Krisis Ghouta, Relevankah Bicara Khilafah?

Khilafah
Khilafah
Khilafah
Khilafah

An-Najah.net –

“Kita menunggu giliran untuk mati.,” kata Bilal, seorang warga Ghouta Timur, Suriah. Ghouta Timur berada 10 kilometer dari Damaskus.

Wilayah yang dihuni 400 ribu jiwa ini mengalami krisis dalam beberapa hari terakhir.

Pasukan Bashar Assad, Presiden Suriah, memborbardir Ghouta Timur hingga luluh lantak. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut situasi di Ghouta Timur saat ini seperti “neraka di muka bumi.

Rudal dan mortir dijatuhkan seperti hujan. Banyak bangunan runtuh, 22 rumah sakit dan klinik menjadi sasaran pengeboman. Terjadilah darurat medis.

Korban luka yang terus bertambah tidak mendapatkan pengobatan. Selama lima hari, 500 orang meninggal. Bahkan anak-anak tak berdosa turut menjadi korban keganasan rezim Bashar Assad. Salat jenazah di Ghouta dilakukan tiap menit.

Umat Islam pun bertanya, “Apa yang bisa kami lakukan? “Doa dipanjatkan dari sudut-sudut negeri. Berita tentang Ghouta menjadi viral.

Lembaga sosial mengumpulkan donasi dari masyarakat dan mengirimkan relawan medis kesana. Foto anak-anak yang berlumuran darah membuat jiwa umat Islam menjerit. Kapan ini semua berakhir?

Ini bukan perang saudara seperti yang diberitakan media barat. Ini adalah pembantaian oleh rezim beringas Bashar Assad kepada rakyat tak berdosa.

Rezim menuduh Ghouta menyembunyikan para mujahid, yang disebut teroris oleh Assad. Sebuah dalih palsu untuk meraih legalitas menghabisi warga sipil tak bersenjata.

Pembantaian ini menjadi Aleppo jilid 2. Dulu Aleppo dibumihanguskan. Kini Ghouta. Esok entah wilayah manalagi.

Rezim haus darah ini tak akan pernah puas membunuh umat Islam di Suriah. Kejadian ini akan terus berulang. Pertanyaannya sampai kapan?

Suriah butuh solusi politik, bukan hanya solusi medis. Karena bantuan medis berupa obat-obatan sering disandera oleh rezim, hingga tak sampai ke warga yang membutuhkan.

Apa solusi politik untuk menghentikan kekejaman Bashar “drakula” Assad? Salah satu solusi yang ditawarkan adalah khilafah. Namun, beberapa pihak mempertanyakan relevansinya. Khilafah dianggap “nun jauh di seberang lautan”.

Sementara persoalan Ghouta “di depan mata”. Dibutuhkan langkah segera dan jangka pendek. Sementara tawaran solusi khilafah seolah berharap pada sesuatu yang belum ada dan belum jelas kapan terwujud.

Krisis Ghouta, Masalah Level Internasional

Jika dilihat dalam sekup kecil, solusi Suriah adalah turunkan Assad dan ganti dengan rezim baru. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu.

Assad masih berkuasa meski singgasananya sudah condong. Singgasana ini pasti ambruk andai tidak ada kekuatan internasional yang menyangganya. Siapa kekuatan internasional itu?

Kekuatan internasional itu bisa dibagi menjadi empat pihak. Yang pertama adalah Rusia. Rusia adalah pendukung Assad nomor wahid. Rusia menghujani Suriah dengan bom sejak September 2015.

Pada krisis Ghouta ini Rusia juga mengirimkan jet tempur tercanggih (Sukhoi 57) ke pangkalan militernya di Suriah.

Kekuatan internasional yang kedua adalah negeri-negeri muslim. Seharusnya mereka mampu bersatu menekan Assad agar turun dari jabatannya.

Jika Assad menolak, mereka bisa mengirimkan militernya untuk mengalahkan Assad. Ini hal mudah bagi mereka, apalagi bagi negara-negara arab yang memiliki anggaran militer besar. Namun negeri-negeri muslim ini hanya sibuk mengecam, tanpa aksi nyata.

Arab Saudi hanya menghimbau kepada semua pihak yang terlibat agar mengambil Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2254 dan konvensi Jenewa-1. Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani hanya mengecam serangan sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Turki bahkan meminta kepada Rusia dan Iran untuk membujuk Suriah menghentikan serangannya.

Sekretariat Jenderal OKI hanya meminta rezim Suriah untuk segera menghentikan serangannya dan mengizinkan konvoi bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah tersebut.

Tindakan penguasa negeri muslim hanya berhenti pada kecaman. Sebuah bukti palsunya keberpihakan mereka pada saudara sesama muslim yang tengah meregang nyawa di Suriah.

Assad tetap berkuasa selain karena dukungan Rusia, juga karena sikap diam negara-negara di dunia, utamanya negeri muslim.

Mereka justru menyerahkan masalah Suriah pada “solusi” Dewan Keamanan (DK) PBB. Pada pertemuan tanggal 24 Februari 2018, PBB menyepakati resolusi gencatan senjata selama 30 hari.

Namun resolusi ini diragukan efektifitasnya. Bahkan Amerika Serikat skeptis bahwa Assad akan mau mematuhi resolusi PBB.

Sebagaimana pelanggarannya terhadap resolusi selama ini yang mengakibatkan Suriah terus berada dalam krisis sejak 2011.

Nampak bahwa kita tak bisa berharap penyelesaian krisis Suriah pada negeri-negeri muslim. Karena nasionalisme telah membutakan mata hati mereka dari menolong saudara muslim.

Kita juga tidak bisa berharap pada kekuatan internasional yang ketiga yaitu PBB karena dia hanya memiliki pistol “resolusi” tanpa amunisi. Pistol itu hanya mampu meletupkan kecaman, namun tanpa kekuatan nyata.

Sedangkan kekuatan internasional ke empat yaitu Amerika Serikat sebagai Global Cop alias Polisi Dunia. Presiden Trump memang mengecam Rusia dan Iran karena mendukung Assad.

Namun tidak ada langkah apapun yang dilakukan selain mengecam. Padahal Amerika dikenal aktif turut campur dalam urusan negara lain. Kenapa AS hanya bersikap sebagai penonton? Hal ini tentu menjadi tanda tanya. Jika AS memang punya itikad menuntaskan masalah Suriah, maka menghabisi Assad adalah perkara mudah.

Namun tak dilakukannya. Masuknya AS di medan Suriah memang pernah dilakukan. Namun alih-alih menjatuhkan Assad, aksi militer itu justru menyebabkan banyaknya korban warga sipil.

Suriah dijadikan ajang uji coba teknologi senjata terbaru antara AS dan Rusia. Sementara umat Islam terjepit di tengah konflik tak berkesudahan.

Terbukti tidak ada satu pihak pun yang berniat menyelesaikan krisis Suriah. Suriah akan terus membara. Darah umat Islam akan terus tumpah.

Disinilah pentingnya khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum muslim. Khilafah adalah junnah (perisai) yang akan melindungi umat Islam dari serangan pihak manapun. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw :

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengannya.” (HR. Al-Bukhari).

Khilafah tidak dikungkung oleh sekat nasionalisme, sehingga jeritan satu orang muslim saja yang didzalimi rezim akan dijawab dengan pengiriman militer. Ini telah dibuktikan khilafah pada penaklukan kota Amurriyah karena seorang muslimah ditawan di sana.

Demikianlah hanya khilafah solusi hakiki permasalahan Suriah. Ketika khilafah tegak, khalifah akan mengirimkan tentara sampai mampu mengalahkan rezim Bashar Assad.

Lalu khilafah menyatukan Suriah dalam naungan khilafah. Sebagaimana dulu wilayah Syam (sekarang meliputi Suriah, Palestina, Libanon dan Yordania) adalah salah satu provinsi khilafah.

Tegaknya khilafah adalah perkara yang pasti sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Ayat ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah saw :
” Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Rasulullah bahkan mengabarkan bahwa Ghouta akan menjadi benteng khilafah. Berdasarkan hadits tentang tanda akhir zaman :
“Benteng umat Islam saat itu di wilayah yang disebut Ghouthoh, daerah sekitar kota Damaskus.” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah telah mengabarkan bahwa kelak wilayah Ghouta menjadi benteng umat Islam. Berarti khilafah tegak terlebih dahulu untuk kemudian menyatukan Suriah hingga mampu menjadikan Ghouta sebagai benteng.

InsyaAllah tegaknya khilafah akan cepat terwujud dengan pertolongan Allah. Asalkan kita menjadikan diri kita penolong agama Allah swt.

Inilah relevansi bicara khilafah dalam krisis Ghouta. Karena hanya khilafah yang mampu melindungi umat Islam di Ghoura, Suriah, dan di seluruh penjuru dunia.

Penulis : Ragil Rahayu Wilujeng, SE
(Pemerhati Dunia Islam)

Editor : Helmi Alfian