LGBT dalam Tinjauan Fiqh Islam

Tolak LGBT
Tolak LGBT
Tolak LGBT
Tolak LGBT

An-Najah.net – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai keberanian komunitas LGBT yang gencar melakukan propaganda pelegalan perkawinan sejenis disebabkan sikap penegak hukum yang setengah hati. Presiden sendiri tidak berani tegas terhadap LGBT dan terkesan tidak mengambil langkah apapun untuk menghentikan itu semua. Bahkan Menko Polhukam sudah menyatakan siap melindungi LGBT.

Meski negeri ini berpenduduk muslim terbesar di dunia, tapi penyikapan terhadap LGBT tidak setegas beberapa negara berpenduduk mayoritas kafir. Rusia misalnya. Pemerintah negara bekas komunis itu tidak melegalkan LGBT dan menghukum pelaku LGBT yang terlihat di muka umum. Wajar saja jika di sini komunitas tersebut semakin percaya diri muncul ke tengah-tengah masyarakat.

Umat Islam adalah umat yang beramar ma’ruf nahi munkar. Dan para pejuangnya adalah para pendiri Negara Indonesia. Maka diawali dari ketidaktegasan pemerintah dalam penanganan LGBT. Sudah saatnya umat Islam Indonesia bangkit mengambil sikap dan tindakan sendiri. Kita ingin berbuat sebagaimana para pendahulu kita di negeri ini berbuat. Berdasarkan konsep al-Qur’an, hadits Nabi dan para alim muttaqi. Untuk menjaga negara ini dari LGBT.

LGBT dalam Istilah Fiqh

Dalam kamus Arab ada kata ‘khuntsa’ dan kata ‘mukhannats’. Khuntsa berbeda dengan mukhannats. Khuntsa adalah seseorang yang memiliki kelamin ganda laki-laki dan perempuan sejak kelahirannya; atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Kasus seperti ini jarang terjadi meskipun ada. Solusinya adalah sinkronisasi antara ulama’ fiqh dan team dokter hari ini.

Sedangkan mukhannats adalah seseorang yang memiliki jenis kelamin tertentu dan pasti namun dia berperilaku tidak sesuai dengan identitas kelaminnya. Bagi laki-laki yang menyerupai perempuan diistilahkan kaum salaf dengan mukhannats. Dan bagi perempuan yang menyerupai laki-laki diistilahkan dengan mutarajjilah. Zaman sekarang diistilahkan dengan banci, waria, wadam, atau lesbian dan gay.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Mukhannatas adalah laki-laki yang menyerupai wanita dalam gerakan, gaya bicara dan sebagainya. Apabila hal tersebut merupakan asli dari lahirnya, dia tidak tercela. Akan tetapi harus ada usaha darinya untuk menghilangkan tabiat tersebut. Ia diminta bersungguh-sungguh meninggalkannya dan terus menerus berusaha secara bertahap. Jika itu tidak dilakukannya dan dia masih berperilaku seperti itu, maka dia tercela dan mendapat ancaman. Apalagi jika dia merasa suka dengan perilakunya itu.

Dan jika hal tersebut berasal dari keinginannya dan usahanya, maka dia tercela dan diancam hukuman. Jika iya, dia pantas digelari mukhannats (waria/banci/lesbian/gay). Sama saja apakah dia berbuat liwath/lesbi ataupun tidak.” (Lihat, Fathu al-Bari, 9/334, 10/332).

LGBT adalah Agama Syetan

Segala bentuk penyimpangan LGBT berupa mukhannats atau mutarajjilah adalah haram dan tercela berdasar hadits nabi dan ijma’ ulama. Begitu pula dengan kaum transgender yang mengubah ciptaan Allah. Allah berfirman yang artinya:

(Syetan berkata), “Akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.” (QS. An-Nisa’: 119)

Setiap pengubahan yang mengandung madharat termasuk dalam larangan dalam ayat ini. Sedangkan pengubahan yang bermanfaat, hukumnya mubah. (Tafsir al-Muharrar al-Wajiz, Ibnu Athiyyah, 2/115).

Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya (2/98) menjelaskan, “Mereka telah mengubah ciptaan Allah pada wajah, bentuk atau sifatnya. Termasuk dalam kategori ini adalah membutakan mata anjing, mengebiri budak, membuat tato, memperindah gigi, liwath, lesbian dan lain-lainnya. Termasuk pula menyembah matahari dan bulan.”

Pernikahan LGBT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatwanya (15/321-322) menjelaskan bahwa status homoseks adalah pezina. Wanita yang menikah dengannya juga dikatakan wanita pelacur. Seorang homoseks tidak boleh menikah kecuali dengan seorang pelacur atau wanita musyrik. Karena status homoseks adalah pezina, isteri pun dikatakan pelacur. Wanita yang rela bersuamikan gay atau homoseks, dia berada dalam agama (prinsip) suaminya.

Allah berfirman yang artinya, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An-Nuur: 3)

Imam Shalat Seorang LGBT

Seorang gay dinilai fasiq dalam Islam, sehingga makruh (dibenci) jika menjadi imam shalat. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dalam sebuah riwayat, dan madzhab Zhahiri. Sedangkan madzhab Hambali dan Maliki dalam riwayat lainnya lebih tegas lagi, yaitu ia tidak sah menjadi imam. (Lihat, al-Mabsuth, 1/111; al-Majmu’, 4/287; Hasyiyah ad-Dasuki, 1/307; al-Muhalla, 4/212; al-Inshaf, 2/252; Hasyiyah ash-Shawi, 2/237).

Imam az-Zuhri menjelaskan hal ini dalam kitab Shahih al-Bukhari (1/141), “Kami tidak membolehkan shalat di belakang mukhannats (gay) kecuali karena darurat yang tidak bisa dihindari.”

Mengucapkan Salam Kepada LGBT

Imam Abu Daud bercerita, “Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad. Ketika aku melalui kaum yang suka mencaci maki, bolehkah aku mengucapkan Salam kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah kaum yang kotor mulutnya, sedangkan as-Salam adalah salah satu Nama Allah Ta’ala.”

Kemudian aku bertanya, “Apakah aku mengucapkan Salam kepada mukhannats?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu. As-Salam adalah salah satu Nama Allah ‘Azza wajalla.”

Ibnu Taimiyyah berkata, “Beliau (Imam Ahmad) bersikap tawaqquf (tidak memberikan jawaban yang pasti) dalam masalah Salam kepada mukhannats.” (Lihat, al-Adab asy-Syar’iyyah, 4/52; al-Mustadrak ‘alâ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 3/169).

Kesaksian LGBT

Seluruh ulama’ kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali sepakat untuk tidak menerima kesaksian atau pengakuan yang diajukan oleh seorang mukhannats. Ini menunjukkan bahwa segala propaganda, kesaksian dan pengakuan LGBT dalam berbagai hal tidak patut diterima. Bahkan bisa tertolak sampai mereka sungguh-sungguh bertaubat berdasarkan kesepakatan jumhur ulama’. (Lihat, Fathu al-Qadir, 17/130; al-Muhadzzab, 2/325; Hasyiyah ad-Dasuqi, 4/166; al-Mughni, 12/40).

Kepemimpinan LGBT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Orang yang memuliakan mukhannats dan mengangkatnya sebagai pemimpin dan pemegang urusan, orang tersebut layak mendapat laknat Allah dan kemurkaan-Nya.” (Kitab al-Istiqamah, 1/321).

Sembelihan dan Masakan LGBT

Jumhur ulama’ dari madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali menghalalkan sembelihan mukhannats selama sembelihannya itu sesuai syar’i. Kecuali madzhab Maliki yang memakruhkannya (membencinya). (Lihat, al-Fatawa al-Hindiyah, 5/286; al-Fawâqih ad-Dawânî, 1/385; al-Majmu’, 9/80; al-Mugni, 11/36).

Tentang Ta’zir dan mengusir LGBT

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW melaknat mukhannats dari kaum laki-laki dan mutarajjil dari kaum perempuan. Beliau bersabda, “Usirlah mereka dari rumah kamu.” (HR. al-Bukhari).

Seseorang yang memilih menjadi mukhannats (gay/lesbian) walaupun tidak sampai berbuat keji seperti zina, homoseksual dan lesbi. Maka pilihan itu merupakan maksiat yang tidak ada had dan kafarah tertentu. Hanya dita’zir saja hukumannya dan disesuaikan dengan beratnya maksiat yang dilakukan. Seperti diriwayatkan bahwa Nabi SAW menta’zir mereka dengan hukuman diasingkan atau mengusir mereka dari Madinah. Beliau bersabda, “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Demikian pula para sahabat sepeninggalan beliau yang menerapkan kebijakan serupa.

Dalam madzhab Hanafi disebutkan, “Seorang penyanyi, mukhannats, orang yang suka meratapi mayit, mereka dita’zir dan diisolasi sampai mereka bertaubat.” (Lihat, al-Mabsuth, 27/205; Hasyiyah Ibnu Abidin, 4/67).

Seorang mukhannats walaupun tidak melakukan maksiat, dia tetap diasingkan karena pertimbangan maslahat. Demikian madzhab madzhab Syafi’i dan Hambali. (Lihat, Mughni al-Muhtaj, 4/192; Kasyfu al-Qinâ’, 6/128).

Dan menurut Imam Ibnul Qayyim, pengasingan para mukhannats adalah bagian dari siyasah syar’iyyah, sebagaimana yang dinashkan oleh Imam Ahmad. Karena keberadaan mereka hanya menimbulkan kerusakan. Para penguasa bertanggung jawab mengasingkan mereka ke suatu daerah yang dianggap aman dari kerusakan. Jika masih dikhawatirkan menimbulkan madharat hendaknya diisolasi di satu bangunan saja. (Lihat, Bada’i al-Fawâ’id, 3/694).

Dan jika mereka sudah sampai pada tahapan maksiat yang keji, para ulama’ berselisih pendapat dalam menghukumnya. Mayoritas ahli fiqh menghukumnya dengan hukuman zina. Jika sudah menikah dia dirajam sampai mati. Jika belum menikah, dia dicambuk 100 kali dan diasingkan.

Sedangkan madzhab Hanafi memberikan hukuman ta’zir sampai kepada dibunuh, atau dibakar, atau dilempar dari atas bukit dengan posisi kepala di bawah. Karena yang sampai kepada kita. Para sahabat pun berbeda pendapat dalam menghukum mereka. (Lihat, al-Mabsuth, 11/78; al-Fawâkih ad-Dânî, 2/209; Raudhatu ath-Thalibin, 10/90; al-Mugni, 10/156).

Maka dari itu wajib bagi kaum muslimin untuk menjauhi LGBT dan mengingkari mereka. Dan tidak pergi ke suatu tempat disitu ada komunitas LGBT. Dan agar tidak mempekerjakan mereka baik di rumah, atau kedai-kedai makan dan restoran, atau sebagai tukang pangkas/cukur, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya. Dan mereka tidak diperkenankan bergabung dalam kumpulan laki-laki atau perempuan. Demi menjaga diri dari keburukan mereka dan mencegah kemungkaran mereka. Jika di suatu tempat ada mereka, maka menjauhlah dari mereka dan cegahlah mereka semampu mungkin. (Lihat, Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, 12/12514, 20 Dzulhijjah 1426).

Dengan demikian semoga Allah tetap menjaga keutuhan umat ini lewat amar ma’ruf nahi munkar dari kerusakan LGBT.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Makalah

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi

Editor : Anwar