Urgensi Kewaspadaan dalam Perjuangan

Para penasehat barat tak henti-hentinya memberikan rekomendasi kepada pemerintah AS, sekutu baratnya, maupun pemerintah negara-negara yang tergabung dalam proses peperangan war on terror, perang menghadapi kelompok teroris, yang telah berkembang menjadi sandi peperangan terhadap Islam secara terselubung.

Usulan para ahli dan para peneliti sosial mereka tidak berhenti pada rekomendasi fixed tatkala mereka menemukan fakta baru dalam peperangan tersebut. Tak hanya itu, mereka bahkan juga saling menyemangati untuk sabar dalam peperangan ini karena lawannya –aktifis Islam- mempunyai ‘ideologi’ (baca: akidah) yang mengakar kuat.

AS dan sekutunya berusaha merebut heart and mind, hati dan pikiran umat Islam awam agar aktifis Islam tidak mampu melakukan rekrutmen untuk menggantikan kader yang hilang atau rusak. Uniknya, mereka berpesan wanti-wanti kepada penguasa thagut, kaki tangannya, agar jangan sekali-kali peperangan menghadapi teroris ini dikesankan oleh umat Islam sebagai perang terhadap Islam.
Semuanya dapat mereka lakukan dengan baik, sistematis, efisien dan efektif, tak lepas dari keseriusan mereka untuk memenangkan peperangan dan dukungan sarana dan dana unlimited hasil dari penjajahan ekonomi terhadap dunia Islam yang tunduk kepada kepentingan barat. Ironis memang, pemerintah di negara muslim justru menyetor dana tersebut kepada musuhnya untuk memerangi Islam.

Kesadaran Intelijen Ash-Shohwah Al-Islamiyah

Musuh lebih dini menyadari urgensi intelijen, jauh berbeda umat Islam yang perlu waktu yang lama untuk menyadari urgensi intelijen, sehingga pembenahan dalam pergerakan Islam melambat.

Sedikit diantara abnaa’ ash-shohwah al-Islamiyah yang benar-benar melakukan langkah konkrit membenahi sisi lemah umat ini dalam menghadapi peperangan. Diantara yang telah sadar, dan bertindak konkrit itu, masih sangat sedikit yang melakukannya secara konsisten. Kesadaran dan konsistensi tersebut, baik pada level pribadi maupun pada level jama’ah, menjadi syarat bagi kemenangan Islam baik terbatas maupun total.

Pada level pribadi kesadaran dan konsistensi itu, buahnya adalah sikap istiqomah dalam menghadapi gelombang ujian keimanan; kelapangan maupun kesempitan, intimidasi maupun peluang-peluang, siksaan maupun kesempatan mendapatkan harta. Pada level jama’ah, buahnya adalah menjadi mungkinnya umat Islam untuk memperoleh kemenangan dunia dengan tegaknya syariat Allah, mengalahkan dominasi kekufuran barat.

Secara khusus, kesadaran intelijen ash-shohwah al-Islamiyah al-jihadiyah telah berkembang maju. Telah tumbuh kesadaran bahwa umat Islam, khususnya para mujahidin dan pendukung jihad menjadi obyek operasi intelijen musuh yang tak henti-hentinya menyasar para tokoh jihad, upaya mereka untuk memukul strategi mujahidin dan menggagalkan rencananya, menghancurkan basis-basis perlindungan mereka dan memutus dukungan umat terhadap mereka. Bahkan telah berkembang kepada kesadaran aktif . Mujahidin mampu menyerang musuh dan mencegah serangan musuh atas informasi intelijen.

Misalnya, serangan 11 September, operasi pembebasan Grozny dan rangkaian sebelum dan sesudahnya dibawah komando Al-Khaththab, dll. Termasuk keberhasilan operasi brilliant mujahidin Daulah Islamiyah Iraq dalam operasi SWAT dengan teknik menduplikasi satuan SWAT bentukan AS untuk menguatkan sekutu lokalnya Syiah Rofidhoh Irak.
Kemajuan mujahidin dalam mengelola operasi intelijen di berbagai medan jihad, selain didorong oleh perintah syar’iy, contoh teladan Rasulullah saw dan para salaf, juga karena mereka mendapatkan medan yang kondusif dan sarana yang memadai.
Baca berikutnya di An-Najah Edisi _87