Kupas Tuntas Fikih Hudud #Part I

fikih hudud

Pengertian

Hudud adalah bentuk jamak dari kata hadd. Menurut bahasa adalah menolak. Dinamakan haddud dar ‘batas rumah’ sebab ia menghalangi bergabungnya dengan selainnya. Dinamakan al-Bawwabu hadadan ‘penjaga pintu’ sebab ia menghalangi orang yang masuk dan orang yang keluar. (Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, cet III, jilid 3, hal. 142, versi syamila)

Dinamakan al-‘Uqubatu hududan ‘menolak akibat’ karena ia mencegah terjadinya sesuatu. Adapun hududullah ‘larangan-larangan Allah’ yang berarti larangan untuk melakukannya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya (QS. Al-Baqoroh: 187)

Secara syariat (istilah), ada dua istilah. Menurut Hanafiyah hukuman-hukuman yang ditetapkan mutlak karena hak Allah Ta’ala. Sedangkan menurut jumhur ulama selain Hanafi, hukuman-hukuman yang ditetapkan dalam syariat Islam, baik karena hak Allah Ta’ala atau hak seorang hamba.

Maka, menurut Hanafiyah ta’dzir dan qishos bukan bagian dari had, karena hukuman tersebut adalah hak seorang hamba, dan maaf cukup sebagai hukumannya. Berbeda dengan jumhur ulama yang memasukkan ta’dzir dan qishos sebagai hukum had. (Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, XII, jilid 7, hal. 5275, versi syamila)

Ada juga yang berkata, hukuman-hukuman yang ditetapkan syariat pada pelanggaran tertentu untuk mencegah terjadinya pelanggaran yang sama atau dosa yang sama yang mana hukuman tersebut disyariatkan padanya. (Al-Fiqh Al-Muyassar, tahun cet. 1424H, jilid 1, hal. 364, versi syamila).

Dalil Pensyariatan

Dasar pensyariatan hukum had adalah Al-Quran, As-Sunnah, dan ijma’. Al-Quran dan As-Sunnah sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu atas kejahatan dan kemaksiatan tertentu, seperti zina, mencuri, minum khamar, dan lain sebagainya. Di mana pembahasan tentangnya akan hadir di bab-bab selanjutnya insya Allah disertai dalil-dalilnya. Oleh sebab itu, ikuti terus naskah-naskah kami.

Hikmah Pensyariatan

Hukum had disyariatkan sebagai pencegah bagi manusia agar tidak melakukan dosa-dosa dan melanggar batasan-batasan Allah Ta’ala, sehingga ketenangan akan terwujud di masyarakat, keamanan menyebar pada anggotanya, ketenteraman meliputi mereka dan kehidupan pun menjadi baik.

Baca juga: Hukum Shalat Jumat bagi Perempuan

Hukuman ini disyariatkan dalam rangka membersihkan (dosa) hamba di dunia berdasarkan hadis Ubadah bin ash-Shamit yang marfu’ tentang syarat bai’at

وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَتُه

Barang siapa melakukan sebagian darinya (dosa) lalu dia dihukum karenanya, maka ia adalah pelebur (dosa) baginya. (HR. Al-Bukhari: 6784)

 

Begitu Juga hadis Khuzaimah bin Tsabit yang marfu’ juga;

مَنْ أَصَابَ حَدًّا أُقِيمَ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْحَدُّ فَهُوَ كَفَّارَةُ ذَنْبِهِ

Barang siapa melakukan (dosa yang mengakibatkan) had, lulu hukuman hudud itu ditegakkan padanya, maka ia adalah kaffarat (pelebur dosa) baginya. (HR. Ad-Daraquthni: 3503, al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ : 6039)

Hudud ini mewujudkan kemaslahatan bagi manusia, di samping itu ia adalah keadilan, bahkan puncak keadilan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis            : Ibnu Jihad

Editor              : Ibnu Alatas