Kultum : Mengukur Kualitas Shalat Kita

Ilustrasi, kultum tema shalat
Ilustrasi, kultum tema shalat

An-Najah.net – Didalam ajaran Islam shalat menempati kedudukan yang sangat agung. Ia merupakan salah satu dari Rukun Islam yang lima. Shalat juga merupakan tiang agama. Bahkan perintah Shalat ini langsung diperintahkan oleh Allah Swt tanpa melalui perantara Malaikat Jibril yang terjadi ketika peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Dalam sebuah hadits dari Mu’adz  bin Jabal bahwa Rasulullah Saw bersabda :

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعُوْمُدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)

Artinya : “Pangkal semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah Jihad dijalan Allah”. (HR. At-Tirmidzi di shahihkan oleh Al-Bani dalam sisilah Ash-Shahihah).

Di samping itu, kita juga dapat mengetahui urgensi dan kedudukan shalat yang sangat besar yaitu dengan shalat dapat memelihara kita dari ancaman siksa yang sangat pedih di Neraka Saqar.

Allah Swt berfirman :

Artinya : Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat’ (Al-Mudattstir [74]: 42-43)

Karena shalat adalah amalan yang pertama dihisab di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَامَلِهِ صَلاَتُهُ فَاءِ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)

Artinya : “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia”. (HR. At-Tirmidzi).

Nah sekarang mari kita bersama-sama menakar kualitas shalat kita masing-masing. Berada dalam golongan manakah shalat yang selama ini kita laksanakan.

Ibnu Qoyyim dalam Al-Wabil Al-Shayyib menyebutkan ada lima tingkatan orang yang melaksanakan shalat. Kelima tingkatan itu bagaikan anak tangga yang dimulai dari paling rendah sampai yang paling sempurna.

Tingkatan-tingkatan itu adalah sebagai berikut ini :

  1. Orang yang shalat di I’qab (di-adzab)

Tangga pertama ini adalah orang yang mendzalimi diri sendiri. Ia melakukan shalat dengan ala kadarnya sekedar untuk melepas kewajiban. Ia tidak menyempurnakan wudhunya, tidak memelihara waktu-waktunya, syarat-syaratnya dan Rukun-rukunnya.

Sebagaimana Firman Allah SWT :

Artinya : ‘Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4)  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya’. (Al-Ma’un [107]: 4 -5)

Orang-orang yang lalai adalah orang yang meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Tentang orang-orang yang lalai dari shalatnya, Beliau menjawab : Yaitu mengakhir-ngakhirkan waktunya.

Diriwayatkan oleh Qatadah bahwa Rasulullah bersabda :

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا (رَوَاهُ اَحْمَدُ)

Artinya : “Manusia yang paling buruk perbuatan mencurinya adalah orang yang mencuri shalatnya.”Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang itu mencuri shalatnya? Rasulullah menjawab : yaitu ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (HR. Ahmad).

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah

  1. Orang yang shalat di Hisab (di timbang)

Anak tangga kedua adalah orang yang menjaga waktu shalat, wudhu dan syarat-syarat dan rukun-rukun tetapi tak berdaya menghadapi bisikan (was-was) syetan dan pikirannya masih diluar shalat.

Orang yang berada  pada tangga ini lebih baik dari yang pertama karena ia sudah punya kesadaran tentang bagaimana tata cara shalat yang baik, berdasarkan tuntunan Rasulullah Saw, tetapi objek perhatiannya baru sebatas penampilan luar shalatnya belum bias menghadirkan kekhusyukan dalam shalatnya.

  1. Orang yang shalat mengapai maghfirrah (ampunan)

Anak tangga ketiga adalah orang yang menjaga syarat-syaratnya, rukun-rukunnya tetapi ia sibuk melawan bisikan syetan dan pikiran dalam shalatnya. Ada dua pekerjaan dilakukan sekaligus satu waktu yaitu shalt dan berjuang melawan syetan.

Anak tangga ketiga ini tentu lebih baik dibanding tingkat kedua. Karena ia mulai memiliki kesadaran tentang hakikat shalat. Akan tetapi yang namanya syetan juga berusaha keras untuk melalaikan shalatnya.

Allah Swt berfirman :

Artinya : Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S Fatthir [35]: 6)

Ibnu katsir menjelaskan berkenaan ayat ini :

“Setan adalah musuh yang menantang kalian dengan mengumumkan permusuhan, Oleh karena itu janganlah kalian turuti bujuk rayunya”

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah

  1. Orang yang shalat mendapat jaza’ minallah (pahala dari Allah)

Anak tangga keempat adalah orang yang menyempurnakan syarat dan rukunya. Dia sadar bahwa kewajibanya adalah menyempurnakan semua itu. Ketika shalat hatinya hadir bersama jasadnya menghadap Allah SWT. Pada saat itu merasa sedang diawasi atau dilihat Allah SWT.

Orang ini mulai bisa merasa lega dalam shalatnya. Usaha yang terus dilakukanya untuk mengusir syetan mulai berhasil. Syetan tidak lagi punya kemampuan menggodanya. Syetan mulai sadar dengan komitmennya orang yang shalat itu ia tidak mampu menggoda hamba Allah yang ikhlas.

Artinya : ‘Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka’. (Shaad [38]: 82-83)

Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah Swt.

  1. Orang yang dengan shalatnya sudah dapat menjadi Qurrata ‘ain (Penyejuk pandangan mata)

Anak tangga kelima adalah orang yang menegakkan shalat dengan sempurna dan hatinya hadir menghadap Allah. Ia sadar sedang berhadapan dengan Allah. Dia seolah-olah melihat Allah. Shalat baginya bukan sebuah beban, tetapi sudah menjadi hiburan yang menghilangkan duka lara.

Inilah puncak Ihsan seorang manusia dalam shalatnya. Rasulullah bersabda dalam hadits Jibril  :

…..مَا الإِحْسَانُ؟ قَالَ أَنْ تَعْبُدُ اللهَ كَاأَنَّكَ تَرَاهُ فَاءِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاءِنَّهُ يَرَاكَ (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

Artinya : Jibril bertanya : Apakah yang dimaksud Ihsan? Nabi menjawab : “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatnya, Jika engkau tidak melihatnya. Sesungguhnya Allah melihat engkau (HR. Al-Bukhari).

Dan gambaran nyata dari tipe shalat ini adalah Rasulullah Saw. Sebagaimana sabdanya :

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ

Artinya : “Allah menjadikan kesenanganku ada dalam shalat” (HR. An-Nasai, Ahmad, dishahihkan oleh Al-Bani dalam silsilah ash-shahihah).

Dan juga hadits ketika Rasulullah memerintahkan Bilal untuk adzan untuk memanggil shalat, dengan shalat merupakan hiburan buat Rasulullah Saw.

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah

Dari penjelasan shalat di atas sekarang marilah kita melihat kita berada dalam posisi dimana. Kalau kita sudah berada posisi 4-5 berusahalah untuk istiqamah akan tetapi kalau kita masih pada posisi 3, 2, bahkan 1 maka segeralah untuk memperbaiki shalat kita.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Abu Khalid