Kultum : Belajar dari Shahabiyah, Menjadi Wanita Shalihah

kultum wanita shalihah

An-Najah.net – Allah Swt menciptakan manusia, kemudian tidak membiarkan bergitu saja. Akan tetapi Allah Swt telah mengutus kepadanya seorang Rasul untuk membimbing mereka. Agar selamat di dunia hingga di akhirat.

Rasulullah adalah tauladan bagi kita semua, mukminin maupun mukminat. Semua tauladan sempurna; kebijaksanaan, kebaikan hati, kelembutan akhlak dan ketulusan bisa kita ambil contohnya dari Rasulullah. Tidak ada yang kurang dalam teladan yang telah beliau berikan.

Allah berirman,

“Telah ada pada diri Rasulullah, contoh yang baik bagi kalian.” (Al Ahzab [33]: 21)

Hanya saja, Rasulullah adalah seorang lelaki. Meskipun beliau telah mengajarkan berbagai bentuk kebaikan terhadap wanita, namun tentunya, dalam beberapa hal beliau tidak bisa mempraktekannya secara langsung. Yaitu perkara-perkara yang berkaitan dengan wanita. Nah, dimanakah para wanita bisa menemukan teladan yang baik dalam urusan itu? Jawabannya, kita akan menemukannya dalam diri para shahabiyah, utamanya adalah isteri-isteri Rasulullah SAW.

Para wanita mulia hasil tarbiyah nabawiyah (pendidikan Nabi) yang memiliki banyak keutamaan ilmu dan amal. Tentu saja, karena mereka langusng mengambil ilmu, bahkan diawasi pengamalannya oleh sumber paling jernih, Rasulullah SAW.

Baiklah, kita akan mencoba mendulang manfaat dari beberapa teladan shahabiyah, wanita shahabat Nabi dalam beramal.

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Yang Berbahagia

Pertama; Teladan dalam Menjaga Aurat

Dari Shafiyah bin Syaibah berkata, “Ketika aku bersama Aisyah, kami menyebut-nybeut keutamaan wanita Quraisy.” Aisyah berkata, “Wanita Quraisy memiliki keutamaan. Tapi demi Allah, aku tidak melihat ada yang lebih utama dari wanita Anshar dalam hal membenarkan kitabullah dan keimanan terhadapnya. Ketika surat An Nuur diturunkan, ” Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” dengan segera suami-suami mereka pulang dan membacakan apa yang Allah turunkan. Setiap lelaki membacakannya pada isteri, anak perempuan, saudari dan semua wanita yang memiliki kekerabatan dengannya. Maka dengan segera, wanita yang mendengarnya langsung menyambar sepotong kain yang berenda dan mengerudungkannya di kepala dan menyelempangkan ujungnya di wajah, sebagai pembenaran juga implementasi keimanan terhadap apa yang Allah turunkan. Sehingga ketika berada di belakang Rasulullah, kepala mereka tertutup kain seakan-akan di kepala mereka bertengger burung gagak.”

Kisah ini diceritakan Ibnu Katsir dalam tafsir surat An Nuur, dan disandarkan pada riwayat Ibnu Abi Hatim 3/284. abu Daud meriwayatkan secara ringkas  2/415 dalam Kitabul Libas

Dari Ibnu Abbas, Sayidah Fathimah az Zahra’ binti Nabi SAW ketika didera sakit yang akhirnya beliau wafat, beliau berkata kepada Asma’ binti Umais yang menjenguknya, “Aku merasa, apa yang dilakukan terhadap wanita setelah meninggal adalah suatu hal yang buruk. Jasad mereka hanya ditutupi kain. Dan sepertinya aku akan mati. Aku malu jika jenazahku dibawa di atas ranjang dan terlihat oleh orang banyak. Sehingga mereka tahu panjang dan lebar tubuhku.” Saat itu, keranda belum dikenal. Asma berkata, “Aku pernah melihat di negeri Habasyah, mereka membuat keranda untuk membawa jenazah wanita agar tidak kelihatan. Dan karena waktuku senggang, aku akan membuatkan untukmu agar engkau bisa dibawa dengannya.” Fathimah berkata, “Boleh aku melihatnya dulu?” Lalu Asma membawakan beberapa batang kayu kurma basah dan dibuat menjadi penutup keranda diatas ranjang, lalu diperlihatkan kepada Fatimah. Beliau berkata, “Alangkah bagusnya ini!” Maka  beliaulah yang pertama kali di usung di atas keranda sepanjang sejarah Islam.

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Yang Berbahagia

Kedua; Teladan dalam membantu Suami

Bukhari dan Muslim mentakhrij sebuah hadits dalam Kitab mereka, dari Asma binti Abi Bakar ia berkata, “Zubair menikahiku, dan di bumi ini ia tidak memiliki harta atau budak atau barang lain selain kudanya.” Asma; berkata, “Dan akulah yang memberi makan kudanya dan menyiapkan bekalnya dan mengurus kuda itu, menggiling biji kurma untuk mengombornya, mencari rumput dan memberi minum, mengisi ember minumnya, mengaduk adonan dan lainya….aku mengangkut kurma dari ladang Zubair yang merupakan jatah dari Rasulullah yang jauhnya 1/3 farsakh ( 1 Farsakh + 5,5km).”

Jika Sayidah Asma binti Abu Bakr saja tidak merasa gengsi dengan kedudukan dan kemuliaan ayahnya untuk melayani suami –bahkan kalau boleh dikatakan pelayanan yang berat karena minimnya fasilitas-, tidakkah hal itu membuat wanita muslimah sekarang mau membantu suaminya di rumah dan membuatnya senang? Terlebih, dengan adanya berbagai sarana yang memudahkan? Tidakkah mereka mau melakukannya jika dengan semua itu mereka bisa mencari ridha Allah dari Ridha suaminya?

 Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Yang Berbahagia

Ketiga; Teladan dalam menjaga hati suami

Imam Muslim mentaikhrij dalam kitab Shahihnya dari Sayidah Asma, Beliau berkata, “Ada seorang lelaki yang berkata, “Wahai Ummu Abdillah, saya ini orang fakir, saya ingin berjualan di teras rumah anda.” Asma berkata, “Jika aku mengijinkanmu, mungkin Zubair tidak suka dengan hal itu. Karenanya, datanglah kemari saat Zubair ada dan mintalah ijin padaku.” Lalu ia datang di lain waktu dan berkata, “Wahai Ummu Abdillah, saya ini orang fakir, saya ingin berjualan di teras rumah anda.” Asma berkata, ” Apakah di kota ini tidak ada tempat lagi selain teras rumahku?” lalu Zubair menimpali, “Mengapa Engkau melarang seorang lelaki miskin berjualan?” lalu lelaki itupun berjualan di terasnya hingga mendapat penghasilan.”

 Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Yang Berbahagia

Keempat: Teladan dalam mendidik anak

Adalah Khansa’ binti Amru al Harits atau yang terkenal dengan al Khansa’, beliau adalah shahabiyah yang sempat menyaksikan perang Qadisiyah yang dipimpin Sa’d bin Abi Waqqash berserta empat anaknya yang tersisa. Saat itu beliau sudah berusia senja.

Sejarah mencatat ungkapan Khansa’ untuk anak-anaknya di medan perang, sejarah pun berdiri hormat terhadap shahabiyah mulia yang telah mengasuh anak-anak dengan kemuliaan dan keberanian. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan suka rela dan berhijrah atas pilihan sendiri.  Demi Allah yang tiada ilah selain-Nya. Kalian itu adalah putra seorang wanita yang sendirian, yang tak pernah mengkhianati ayah kalian, mencemarkan nama bahwa paman kalian, menodai kehormatan kalian dan tidak pula merubah nasab kalian. Kalian telah tahu pahala yang Allah sediakan bagi orang-orang muslim yang memerangi orang kafir. Dan ketahuilah bahwa negeri yang abadi adalah leih baik dari negeri yang fana. Bersabarlah dan berlakulah sabar, berjagalah dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian melihat peperangan telah menyingsingkan lengannya, maka merangseklah ke pusat pasukan dan serbulah pemimpinnya. Nisacaya kalian akan beruntung dengan mendapat ghanimah dan karamah di akhirat, negeri yang kekal.

Maka berangkatlah keempat putranya dibawah cahaya dari ungkapan yang mereka dengar dari ibu merkea . merekapun terluka parah di peperangan dan semuanya syahid satu persatu.

 Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Yang Berbahagia

Kelima; Mengajari Shaum

Dari ar Rabie binti Muawidz berkata, ” Tentang shaum mereka di hari Asyura’,” Kami biasa melakukan shaum, kami juga mengajak anak-anak kami. Kami membuatkan mereka mainan dari wol. Jika salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami akan memberikan mainan itu padanya, demikian seterusnya sampai waktu berbuka tiba.” (HR. Bukhari)

Kiranya, itu hanya secuil dari sekian banyak teladan yang telah mereka berikan. Sudah saatnya kita kembali mendulang ilmu dan teladan dari generasi terbaik umat ini. Wallahua’lam.

Penulis : Anwar

Editor : Abu Khalid