Krisis Sabah, Titik Api Baru di Asia Tenggara?

sabah(an-najah.net) – Malaysia Timur memanas, pertempuran antara tentara Malaysia dan pasukan Kesultanan Sulu membuat kawasan menjadi tegang. Hingga tulisan ini disusun, 52 tewas dari pihak pasukan Kesultanan Sulu dan delapan polisi Malaysia.

Sabtu hingga Senin 9-11 Februari lalu, ratusan orang Tausug, sebuah suku Muslim Moro meninggalkan Kepulauan Simunul di Tawi-Tawi, Filipina selatan. Secara berangsur menggunakan perahu-perahu motor, mereka berlayar ke Sabah, Malaysia.

Dipimpin Raja Muda Agbimuddin,adik Sultan Jamalul Kiram III dari Kesultanan Sulu, mereka kemudian mendarat di Kota Lahad Datu, Sabah. Mereka berupaya mengklaim kembali Sabah. Abraham Julpa Idjirani, juru bicara dari Kesultanan Sulu, mengatakan, rencana ini dipersiapkan akhir tahun lalu tak lama setelah pemerintahan Aquino menandatangani perjanjian dengan MILF.

Kesultanan Sulu merasa punya dasar untuk mengklaim Sabah sebagai wilayah mereka. Menurut keluarga kesultanan, Sabah–yang sebelumnya bernama Borneo Utara–diserahkan oleh Sultan Brunei kepada Sultan Sulu pada 1704. Pemberian itu sebagai hadiah atas bantuan Sultan Sulu yang membantu menumpas pemberontakan melawan Sultan Brunei.

Ayah Jamalul II, Sultan Jamalul Ahlam, salah satu ahli waris, menyewakan Sabah kepada British North Borneo Co pada 1878. Imbalannya, perusahaan Inggris itu akan membayar 5.300 keping emas Meksiko per tahun untuk Kerajaan Sulu–versi lain mengatakan US$ 5.000.

Inggris, seperti halnya di Timur Tengah, bersama Belanda dan Spanyol memang membagi-bagi kawasan Asia Tenggara. Dengan semangat Gold, Glory dan Gospel, daulah-daulah Muslim yang ada di sana dijajah, dibeli atau dilikuidasi. Mirip seperti upaya Sykes-Picott memecah Khilafah Utsmani menjadi banyak negara kecil.

 
 selengkapnya baca An-Najah Edisi Maret 2013.