Lahirnya Generasi Shalahuddin Zaman Now

Shalahuddin, Pembebas Al Aqsha
Shalahuddin, Pembebas Al Aqsha
Shalahuddin, Pembebas Al Aqsha
Shalahuddin, Pembebas Al Aqsha

An-najah.net – Menyaksikan ganasnya musuh yang menyerang, banyaknya korban harta dan jiwa yang dialami kaum muslimin, dada terasa sempit. Membuat hati bertanya-tanya, kapankah generasi Shalahuddin Al-Ayyubi terlahir kembali?

Untuk mendapatkan gambaran proses lahirnya generasi Shalahuddin, seorang aktivis harus mengetahui situasi dan kondisi yang dialami kaum muslimin pra, ketika dan pasca perang Salib. Agar seorang aktivis tidak larut dalam mimpi meraih kemenangan tanpa mengetahui  proses munculnya generasi pemenang.

Kondisi Politik

Gambaran politik umat Islam sejak permulaan abad ke-4 hingga pertengahan abad ke-5 H sangat memilukan. Dunia Islam berubah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling siku satu sama lainnya. Mempertahankan kekuasaan adalah tujuan dari segala tujauan. Walaupun harus mengorbankan harga diri bangsa dan meminta bantuan negara kafir.

Sebagai contoh, ketika sebagian Amir Saljuq menghadang serangan tentara Salib, dan berhasil mereka usir, justru Amir Maridin memanfaatkan kondisi tersbut dengan menjarah wilayah yang ditinggalkan oleh penguasa Saljuq. Sehingga ketika Saljuq kembali ke negerinya, negara telah habis dijarah.

Kondisi Ekonomi

Penguasa bergelimang kekayaan dan kemewahan. Menghambur-hamburkan kas negara, merampas harta rakyat dan pajak tinggi seolah telah menjadi hobi mereka.

Ketika sultan Maliksyah menikahkan anaknya pada Muharam 480 H, ia memindahkan perabot rumah tangga anaknya ke istana dengan 130 kuda dan 74 keledai yang masing-masing didandani dengan kain sutra yang disulam dari Romawi. Berisi wadah-wadah dari emas dan perak.

Di antara penguasa ada yang mengkontrakkan asset negara ke pihak swasta. Dengan jaminan pihak swasta berhak memungut dan menentukan jumlah pajak kepada rakyat.

Di sisi lain, rakyat hidup dalam penderitaan dan kemelaratan. Baghdad, ibu kota khilafah pernah mengalami bencana kelaparan hingga enam kali. Ribuan orang yang meninggal, harga melambung. Harga sebutir telur mencapai satu Dinar. Orang-orang terpaksa memakan bangkai dan dedaunan.

Kondisi Ulama

Di tengah kekacauan politik, kehancuran ekonomi dan berkuasanya minoritas Syi’ah. Pada umumnya ulama Sunni tetap konsisten menyebarkan ilmu dan pembinaan. Hanya saja, mayoritas mereka enggan untuk berbicara mengenai politik. Enggan mengkritik penguasa yang keluar dari koridor syari’ah. Ulama lebih senang berdebat teoritis masalah fikih yang jauh dari realitas kehidupan masyarakat.

Memang masih ada di antara para ulama yang berani berbicara mengenai politik, namun jumlah mereka sangat-sangat sedikit, tidak mewakili sekian ribu ulama lainnya.

Respon Umat

Umat Islam telah kehilangan respon untuk saling membantu. Ketika pasukan Salib menyerang Syam, kaum muslimin yang ada di Baghdad dan kota-kota lainnya adem ayem. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Ketika al-Quds jatuh ke tangan tentara Salib, banyak orang yang pindah ke Baghdad. Khalifah menginstrusikan para fuqaha untuk memobilisasi umat untuk berjihad. Namun usaha mereka tidak berarti apa-apa.

Pada dasarnya apa yang menimpa kaum muslimin hari ini tidak jauh berbeda dengan kondisi kaum muslimin pada saat itu. Lalu bagaimana umat Islam bangkit?

Pertama, pendidikan          

Kebangkitan umat Islam dimulai dengan pendidikan dan Islah yang dipelopori oleh Nizamul Mulk, seorang Perdana Menteri Bani Saljuq, pada masa pemerintahah Alib Arsalan dan putranya Maliksyah.

Nidzamul Mulk membangun madrasah yang terkenal, Madrasah Nidzomiyah untuk mengkader para calon pemimpin masa depan yang memiliki ahlak, agama, dan keberanian. Di sanalah lahir kader-kader pejuang yang tangguh, seperti Aqsanqur ayah Imaduddin Zangki, pelopor jihad semesta membebaskan al-Quds. Pemimpin hebat tersebut lalu menurunkan keturunan pemberani seperti Nuruddin Zangki, Baibars, Qalawun dan Asaduddin Syirkuh yang meletakkan pondasi kemenangan bagi generasi Shalahuddin.

Kedua, i’dad dan jihad

Sekalipun kondisi umat Islam terpuruk sedemikian rupa, namun masih ada sebagian amir atau sultan yang tetap melakukan i’dad dan jihad mempertahankan wilayah kaum muslimin dari serbuan kaum muslimin. Sehingga wilayah kaum muslimin semuanya tidak jatuh ke tangan Salib.

Seperti para Amir Daulah Saljuk yang tetap melakukan jihad menghadang serangan Salib. Kemudian dilanjutkan amir Daulah Zankiyah dan diteruskan oleh Daulah Ayyubiah. Jihad mereka sangat berharga bagi umat, sehingga pendidikan dan pengkaderan umat tetap bisa berjalan dengan aman.

Merupakan suatu kecongkakan jika menisbatkan lahirnya generasi Shalahuddin hanya dari hasil pendidikan dan tarbiah madrasah Nidzomiah dan pendidikan Imam Ghazali, tanpa menyertakan peran jihad di dalamnya.

Tidak mungkin proses pengkaderan berjalan dengan aman, tanpa ada barisan mujahid yang menjadikan dada mereka sebagai tameng umat yang sedang dididik.

Ketiga, jama’ah

Peran pendidikan ilmiah, i’dad dan jihad tidak mungkin berjalan normal tanpa ada wadah yang menaungi gerakan tersebut. Sebab ada perbedaan mencolok antara generasi shalahuddin dengan generasi kita hari ini.

Dulu, sekalipun kondisi politik dan umat Islam terpuruk sedemikian rupa, masih ada negara yang menaungi dan mensuport kegiatan mereka. Umat Islam diberikan akses seluas-luasnya untuk menuntut ilmu dan bahkan melakukan jihad.

Adapun hari ini, para penguasa telah tunduk pada rezim internasional (PBB). Sehingga tidak tersisa satupun dari penguasa di negeri kaum muslimin, kecuali mereka bergabung di bawah bendera PBB pimpinan Amerika Serikat. Negara yang paling aktif memerangi kaum muslimin di berbagai pelosok negeri.

Pada hakikatnya, aktivis yang mengharapkan datangnya kemenangan tanpa dengan berjamaah adalah tidak memahami realitas zaman dan tabi’at agama ini. Jamaah adalah organisasi, wadah menyatukan visi dan misi perjuangan. Yang dipimpin oleh ilmu untuk kemaslahatan umat. Yang tidak fanatik buta pada bendera dan lambing tertentu.

Dan tabi’at agama ini adalah selalu dimusuhi oleh para penyeru kebatilan. Orang kafir dan aliansinya berperang dalam barisan dan organisasi yang rapi. Jika kaum muslimin tidak mengambil peran yang sama, besar kemungkinan perjuangan mereka tidak sampai pada tujuan utamanya. Allah berfirman:

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)

Umat Islam hari ini perlu mengumpulkan semua potensi yang mereka miliki dan menyatukannya dalam wadah perjuangan. Sehingga kekuatan mereka dapat dipergunakan dengan semaksimal mungkin. Karena kita tidak hidup di zaman Shalahuddin.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 137 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar