LBH Jakarta: Pecat Anggota Polisi yang Lakukan Penyiksaan dan Rekayasa Kasus

DSCN0299
Bibi dari Syahri Ramadhan korban kriminalisasi polisi

JAKARTA (an-najah.net) – Senin, (28/01) reporter an-najah mendapatkan press release yang dikeluarkan oleh kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang berisi tentang desakan terhadap Polri untuk memulihkan korban penyiksaan. Sepanjang tahun 2009-2012 ada 8 kasus pelanggaran hak yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Diantara korban Polisi tersebut adalah:

1. J.J Rizal – Polsek Beji Depok

Pada tahun 2009, JJ Rizal menjadi korban salah tangkap anggota kepolisian Polsek Beji Depok bernama Briptu Antony, Briptu Supratman, dan Briptu Syahrir (pelaku dijatuhi hukuman disiplin 21 hari kurungan dan divonis oleh PN Depok 3 bulan penjara). Rizal dituduh terlibat tindak pidana narkotika, ia mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian.

2. Aguswandi Tanjung – Polsek Metro Gambir Jakarta Pusat

Polsek Metro Gambir melakukan kriminalisasi terhadap Aguswandi, Sekjen Asosiasi Penghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia, yang sedang memperjuangkan hak-hak penghuni apartemen melawan kesewenang-wenangan pengelola Apartemen ITC Roxy Mas (PT. Jakarta Sinar Intertrade). Selama proses dikepolisian Aguswandi ditahan. Aguswandi akhirnya divonis bebas oleh Mahkamah Agung.

3. Maya Agung Dewandaru – Polsek Cikande Serang

Pada tahun 2009, Maya Agung selaku Pengurus Serikat Pekerja Nasional sedang melawan kesewenang-wenangan PT. Frans Putratex yang melakukan PHK sepihak terhadap anggota serikat. Ditengah perjuangannya ia dikriminalisasi oleh Polisi dari Polsek Cikande, Serang dengan tuduhan penggelapan uang koperasi. Sekalipun telah terdapat pendapat ahli mengenai Koperasi yang menyatakan tindakan Maya Agung bukanlah tindak pidana, namun kepolisian bersikeras melanjutkan proses hukum. Maya Agung Dewandaru akhirnya terbukti tidak bersalah dan divonis bebas oleh Mahkamah Agung.

4. Syahri Ramadhan / Koko – Polsek Bojong Gede

Syahri Ramadhan als Koko Remaja berumur 15 tahun korban penyiksaan dan salah tangkap oleh Polsek Bojong Gede Kab. Bogor yang terjadi tahun 2009, saat ini menggugat Kepolisian supaya Kepolisian melakukan pemulihan di Pengadilan Negeri Cibinong, selama dalam persidangan terungkap bahwa Syahri Ramadhan merupakan korban penyiksaan dan salah tangkap serta ironisnya Polsek Bojong Gede dalam persidangan mengakui belum pernah membaca UU Pengadilan Anak, gugatan tersebut akan diputus majelis hakim Pengadilan Negeri Cibinong pada hari Rabu (30/1).

5. Lima Belas orang Pensiunan Angkasa Pura Yang Menghuni Rumah Negara – Polres Jakarta Pusat

Pada tahun 2009, 15 orang pensiunan Angkasa Pura menempuh upaya perdata dan PTUN terkait sengketa rumah negara dengan PT. Angkasa Pura. Saat proses berlangsung, tahun 2010 mereka dilaporkan ke kepolisian. Pihak kepolisian Polres Jakarta Pusat memproses dengan menggunakan ketentuan hukum yang sudah dicabut dan tidak berlaku lagi (UU No. 12 Tahun 1992). Sekalipun telah diberitahukan bahwa ketentuan hukum yang digunakan tidak berlaku lagi, polisi tetap bersikeras melimpahkan kasus ke Kejaksaan. Mereka akhirnya divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

6. Marwan Bin Takat- Polsek Cipondoh Kota Tangerang.

Dituduh melakukan pengrusakan. Padahal tindakan pengrusakan tersebut tidak pernah dilakukannya. Majelis Hakim memutus bersalah selama 6 bulan penjara, selanjutnya Mahkamah Agung membeaskan terdakra. Hingga sekarang korban belum mendapatkan pemulihan.

7. Drs. Djati Hutomo- Polsek Sukmajaya Depok.

Dituduh melakukan tindak pidana penadahan kemudian ditahan oleh Kejaksaan Negeri Depok sejak tanggal 21 April 2010 sampai dengan tanggal 10 Mei 2010, kemudian pada tanggal 8 Juli 2010 dibebaskan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok.

8. Yusli- Polsek Metro Cisauk

Siti Maryanah (19thn) menjanda setelah menikah 1,5 bulan akibat suaminya dibunuh polisi
Siti Maryanah (19thn) menjanda setelah menikah 1,5 bulan akibat suaminya dibunuh polisi

Yusli (23) ditangkap tanpa surat penangkapan dengan dugaan tindak pidana pencurian kendaraan motor, Kemudian Polsek Metro Cisauk membunuh Yusli tanggal 26 Desember 2011, dengan menembak didadanya, saat ini 3 (tiga) anggota Polisi yang melakukan pembunuhan sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang. Dalam waktu dekat majelis hakim akan memutus perkara tersebut namun sampai sekarang kepolisian tidak melakukan pemulihan terhadap keluarga korban.

 

Dari uraian kasus diatas, maka pihak LBH Jakarta ingin menyatakan sebagai berikut:

1. Mendesak kepada DPR-RI untuk segera melakukan pembahasan dan pengesahan terhadap RUU KUHP dan RUU KUHAP sebagai prioritas pada tahun 2013 dengan semangat pemajuan dan perlindungan Hak Asasi Manusia serta adanya mekanisme pemulihan yang efektif bagi para korban kesewenang-wenangan aparat penegak hukum dengan mengadopsi Konvensi Hak Sipol dan konvensi Anti Penyiksaan.

2. Mendesak kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang dalam perkara pembunuhan Yusli untuk menghukum seberat-beratnya polisi yang melakukan pembunuhan dengan memperhatikan kepentingan yang terbaik bagi keluarga korban.

3. Mendesak kepada Majelis Hakim Cibinong untuk mengabulkan gugatan perkara perdata yang diajukan oleh Syahri Ramadhan untuk meminta agar kepolisisan dan kejaksaan agar melakukan pemulihan terhadap Syahri Ramadhan yang merupakan korban penyiksaan dan salah tangkap untuk kepentingan yang terbaik bagi si korban.

 4. Memecat anggota kepolisian yang melakukan penyiksaan, rekayasa kasus dan kriminalisasi;

5. Mendesak Polri menyediakan ketentuan mengenai mekanisme internal pemulihan hak-hak korban-korban salah tangkap, rekayasa kasus, penyiksaan dan kriminalisasi.

Demikian, isi press release yang dikeluarkan oleh pihak LBH Jakarta yang diwakili oleh Maruli Tua Sirajagukguk (pengacara publik) dan Edy Halomoan Gurning (Kabid Penanganan Kasus LBH Jakarta). Berdasarkan pemantauan reporter an-najah, pada kesempatan konferensi pers tersebut, pihak keluarga korban juga turut memberikan kesaksian dan menceritakan detail peristiwa penyiksaan. Dari pihak Syahri Ramadhan diwakili oleh bibinya, Sinta Sugiarto (43 tahun). sedangkan dari pihak almarhum Yusli diwakili oleh istrinya sendiri yaitu, Siti Maryanah (19 tahun). [fajar/annajah]