Krisis Keteladanan

Krisis Keteladanan
Krisis Keteladanan

An-Najah.net – Menjadi menu tahunan, setiap lulusan sekolah terlihat dl mana-mana anak-anak berpawai dengan pakaian yang penuh coretan. sepeda montor dengan suara menggelegar.

Tak jarang berakhir dengan perkelahian, minum minuman dan bahkan free sex. Perilaku ini seakan menjadi menu tiap akhir tahun.

Begitu pengumuman sekolah baik SMA maupun SMP diumumkan, jalan jalan dipenuhi dengan anak anak pawai dengan kendaraan yang memekakkan telinga.

Perilaku anak tersebut bukan terjadi secara tiba tiba. Bukan pula euforia ungkapan kegembiraan karena berhasil menyelesaikan sekolah.

Lebih dari itu, tanpa sadar hilangnya jati diri sebagai seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu. Di sinilah peran orang tua. guru dan masyarakat menjadi utama untuk pembentukan pondasi keimanan yang kokoh bagi anak.

Satu hgur sentral untuk membentuk pribadi yang kokoh adalah keluarga, lebih khusus adalah kedua orang tuanya. Orang tua mentransfer sikap dan perilaku kepada anak-anaknya.

Apa yang sehari-hari dilihat anak, akan menumbuhkan kesan yang kuat dalam benak dan pikirannya.

Dengan sendirinya anak meniru apa yang dilihatnya. Keteladanan ini akan berpengaruh besar dalam membentuk jiwa dan karakter anak. Termasuk ketika bagaimana seorang anak harus bersikap ketika lulus ujian.

Di sinilah jika figur sentral orang tua hilang dalam benak anak, hakekatnya telah terjadi krisis identitas dan hilangnya keteladanan dalam diri seorang anak.

Seorang anak banyak belajar dari orang tuanya. Baik cara hidup, makan, berpakaian, berbicara. Termasuk di dalamnya perbuatan yang baik maupun tidak baik.

Anak akan mengawasi perilaku kedua orang tuanya. Ketika mereka mendapati kedua orang tuanya berlaku jujur, anak akan tumbuh di atas kejujuran. Begitupula sebaliknya.

Hal ini sebagaimana Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa yang mengatakan kepada anak kecil, ‘Kemarilah saya beri sesuatul: namun ternyata ia tidak memberinya, maka itu termasuk ucapan dusta.” (HR. Ahmad)

ibnu Abbas pernah menyaksikan Rasulullah SAW mengambil air wudhu untuk shalat malam. Saat melihat Rasulullah SAW seperti itu, ibnu Abbas bergegas meniru Rasulullah SAW dengan mengambil air wudhu dan melakukan shalat malam.

Teladan yang Baik

Teladan yang baiktidak hanya bermanfaat untuk anak dan orang lain, namunjuga orangorang yang memberi keteladanan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memberi teladan yang baik di dalam islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh.

Dan barangsiapa memberikan teladan jelek di dalam islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.” (HR. Muslim)

Teladan yang baik kunci keberhasilan mendidik anak. Pembiasaan sejak dini akan membentuk karakter saat dewasa. Seperti orang tua yang membiasakan salam ketika masuk rumah.

Berdoa saat memulai makan dan tidur. Shalat tepat waktu. Mendahulukan kaki kanan saat masuk masjid, juga mendahulukan kaki kiri saat masuk kamar mandi.

Orang tua yang menjaga lidahnya untuk tidak berkata buruk, mencela, menyakiti, ghibah, hasad dan adu domba. Memperbanyak dzikirullah, membaca Al Qur’an.

Suka berbaik sangka kepada orang lain dan berbagai amalan kebaikan lainnya yang menjadi kebiasaan dalam keluarga. Semuanya akan membekas dalam diri anak, menjadi kebiasaan dan karakter dalam membentuk kepribadian anak.

Sebaliknya, orang tua yang memberikan contoh yang buruk, mudah mencela, mencaci menjadikan celaan dan cacian biasa dalam hidupnya, sehingga akan mudah melakukan keburukan keburukan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Anas radhiyahullahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa dirinya tidak pernah dimarahi Rasulullah SAW meskipun berlambat-lambatan dalam bekerja.

Bahkan, jika ada orang lain memarahinya, Rasulullah SAW justru menegur orang tersebut. Sikap Rasulullah SAW ini sangat berkesan dan membekas dalam benak Anas.

Krisis Keteladanan

Krisis keteladanan menjadi ciri khas keluarga muslim hari ini. Anak tidak mendapatkan teladan di rumah, akhirnya ia mencari teladan dari teman dan lingkungannya.

Saat mendapat teman dan lingkungan yang baik, anak akan tumbuh menjadi baik. Sebaliknya, jika mendapatkan teman dan lingkungan yang tidak baik, ia akan tumbuh dengan sifat.

Akhlak dan perilaku yang tidak baik. Anak tumbuh dan berkembang bersama teman dan lingkungan yang melingkupinya.

Inilah peringatan Rasulullah SAW akan arti penting dalam memilih teman, terutama bagi anak-anak kita. Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapakah teman dekatnya!” (HR. Ahmad).

Tak salah jika pepatah mengungkapkan, ‘jika ingin mengetahui tentang akhlak dan karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman’.

Dengan kata lain, hendaknya orang tua berhati-hati dalam memilihkan teman dan lingkungan untuk anak-anaknya. Jika anak tidak mendapatkan dari keluarga, khususnya ayah, ibu dan saudara-saudaranya, ia akan mendapatkan dari teman dan lingkungannya. Dengan sendirinya, ia akan bergaul, interaksi terhadap kebiasaan-kebiasaan teman dan lingkungannya.

Di sinilah pentingnya menghadirkan keteladanan yang baik dalam keluarga. Keteladanan menjadi kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan berkembangan anak.

Peran orangtua menjadi kunci keberhasilan mendidik anak dengan keteladanan tersebut. Suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.

Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rumah tangga tersebut.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 127 Rubrik Usrotuna

Penulis : Mulyanto

Editor : Helmi Alfian