketuhanan, kaum gnostik mempelajarinya sendiri tanpa bantuan atau perantara rabbi, pendeta, uskup, imam atau pemimpin agama yang lain.

Para pemimpin agama menganggap gnostik sebagai aliran sesat (heresy). Oleh orang-orang Kristen, kaum ini dianggap berbahaya karena dianggap telah seolah-olah menyingkapkan kebenaran. Para Gnostik mengklaim bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, bukan dari Alkitab, namun diperoleh melalui alam mistis lain yang lebih tinggi. Gnostik memandang diri mereka sebagai kelas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain, terutama karena pengetahuan mereka akan Tuhan.

Tentang Jung, Erich Fromm dalam bukunya “C.G. Jung: Prophet of the UnconsciousScientific American, 1963, h. 209 menulis, “Jung jelas bukan seorang yang religius dalam pengertian Kristen, Yahudi, Islam atau Buddha. Dia pada dasarnya adalah seorang penyembah berhala, lebih khusus seorang penyembah dewa-dewa dan dewi-dewi jahat. Jung dengan campuran takhayulnya yang canggih, penyembahan berhala yang samar-samar, dan pembicaraan yang samar-samar tentang Tuhan, mengklaim bahwa dia sedang membangun jembatan antara agama dan psikologi, menawarkan campuran yang tepat untuk zaman yang miskin keyakinan dan miskin akal.”

Jung dan Astrologi

Bagi Jung, astrologi adalah penjumlahan semua pengetahuan kuno tentang psikologi. Secara intuitif, dua belas tanda zodiak bekerja sebagai ringkasan realitas psikis. Mereka mengatur apa yang Jung sebut sebagai ‘arketipe’, yang merupakan pola atau model psikologis yang mendiami bawah sadar kolektif (collective unconscious).

Carl Jung yakin bahwa dalam diri setiap manusia ada watak bawaan untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya, dimana manusia tidak meraihnya, tapi, sebaliknya, mereka dilahirkan dengan itu. Di sinilah kita dapat melihat pengaruh astrologi pada psikoanalisis penganut Jung. Astrolog yakin bahwa ada kecenderungan untuk hidup dengan cara tertentu sejak lahir.

Menurut Carl Jung, “Astrologi, sebagaimana bawah sadar kolektif yang menjadi perhatian psikologi, terdiri dari konfigurasi simbolis. Planet-planet adalah dewa, simbol kekuatan alam bawah sadar.”

Jung dan Philemon

Jung mengaku memiliki ‘roh pemandu’. Salah satunya bernama Philemon. Jung berkata, “Philemon mewakili kekuatan yang bukan diriku … dialah yang mengajariku obyektivitas psikis, realitas jiwa … ada sesuatu dalam diriku yang bisa mengatakan hal-hal yang aku tidak tahu.”

Dalam bukunya Memories Dreams Reflections, h. 190-191 Jung menulis, “Semua kerjaku, semua aktivitas kreatifku, datang dari fantasi dan mimpi awal yang bermula pada tahun 1912. Semua yang saya capai di kemudian hari sudah terkandung di dalamnya, meskipun pada awalnya hanya dalam bentuk emosi dan gambar.”

Baca juga: Hukum Donor Organ Tubuh

Kesimpulan

Dari paparan di atas, kita tahu bahwa asal-usul teori STIF adalah dari mimpi, bisikan ‘roh pemandu’, astrologi (ramalan bintang), ajaran pagan, gnotisisme, dan filsafat kuno sebagaimana pernyataan jung di atas. Realita ini sudah cukup bagi kita untuk membuat kita berlepas diri teori STIF. Wallahu Ta’ala a’lam.

Penulis  : Ustadz Imtihan Asy-Syafi’i

Sumber : Majalah An-Najah edisi 156

Editor   : Ibnu Alatas