Kultum Ramadhan #2: Doa dan Sebutir Telur Syubhat

Alkisah, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berhasil menguasai Iraq. Tiap kali menugaskan pejabat sebagai pemimpin Iraq, pejabat itu tidak berumur panjang. Usut punya usut, ternyata rakyat Iraq tak pernah melupakan kezaliman Hajjaj.  Tiap kali pemimpin baru datang, rakyat Iraq mengutuk agar pemimpin tersebut meninggal. Kutukan mereka selalu manjur.

Hajjaj pun memutar otak liciknya. Setelah menerima berita bahwa pemimpin Iraq meninggal, Hajjaj turun langsung ke Baghdad, Ibu kota Iraq. Hajjaj memerintahkan seluruh penduduk Iraq berkumpul di masjid Jami. Tiap orang diwajibkan membawa sebutir telur ayam dan mengumpulkannya di beranda masjid.

Hajjaj mengatakan bahwa perintahnya sangat penting. Siapa yang menolak, akan dihukum. Rakyat Iraq menganggap perintah Hajjaj hal sepele, tidak susah dituruti. “Ah, hanya sekadar telur.” Kata mereka.  

Mereka merasa tidak punya alasan untuk menolaknya. Pada hari yang telah ditentukan, rakyat Iraq menyemut di masjid Jami. Sebutir telur di tangan masing-masing. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, mereka meletakkan telur-telur itu begitu saja di beranda masjid.

Setelah semua orang selesai mengumpulkan telur, Hajjaj melancarkan siasat busuknya. Ia katakan bahwa, ia berubah pikiran. Dia tidak butuh telur-telur ayam itu. Dia mempersilakan penduduk Iraq membawa pulang telur-telur itu. Beribu tanya berlompatan di benak penduduk Iraq. “Apa gerangan maunya si pendosa durjana itu.” Umpat mereka dalam hati.

Satu persatu orang meninggalkan masjid sambil membawa sebutir telur. Mereka tak peduli telur siapa yang dibawa pulang, “Toh hanya sebutir telur. Pemiliknya pasti merelakan barang miliknya tertukar.”

Dari kejauhan, Hajjaj memandang kepulangan penduduk Iraq dengan tersenyum puas. Pemimpin durjana itu tahu, rencananya akan berhasil. Setelah kejadian itu, Hajjaj menugaskan pemimpin baru di Iraq. Kini ia bisa menjanjikan keselamatan bagi siapa saja yang menjadi wakilnya, tanpa takut doa dan kutukan penduduk Iraq.

Sesampai di rumah masing-masing, penduduk Iraq memasak telur yang mereka bawa pulang. Mereka tidak menyadari bahwa Hajjaj menipu mereka.

Seperti biasa, mereka menyambut kedatangan pemimpin baru dengan kutukan dan kecaman. Doa-doa berisi  permohonan agar pemimpin mereka segera binasa.

Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, penduduk Iraq menunggu berita kematian sang pemimpin baru. Namun, kabar kematian yang biasanya takpernah mereka tunggu lama tak kunjung tiba. Mereka sadar ada yang tidak beres. Mereka menginstropeksi diri. Mereka pun menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh Hajjaj. Mereka kalah siasat.

Telur yang mereka bawa pulang yang kemudian mereka masak, mereka pastikan bukan telur milik mereka. Telur syubhat telah menghalangi doa-doa mereka terkabul. Tapi apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Penyesalan tiada guna. Doa, senjata terakhir mereka melawan tirani Hajjaj telah patah.

Al-Qur’an dan Hadits menuntun kita agar menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu menjadi salah satu bagian dari akidah Islam.  

Fudhail bin ‘Iyadh pernah mengatakan, “Sungguh, ada hamba-hamba Allah. Karena mereka, Allah memakmurkan negeri dan memberi kehidupan bagi penghuninya. Mereka adalah para pengikut Sunnah. Hamba-hamba tersebut memastikan apa pun yang memasuki rongga perutnya adalah makanan yang halal. Mereka termasuk termasuk hizbullah, golongan Allah Ta’ala.”

Ibnu Rajab, mengomentari pernyataan Fudhail di atas, “Yang demikian itu karena makan yang halal adalah perkara terpenting yang dijaga oleh Nabi saw dan para sahabat.”

Syaikh ash-Shabuni menyifati Ahlul Hadits dan Sunnah, bahwa mereka adalah orang-orang yang bersikap hati-hati dalam urusan makanan, minuman, pernikahan dan pakaian.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, beliau menyebutkan, “Rasulullah menceritakan keadaan seseorang yang telah lama bepergian, rambutnya kusut penuh dengan debu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit sembari berdoa, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku,’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram, serta iadibesarkan dari yang haram. Lantas bagaimana mungkin doa yang ia panjatkan akan dikabulkan?’.”

Berkenaan dengan hadits ini Ibnu Rajab menegaskan, “Salah satu faktor terbesar tercapainya amal yang baik bagi seorang mukmin adalah kebaikan makanannya: hendaknya makanan halal. Dengan makanan halal  itulah amalnya menjadi bersih. Hadits ini pun mengisyaratkan, amal tidak akan diterima dan tidak bersih melainkan dengan hanya makan makanan yang halal. Juga, makanan haram merusak amal dan menghalangi penerimaannya.”

Nah, kisah dan penjelasan di atas memberi kita satu pelajaran. Jaga makan-minummu, agar doa selalu terkabul.

 

– Diringkas dari artikel: Syubhat dalam sebutir telur, Imtihan Syafi’i.