Kupas Tuntas Fikih Hudud #Part II‎

fikih hudud

Kewajiban Menegakkan Hukum Had Di Antara Manusia Dan Larangan Syafaat Di Dalamnya

Wajib menegakkan hukuman hukum had di antara manusia dalam rangka mencegah kemaksiatan dan menghalangi para penjahat untuk beraksi, Rasulullah Saw bersabda mendorong Penegakan hukum had;

إِقَامَةُ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، خَيْرٌ مِنْ مَطَرِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فِي بِلَادِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Menegakkan satu hukuman had yang ditetapkan oleh Allah adalah lebih baik daripada hujan empat puluh malam di negeri Allah Wazza Wajalla. (HR. Ibnu Majah: 2537, dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahih: 437).

Baca juga: Syariat Ilahi Harga Mati

Haram memberikan syafaat untuk urusan hukum had dalam rangka menggugurkannya dan tidak menegakkannya manakala ia sudah sampai di tangan hakim dan terbukti baginya, sebagaimana pemimpin haram menerima upaya syafaat dalam urusan ini, karena Nabi Muhammad Saw bersabda,

مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُونَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، فَقَدْ ضَادَّ اللَّهَ

Barang siapa usaha syafaatnya menghalangi penegakan suatu hukuman had di antara had-had Allah, maka dia telah menentang Allah di dalam perintah-Nya.” (HR. Al-Hakim: 2222, al-Albani menshahihkannya dalam ash-Shahihah: 437)

Dan berdasarkan tindakan Nabi Muhammad Saw yang menolak usaha syafaat Usamah bin Zaid terkait wanita Bani Makhzum yang mencuri. Namun, Nabi Muhammad Saw sampai bersabda karena hal tersebut,

وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا

Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti Muhammad akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhari: 6788)

 

Boleh memaafkan, tetapi sebelum urusannya sampai ke tangan pemimpin (pemerintah), berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw kepada seorang laki-laki yang kain selempangnya dicuri dan dia ingin maafkan pencurinya,

فَهَلَّا قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَنِي بِهِ

Mengapa tidak (kau lakukan) sebelum engkau membawa (perkara) nya kepadaku ?” (HR. Ahmad: 15303, dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghali: 2317)

Siapa Yang Berhak Menegakkan Hukum Had Dan Tempat Pelaksanaannya

Yang menegakkan had adalah pemimpin (pemerintah) atau Wakilnya, Nabi Muhammad Saw menegakkan hukuman had semasa hidup beliau, demikian juga para Khulafa sesudah beliau. Nabi Muhammad Saw juga pemah menugaskan seseorang untuk menegakkannya, sebagai pengganti kedudukan beliau. Beliau Rasulullah Saw bersabda,

وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا

Berangkatlah wahai Unais kepada istri laki-laki mi, bila dia mengaku, maka rajamlah dia.” (HR. Bukhari: 2314, Muslim: 1697)

Baca juga: Keadilan Khilafah

Hal ini wajib dilakukan oleh pemimpin untuk menjamin keadilan dan mencegah kezaliman. Had dilaksanakan di tempat mana pun selain masjid,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُسْتَقَادَ فِي الْمَسْجِدِ، وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ الْأَشْعَارُ، وَأَنْ تُقَامَ فِيهِ الْحُدُودُ

“Nabi Muhammad Saw melarang dilakukannya hukuman qishash di masjid, dun dilantunkan syair serta ditegakkan hukuman had di dalamnya. (HR. Abu Daud: 4490, al-Albani menshahihkannya dalam buku Irwa’ al-Ghazali: 2327)

Hal ini untuk menjaga agar masjid tidak dikotori. Dalam sebagian riwayat tentang kisah dirajamnya Ma’iz

فَأُخْرِجَ إِلَى الحَرَّةِ فَرُجِمَ بِالحِجَارَةِ

“Lulu Ma’iz dibawa keluar ke Hurrah lalu dirajam dengan batu.” (HR. At-Turmudzi: 1428, al-Albani menshahihkannya dalam buku Misykatul Mashibih: 3565).

Semoga risalah singkat bermanfaat dan menambah wawasan ilmu, amin. Wallau Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas