Kontroversi Seminar UMS: Joko Ekram Mengelak Disebut Panitia

Pamflet Seminar Internasional du UMS Surakarta: "Konstelasi Politik Timur Tengah"

Pamflet Seminar Internasional du UMS Surakarta: “Konstelasi Politik Timur Tengah”

SOLO (an-najah) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) akan menggelar seminar internasional dengan “tajuk konstelasi politik timur tengah” dengan rencana menghadirkan duta besar dari berbagai negara diundang dalam acara ini di antaranya Duta Besar Suriah, Mesir, Amerika Serikat.

Rencana kehadiran beberapa pembicara seperti Dubes Suriah dan Mesir langsung mengundang kritik keras dari beberapa pihak. Kiblat.net mengonfirmasi kepada salah satu orang yang dianggap sebagai ketua Event organizer acara tersebut yakni Joko Ekram anggota Majelis Ukhuwah Islamiyah MUI Solo.

Joko menjelaskan, bahwa acara tersebut yang digelar secara independen oleh pasca sarjana UMS tanpa keterkaitan dengan pihak luar manapun.

“Ini murni program pasca sarjana tidak ada kaitan dengan MUI atau lembaga apapun,” terangnya saat dihubungi dengan sambungan telepon, Rabu (21/8/2013).

Namun, sedikit berbeda informasi yang didapat dari rektor UMS, bahwa acara digelar oleh dua pihak selain UMS.

“Pusham UII dengan Pasca UMS, itu seminar bergilir di UII, UMY, dan UMS,” jawab Rektor UMS Prof Bambang Setiaji, seperti dikutip dari kiblat.net, Rabu (21/8/2013).

Joko juga mengaku hanya sebagai penghubung dari beberapa pembicara seminar internasional dari Indonesia yang ia kenal secara pribadi bukan panitia atau Event organizer seperti diungkapkan pihak UMS.

“Saya kan kenal Prof. Huzaifah dan saya juga kenal dr.Jose, jadi saya hanya menghubungkannya saja,” ungkap Joko yang mengatakan bahwa ia punya prinsip mencari teman sebanyak-banyaknya.

Menanggapi kritik atas beberapa nama pembicara, ia menerangkan bahwa pilihan acara dan pembicara merupakan otoritas pasca sarjana yang memiliki kebebasan akademik. Ia pun menegaskan, bahwa benar yang diundang diantaranya ialah Dubes Suriah, Dubes AS. Ia pun menjelaskan bahwa Dubes Mesir tidak bisa hadir karena sedang di Kairo sehingga diganti dengan Dubes Libya.

Namun, ketika ditanya siapa yang meminta nama-nama tersebut diundang dalam seminar, Pria yang akrab disapa Joko Beras ini mengaku bahwa yang mengusulkan nama-nama tersebut adalah Muhyidin Junaedi selaku orang PP Muhammadiyah bidang luar negeri.

“Yang mengusulkan undangan adalah Pak Muhyidin Junaedi, beliau kan orang Muhammadiyah Pusat bidang luar negeri, Jadi, UMS percaya saja dengan beliau, ya UMS terima saja,” ucapnya.

Joko mengatakan bahwa pihaknya juga sedang mencari pembicara pembanding, karena acara tersebut merupakan acara akademis.

“Pembicara yang counter sedang di cari, ya awalnya Dr.Muin protes kepada saya, kenapa gini-gini, saya jelaskan bahwa ini kan acara yang usul pak Muhyidin Jaenudi loh, dia kan Muhammadiyah pusat,” tuturnya.

Ketika ditanya isu yang beredar kaitan acara tersebut dengan Ustadz Muzakkir , ia membantah ustadz Muzakkir ada hubungannya acara tersebut.

“Beliau tidak tahu menahu mas, MUI Solo saja tidak tahu menahu kok, orang tahunya saya MUI Solo, padahal saya Muhammadiyah,” katanya.

Kemudian ditanya kembali, apakah dengan mengundang Dubes Suriah tidak menyakiti perasaan umat Islam, Joko mengaku acara tersebut justru untuk mengetahui mengapa peristiwa di sana dapat terjadi.

“Kita berbicara boleh loh mas? Kita kan mau tahu kenapa begitu, apa yang terjadi begitu,” di tanya kembali apakah ini acara tabayun atas peristiwa di Suriah? Di jawab” Ya semisal itu, jadi bukan memberi panggung ,” akunya.

Joko juga mengaku empati atas peristiwa di Suriah, tapi menurutnya ia ingin kejelasan peristiwa di sana seperti apa dengan acara tersebut,” Sebagai seorang Muslim saya prihatin, jadi nanti kita bisa tanya langsung tanya dengan dubesnya,”tegas Joko.

Namun, Joko ketika dikonfirmasi kembali apakah dia sebagai ketua panitia (event organizer) ia tidak menjawab dengan lugas. “Saya hanya penghubung dari pembicara,” jawabnya singkat.

Protes Dosen UMS

Sementara itu, dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) DR. Muinudinillah Bisri mempertanyakan sikap kampusnya yang memberikan ruang bagi Dubes Suriah, Mesir, dan Amerika dalam acara Seminar Internasional, Sabtu (24/8) nanti. Di tengah pembantaian yang dilakukan pemerintah Mesir, Suriah, dan Amerika kepada umat Islam, UMS harus punya sikap tegas terhadap kezaliman ini.

“Saya pribadi sudah mengingatkan sejak awal kepada Rektor dan Direktur Pascasarjana bahwa acara ini tidak tepat untuk digelar di kampus,” katanya seperti dilansir Islampos.com, Rabu (21/8).

Menurutnya baik secara syariat dan politik hal ini jelas bertentangan. Dalam Islam, ada konsep Al Wala wal Baro’. Umat Islam dituntut membela rakyat Suriah dan Mesir yang menjadi korban kebijakan zalim penguasanya. Bukan justru mengundang para Dubes Mesir, Suriah, dan Amerika untuk mengemukakan pendapatnya kepada audiens.

“Siapapun yang memegang microfon akan sangat mempengaruhi audiens,” tegasnya.

Alasan digelarnya seminar internasional sebagai bentuk forum ilmiah, juga tidak lepas dari kritikan Alumni Universitas Islam Madinah ini.

“Forum ilmiah kan harus didudukkan secara Islam, semuanya harus mengikuti aturan Islam,” pungkasnya. (qt/kiblat.net/an-najah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.